Blora, Tuturpedia.com — Solidaritas pekerja seni di Kabupaten Blora memanas. Menyusul insiden pengeroyokan tragis yang menimpa seorang musisi sekaligus pemilik organ tunggal di Dukuh Sukorame, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Ketua Sedulur Seniman Blora (SSB), Budi Santoso, angkat bicara dengan nada tegas.
Budi menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam melihat rekan seprofesinya dianiaya saat sedang mengais rezeki. Jika aparat kepolisian tidak bergerak cepat menindaklanjuti laporan korban, gelombang massa seniman siap menggeruduk untuk menuntut keadilan.
“Aku tadi sudah telepon Kapolsek Tunjungan, AKP Subiyono, dan dia bilang ‘kawal mas’. Tapi kalau tidak ada tindak lanjut, Insya Allah Selasa saya mau mengumpulkan teman-teman seniman. Kita bicarakan tindak lanjutnya bagaimana, apa nunggu proses ini berjalan, atau kita buat demo damai,” ujar Budi Santoso saat dikonfirmasi, Sabtu (13/6/2026).
Bantah Hoaks ‘Video Lama’, Kasus Dipantau DPRD Provinsi
Budi juga langsung menepis isu liar yang beredar di media sosial yang mengeklaim bahwa rekaman pengeroyokan brutal tersebut adalah video lama untuk mengaburkan fakta.
“Itu video kejadian tadi malam, Jumat (12/6/2026). Baru tadi malam mas, vidio itu,” terang Budi meluruskan simpang siur informasi.
Dukungan terhadap korban kini terus mengalir deras. Tidak hanya dari rekan sesama media yang masif memberitakan, namun kasus ini juga sudah menarik perhatian pemangku kebijakan di tingkat regional.
“Dan saya juga sudah ditelepon DPRD Provinsi juga. Beliau bilang nanti saya bantu dan saya kawal mas, sampai beres,” ungkap Budi optimis.
Sebelumnya, jagat maya dihebohkan oleh rekaman amatir di sejumlah grup WhatsApp yang memperlihatkan kericuhan di sebuah acara ulang tahun anak di Dukuh Sukorame. Korban yang sedang mengelola hiburan dangdut lokal mendadak diserang, dipukul, dan ditendang oleh puluhan orang di atas panggung saat acara masih berlangsung.
Bhabinkamtibmas Kecamatan Tunjungan membenarkan adanya peristiwa memilukan tersebut.
“Betul, lokasi kejadian di Dukuh Sukorame, Desa Tutup. Itu acara ulang tahun anak. Korbane yang punya orgen. Pelaku orang Sukorame, Sukorejo, dan Maguwan. Informasi awal pelaku pemain pitikan (judi sabung ayam). Sudah laporan ke Polsek tadi malam,” jelasnya, Sabtu (13/6/2026).
Di sisi lain, sempat beredar isi percakapan WhatsApp dari pihak yang diduga berada di lokasi kejadian. Ia berkilah bahwa aksi tersebut bukan pengeroyokan, melainkan hanya salah paham karena durasi main musisi yang dianggap belum selesai.
“Kesalahpahaman. Soale dek bengi iku musisine jam e durung bar (Sebab tadi malam itu musisinya jamnya belum selesai). Aku sebagai tuan rumah nekoni yo apik-apik (Saya sebagai tuan rumah mendatangi ya baik-baik),” tulisnya membela diri.
Namun, argumen itu langsung dipatahkan oleh netizen dan rekan korban dengan bukti rekaman yang sangat jelas. “Kok iso. Ono vidione awakmu melu njotos. Jelas kui awakmu,” (Kok bisa. Ada vidionya kamu ikut memukul. Jelas itu kamu), balas pihak lain dalam pesan singkat tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, Kapolsek Tunjungan AKP Subiyono membenarkan bahwa laporan resmi terkait dugaan pengeroyokan tersebut sudah diterima. Kendati demikian, polisi tampaknya masih berhati-hati dan belum menetapkan tersangka.
“Sementara menunggu Kanit Reskrim, saat ini kami masih meminta keterangan dari beberapa pihak yang terkait dengan kejadian tersebut,” ujar AKP Subiyono.
Kini, bola panas ada di tangan Polsek Tunjungan. Komunitas seniman Blora dan masyarakat luas menunggu tindakan nyata aparat penegak hukum untuk menyeret para pelaku pengeroyokan ke jeruji besi sebelum kekecewaan massa seniman memuncak menjadi aksi turun ke jalan.
