Blora, Tuturpedia.com – Tradisi Sedekah Bumi yang serentak digelar di berbagai pelosok Kabupaten Blora, Jawa Tengah, membawa berkah sekaligus tantangan unik. Dalam sepekan terakhir, keberadaan gas LPG 3 kg atau yang akrab disapa “Gas Melon” dilaporkan ludes terjual di tingkat pangkalan maupun pengecer. (05/05/2026).
Melonjaknya permintaan ini bukan tanpa alasan. Tradisi tahunan ini identik dengan kearifan lokal berupa masak besar untuk menjamu tamu dan membuat aneka hantaran seperti nasi berkat hingga kue apem.
Dapur Ngebul Serentak, Stok Pangkalan Tak Berdaya
Pantauan di lapangan menunjukkan banyak warga yang harus berkeliling dari toko ke toko, maupun pangkalan ke pangkalan lainya hanya untuk mendapatkan satu tabung hijau tersebut.
Bu Warsini salah satu pengecer di wilayah Kecamatan Blora kota, stok yang biasanya habis dalam tiga hari, kini ludes hanya dalam hitungan jam.
“Baru datang pagi, siangnya sudah habis. Warga banyak yang hajatan Sedekah Bumi, jadi kebutuhan masak meningkat dua sampai tiga kali lipat dari biasanya,” ujar salah satu pemilik toko kelontong.
Dirinya juga menyampaikan bahwa kelangkaan ada tiga faktor utama yang menyebabkan fenomena “LPG Ludes” terjadi di Blora:
“1.Intensitas Memasak: Setiap rumah tangga tidak hanya masak untuk keluarga inti, tapi juga untuk porsi besar (kenduri).
2.Ritual Adat: Pembuatan jajanan tradisional yang membutuhkan waktu pemanasan lama (seperti jenang atau wajik) menguras volume gas lebih cepat.
3.Waktu yang Bersamaan: Banyak desa yang menggelar Sedekah Bumi di hari yang berdekatan (biasanya pada hari Jumat Pon atau Wage), sehingga permintaan meledak di waktu yang sama,” jelasnya.
Pihaknya pun juga tak mau mengambil pusing dan saling menyalahkan. Meskipun stok di tingkat agen diklaim masih dalam batas aman, distribusi di tingkat bawah tersendat karena kecepatan konsumsi warga yang luar biasa.
“Nggak mau nyalahkan sana sini, sudah terbiasa setiap tahun seperti ini, dan tidak kaget maupun panik. Kadang warga kalau tak dapat gas elpiji melon, juga biasanya beli arang maupun masakan jadi. Dan kalau warga berharap ada tambahan pasokan atau operasi pasar selama musim Sedekah Bumi berlangsung agar tradisi tetap berjalan lancar tanpa kendala dapur macet,” bebernya.
Ia juga mengimbau warga untuk tidak melakukan panic buying dan tetap berbagi stok dengan tetangga yang lebih membutuhkan demi kelancaran ritual adat kebanggaan warga Blora ini.
Hal senada juga disampaikan Bu Mariyam, salah satu warg yang kesehariannya melakukan aktivitas menggunakan gas elpiji melon.
“Kalau saya sih tidak kayak warga lainya manja yang suka lapor sana sini. Semakin modern semakin manja, inginya di perhatikan, padahal semua juga butuh. Jaman dulu saja tak ada gas pun, bisa menggunakan kayu bakar. Jaman sekarang aja pada manja. Saya juga untuk kebutuhan sehari-hari dan dagang,” bebernya.
Sementara Wakil Bupati Blora Sri Setyorini, saat menerima aduan tersebut menegaskan bahwa, stok maupun pengiriman gas elpiji melon dari pusat untuk kabupaten Blora, lancar.
“Tadi kita telepon pusat, stok dan pengiriman aman. Mungkin karena saat ini Blora lagi musim sedekah bumi, jadinya kebutuhan meningkat,” tandasnya.
