Indeks

Jejak ‘Emas Hitam’ di Ngiyono Blora: Perjuangan dan Semburan Lumpur Masa Kolonial 1915–1917

Blora, Tuturpedia.com — Kabupaten Blora sejak lama dikenal sebagai salah satu wilayah kaya minyak bumi di Indonesia. Jauh sebelum teknologi modern berkembang, jejak pencarian “emas hitam” sudah dimulai lebih dari satu abad lalu. Salah satu titik pentingnya berada di kawasan Ngiyono, Kecamatan Japah, yang menjadi saksi awal eksplorasi migas pada periode 1915 hingga 1917. Kamis, (30/07/2026).

Dilansir dari berbagai sumber, catatan sejarah menunjukkan, eksplorasi di wilayah ini bukan sekadar kisah keberhasilan, melainkan perjalanan panjang yang penuh dinamika—mulai dari temuan menjanjikan, keterbatasan fasilitas, hingga tantangan alam berupa semburan lumpur yang memaksa penghentian sejumlah sumur.

Awal Menjanjikan di Kedalaman Dangkal (1915)

Eksplorasi minyak di Ngiyono resmi dimulai pada Februari 1915. Hanya berselang dua bulan, tepatnya April 1915, minyak bumi berhasil ditemukan pada kedalaman relatif dangkal, yakni sekitar 57 meter.

Temuan ini menjadi kabar menggembirakan. Setelah tangki penyimpanan selesai dibangun, proses pemompaan selama lima hari mampu menghasilkan sekitar 37.800 liter minyak. Angka tersebut menunjukkan potensi besar yang dimiliki kawasan Ngiyono.

Namun, keberhasilan awal ini tidak berlangsung lama. Operasi terpaksa dihentikan sementara akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan (storage) yang tidak mampu menampung produksi minyak yang dihasilkan.

Di sisi lain, kondisi berbeda terjadi di wilayah Candi, Kecamatan Todanan. Produksi minyak di sana justru mengalami penurunan tajam, dari 216.780 liter-ton pada tahun sebelumnya menjadi hanya 29.388 liter-ton di tahun 1915. Penurunan drastis tersebut menyebabkan beberapa sumur akhirnya ditutup karena dinilai tidak lagi ekonomis.

Ekspansi Sumur dan Geliat Produksi (1916)
Memasuki tahun 1916, aktivitas pengeboran di Ngiyono semakin intensif. Sejumlah sumur baru mulai digarap secara bertahap:

Sumur No. 2 mulai dibor pada Maret 1916 dan mencapai kedalaman 83,70 meter hingga akhir tahun.

Sumur No. 3 dimulai pada 25 Mei 1916 dan menembus kedalaman 69 meter.

Sumur No. 4 mulai dikerjakan pada 29 Juni 1916 dan mencapai kedalaman 61,50 meter menjelang akhir tahun.

Peningkatan aktivitas ini menandai optimisme besar terhadap potensi minyak di Ngiyono, sekaligus menunjukkan keseriusan upaya eksplorasi pada masa itu.

Semburan Lumpur dan Tantangan Alam (1917)

Harapan besar tersebut mulai diuji pada tahun 1917. Laporan pada periode ini mencatat berbagai kendala teknis dan hambatan alam yang signifikan.

Sumur No. 2, yang dikerjakan secara manual dengan tenaga manusia, harus dihentikan di kedalaman 120 meter tanpa menghasilkan minyak (dry hole).

Sumur No. 3 tidak dapat dilanjutkan karena terjadi semburan lumpur yang menghambat proses pengeboran, hingga akhirnya instalasi harus dipindahkan.

Sumur No. 5 sempat menunjukkan progres dengan kedalaman mencapai 94,50 meter melalui kerja siang dan malam, namun akhirnya juga dihentikan sementara.

Sumur No. 6 sempat memberikan harapan besar setelah menemukan minyak di kedalaman 90,70 meter. Pada tahap awal, sumur ini mampu memproduksi 7.000 hingga 9.000 liter per 24 jam. Namun produksi tersebut menurun drastis hingga hanya sekitar 800 liter, sehingga akhirnya sumur ditutup.

Sumur No. 7 terus digali hingga mencapai kedalaman 128 meter.

Warisan Sejarah Eksplorasi Migas Blora

Kisah pengeboran minyak di Ngiyono menjadi bagian penting dari sejarah panjang Blora sebagai salah satu wilayah penghasil migas di Indonesia. Eksplorasi yang dilakukan pada awal abad ke-20 ini menggambarkan bagaimana potensi besar harus dihadapi dengan keterbatasan teknologi serta tantangan alam yang tidak ringan.

Ngiyono bukan sekadar lokasi pengeboran lama, melainkan simbol perjuangan awal industri migas di tanah air—sebuah perjalanan yang penuh harapan, kegigihan, sekaligus pelajaran berharga dari alam.

Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.

Exit mobile version