Blora, Tuturpedia.com – Lonjakan harga plastik yang terjadi sejak libur Lebaran 2026 mulai menekan pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Kenaikan yang disebut mencapai 20 hingga 80 persen ini berdampak langsung pada biaya produksi dan memaksa pelaku usaha memutar otak agar tetap bertahan. Rabu, (08/04/2026).
Yunia, salah satu penjual olahan ikan tawar di Blora, mengungkapkan bahwa hampir seluruh sektor usaha kini merasakan dampak kenaikan harga tersebut. Plastik, yang selama ini menjadi kebutuhan utama untuk kemasan, kini justru menjadi beban biaya yang signifikan.
“Semua pelaku UMKM terdampak. Banyak pengusaha yang akhirnya harus menaikkan harga produknya supaya tidak merugi,” ujarnya.
Menurut Yunia, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada satu jenis plastik, melainkan hampir seluruh produk berbahan polipropilena. Mulai dari plastik es, tas kresek, hingga wadah makanan seperti thinwall mengalami lonjakan harga yang cukup drastis, bahkan hingga 40 persen di tingkat lokal.
Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan konsumen yang masih sangat bergantung pada kemasan plastik. Hal tersebut membuat pelaku usaha kesulitan untuk mengurangi penggunaannya secara signifikan.
“Konsumen sudah terbiasa semua dibungkus. Jadi kami juga serba sulit kalau harus mengurangi plastik secara drastis,” tambahnya.
Berdasarkan data di lapangan, harga kantong plastik per pak naik dari Rp13.000 menjadi Rp18.000, sementara plastik kiloan melonjak dari Rp10.000 menjadi Rp16.000. Kenaikan paling terasa juga terjadi pada kemasan mika yang banyak digunakan pelaku usaha kuliner.
Lonjakan harga ini dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku plastik berbasis minyak bumi di pasar global.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah disebut berdampak pada distribusi minyak melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz, sehingga memengaruhi harga bahan baku plastik di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Akibatnya, pelaku UMKM di Blora kini dihadapkan pada dua pilihan sulit, yakni menaikkan harga jual produk atau mengurangi penggunaan kemasan plastik. Sebagian memilih menaikkan harga, sementara lainnya mulai membatasi pemberian kantong plastik kepada konsumen sebagai langkah efisiensi.
“Ada yang menaikkan harga jual, ada juga yang mulai membatasi kantong plastik agar biaya tidak terlalu besar,” jelas Yunia.
Sementara itu, pemerintah dikabarkan tengah memantau situasi lonjakan harga plastik ini dan berencana membahas langkah penanganan agar tidak semakin membebani pelaku usaha kecil. Masyarakat juga diimbau untuk tidak panik serta mulai beradaptasi dengan penggunaan kemasan yang lebih bijak.
Di tengah kondisi ini, sejumlah pelaku UMKM mulai mencoba alternatif lain, seperti penggunaan bahan ramah lingkungan atau mengubah strategi penjualan menjadi dalam satuan lebih kecil. Namun demikian, transisi tersebut tidak mudah dan membutuhkan waktu serta dukungan dari berbagai pihak.
Kenaikan harga plastik ini menjadi alarm serius bagi keberlangsungan UMKM, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Jika tidak segera diantisipasi, bukan tidak mungkin dampaknya akan semakin meluas hingga ke daya beli masyarakat.














