Jateng, Tuturpedia.com — Momentum Hari Tani Nasional 2026 tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Jateng Guyub Wilayah Blora menyerukan agar aksi 22–24 September 2026 di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah menjadi ruang konsolidasi berbagai kekuatan rakyat untuk menyuarakan persoalan agraria, lingkungan, pangan, hingga ketidakadilan yang terjadi di berbagai daerah.
Koordinator Jateng Guyub Wilayah Blora, Exy Wijaya, menegaskan bahwa gerakan tersebut tidak dibangun untuk menyeragamkan pandangan politik maupun pilihan elektoral. Menurutnya, perbedaan strategi dan sikap politik bukan alasan untuk memutus solidaritas ketika kepentingan rakyat berhadapan dengan persoalan yang sama.
“Jateng Guyub tidak dibangun untuk menyeragamkan pandangan politik gerakan rakyat. Kita sedang mencari titik temu dari berbagai persoalan rakyat yang nyata,” tegas Exy dalam press release, Jumat (11/9/2026).
Ia menyebut sejumlah persoalan yang perlu dibawa ke ruang publik Jawa Tengah, mulai dari perampasan aset hasil korupsi, perampasan tanah dan ruang hidup, kriminalisasi rakyat dan pejuang lingkungan, proyek strategis nasional, pertambangan dan kerusakan lingkungan, perjuangan petani serta kedaulatan pangan, hingga hak hidup masyarakat pesisir dan nelayan.
Bagi Jateng Guyub Blora, persoalan tersebut bukan isu yang berdiri sendiri. Petani tebu, agraria, lingkungan, sumber daya alam, infrastruktur, serta berbagai bentuk ketidakadilan di Blora dinilai memiliki keterkaitan dengan persoalan yang terjadi di Kendeng, Pati, Rembang, Grobogan, Dieng, Ungaran, wilayah pesisir dan daerah lainnya.
“Apa yang terjadi di Blora berkaitan dengan apa yang terjadi di daerah-daerah lain di Jawa Tengah,” ujarnya.
Karena itu, aksi Hari Tani Nasional 2026 diminta tidak sekadar menjadi agenda turun ke jalan. Momentum tersebut diharapkan menjadi ruang bertemu, belajar, membangun jaringan, sekaligus memperkuat solidaritas antargerakan rakyat.
Jateng Guyub juga menegaskan dirinya bukan kendaraan politik elektoral dan bukan milik satu organisasi.
“Bukan kendaraan politik elektoral. Bukan milik satu organisasi. Bukan ruang untuk menyeragamkan pikiran. Jateng Guyub adalah ruang untuk mempertemukan perjuangan rakyat,” kata Exy.
Ia mengajak petani, nelayan, buruh, mahasiswa, pegiat lingkungan, masyarakat adat, kelompok budaya, komunitas, organisasi rakyat dan berbagai gerakan akar rumput dari Jawa Tengah untuk membawa persoalan daerah masing-masing ke aksi yang berlangsung pada 22–24 September mendatang.
Menurutnya, peserta aksi tidak seharusnya hadir hanya sebagai massa tambahan. Setiap daerah diharapkan membawa persoalan dan suara rakyatnya masing-masing.
“Datang bukan untuk menjadi massa tambahan. Datang membawa persoalan daerah. Datang membawa suara rakyat. Datang membawa perjuangan,” tegasnya.
Jateng Guyub Wilayah Blora menilai kekuatan rakyat justru lahir dari keberagaman. Perbedaan strategi dan pilihan politik tidak harus menjadi penghalang untuk berdiri bersama ketika tanah, ruang hidup, lingkungan dan kepentingan rakyat terancam.
“Kekuatan rakyat tidak dibangun dari keseragaman. Kekuatan rakyat dibangun dari keberanian untuk berbeda, kemampuan untuk saling menghormati, dan kesediaan untuk berdiri bersama ketika kepentingan rakyat diinjak-injak,” pungkas Exy.
Seruan tersebut ditutup dengan semboyan yang menjadi garis perjuangan Jateng Guyub: “Tanah untuk Rakyat, Air Sumber Kehidupan.”
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.
