Blora, Tuturpedia.com —Di balik mulusnya jalan rabat beton dan aspal yang membentang di wilayah Getas hingga Randublatung, terdapat satu elemen yang sering luput dari perhatian masyarakat: berem atau berm. Meski kerap dianggap hanya sebagai tumpukan tanah di pinggir jalan, keberadaan berem justru menjadi salah satu faktor krusial dalam menjaga kekuatan konstruksi sekaligus keselamatan pengguna jalan. Jumat, (22/06/2026).
Secara sederhana, berem adalah urugan tanah atau material seperti sirtu (pasir dan batu) yang berada di sisi kanan dan kiri badan jalan. Dalam dunia teknik sipil, berem termasuk bagian dari bahu jalan yang tidak selalu diperkeras, namun memiliki fungsi vital yang tidak bisa disepelekan.
Penjaga Stabilitas Jalan
Di wilayah Blora yang memiliki karakter tanah beragam—mulai dari keras hingga mudah bergerak saat musim hujan—berem berperan sebagai penahan utama pergerakan lateral. Tanpa berem yang baik, lapisan aspal atau beton berisiko mengalami retak, ambles, bahkan longsor ke samping.
Berem bekerja seperti “penyangga diam” yang menjaga agar struktur jalan tetap kokoh. Ia menahan tekanan dari kendaraan berat serta perubahan kondisi tanah akibat cuaca. Inilah alasan mengapa kualitas berem harus diperhatikan sama seriusnya dengan badan jalan utama.
Lebih dari Sekadar Pinggiran Jalan
Fungsi berem tidak berhenti pada aspek konstruksi. Dalam praktiknya, berem juga menjadi ruang vital bagi pengguna jalan:
1.Jalur Darurat
Saat kendaraan mengalami mogok atau kendala teknis, berem menjadi tempat aman untuk menepi tanpa mengganggu arus lalu lintas.
2.Ruang Manuver
Dalam kondisi tertentu, seperti saat berpapasan di jalan sempit atau menghindari kendaraan lain, berem memberikan ruang tambahan bagi pengendara.
3.Akses Pejalan Kaki
Di beberapa titik, berem menjadi jalur alternatif bagi warga yang berjalan kaki.
4.Sistem Drainase Alami
Berem membantu mengalirkan air hujan dari badan jalan menuju saluran drainase, sehingga mencegah genangan yang bisa merusak permukaan jalan.
Antara Teknis dan Kesadaran Pengguna
Namun, sebaik apa pun fungsi berem, semuanya kembali pada kesadaran pengguna jalan. Banyak kasus kecelakaan tunggal maupun beruntun terjadi bukan semata karena kondisi jalan, tetapi karena kurangnya kehati-hatian saat melintasi bahu jalan.
Yunia, salah satu pengguna jalan di wilayah tersebut, mengingatkan pentingnya kewaspadaan saat bersimpangan.
“Berem itu penting, apalagi saat berpapasan. Kalau tidak hati-hati, bisa membahayakan. Jangan sampai terjadi kecelakaan, baik tunggal maupun karambol,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan realitas di lapangan: berem memang membantu, tetapi juga bisa berbahaya jika tidak dirawat atau digunakan dengan bijak. Perbedaan ketinggian antara badan jalan dan berem, misalnya, dapat menyebabkan kendaraan oleng jika dilewati secara tiba-tiba.
Tantangan di Lapangan
Di beberapa titik di jalur Blora–Getas Randublatung, kondisi berem masih belum merata. Ada yang padat dan stabil, namun ada pula yang gembur, terkikis air, atau bahkan terlalu rendah dibanding badan jalan.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pihak terkait, baik pemerintah maupun pelaksana proyek, untuk memastikan bahwa berem dibangun dan dirawat sesuai standar. Sebab, kerusakan kecil pada berem bisa berujung pada kerusakan besar pada jalan utama.
Peran Kecil, Dampak Besar
Berem mungkin tidak pernah menjadi sorotan utama dalam pembangunan jalan. Ia tidak dilalui kendaraan utama, tidak pula menjadi pusat perhatian seperti aspal mulus yang mengilap. Namun justru di situlah letak perannya: bekerja dalam diam, menopang dari sisi, dan menjaga keselamatan dari pinggiran.
Di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat Blora, pemahaman tentang fungsi berem menjadi penting. Bukan hanya bagi pihak teknis, tetapi juga bagi setiap pengguna jalan. Karena pada akhirnya, keselamatan tidak hanya ditentukan oleh apa yang terlihat di tengah jalan—tetapi juga oleh apa yang menopangnya di sisi-sisinya.














