Laga Pembuka Piala Dunia 2026: Ronaldo Mandul, Messi Menggila, Haaland dan Mbappe Cetak Brace. Apakah Debat GOAT Sudah Selesai?

TUTURPEDIA - Laga Pembuka Piala Dunia 2026: Ronaldo Mandul, Messi Menggila, Haaland dan Mbappe Cetak Brace. Apakah Debat GOAT Sudah Selesai?
banner 120x600

Tuturpedia.com — Piala Dunia 2026 baru saja dimulai, tetapi satu perdebatan lama kembali menyala lebih panas dari sebelumnya, terkait siapakah sebenarnya GOAT (Greatest of All Time) dalam dunia sepak bola?

Ironisnya, pemicunya bukan final, bukan semifinal, bahkan bukan pertandingan hidup-mati. Semua bermula dari laga pembuka masing-masing bintang.

Ketika Lionel Messi mencetak hattrick untuk membawa Argentina menundukkan Aljazair 3-0, Cristiano Ronaldo justru mengakhiri pertandingan tanpa gol saat Portugal ditahan Republik Demokratik Kongo 1-1. Pada saat yang sama, dua pewaris takhta yang selama ini disebut-sebut sebagai penerus era Messi-Ronaldo, yakni Kylian Mbappé dan Erling Haaland, sama-sama membuka turnamen dengan dua gol.

Media sosial pun bergerak cepat. Gambar perbandingan empat megabintang itu beredar luas. Messi tampil dengan tiga gol, Mbappé dan Haaland masing-masing dua gol, sementara Ronaldo berdiri sendiri dengan angka nol.

Tentu saja, satu pertandingan tidak akan menentukan warisan karier seorang pemain. Namun dalam dunia sepak bola modern yang bergerak secepat linimasa media sosial, persepsi sering kali terbentuk bahkan sebelum fakta sempat dicerna secara utuh.

TUTURPEDIA - Laga Pembuka Piala Dunia 2026: Ronaldo Mandul, Messi Menggila, Haaland dan Mbappe Cetak Brace. Apakah Debat GOAT Sudah Selesai?

Ketika Messi Menolak Menua

Pada 16 Juni 2026, di Kansas City Stadium, Amerika Serikat, Argentina memulai upaya mempertahankan gelar dunia dengan menghadapi Aljazair di Grup J.

Hasilnya tidak hanya kemenangan 3-0. Yang lebih mencuri perhatian adalah bagaimana seluruh gol dicetak oleh Lionel Messi. Di usia yang sudah mendekati 39 tahun, kapten Argentina itu tampil seperti pemain yang menolak tunduk pada hukum usia. Ia mencetak gol pada menit ke-17, 60, dan 76 untuk mengamankan hattrick pertamanya di putaran final Piala Dunia.

Bagi banyak pengamat, penampilan tersebut terasa simbolis. Empat tahun setelah mengangkat trofi Piala Dunia di Qatar dan menyelesaikan koleksi gelarnya, Messi masih mampu menjadi pembeda di panggung terbesar sepak bola.

Yang membuatnya semakin istimewa, performa itu datang ketika sebagian besar pemain seusianya sudah lama pensiun dari level tertinggi.

Malam Sulit Ronaldo di Houston

Sehari setelah pesta Messi, sorotan dunia beralih ke Houston.

Portugal menghadapi Republik Demokratik Kongo pada laga Grup K di NRG Stadium, 17 Juni 2026. Banyak yang menunggu jawaban Ronaldo terhadap pertunjukan rival abadinya itu. Ternyata jawaban tersebut tidak pernah datang.

Portugal memang sempat unggul melalui João Neves pada menit keenam, tetapi Yoane Wissa menyamakan kedudukan sebelum turun minum. Ronaldo yang tampil sebagai starter gagal mencetak gol dan menyia-nyiakan beberapa peluang yang biasanya mampu ia konversi menjadi gol dengan mudah. Laga berakhir 1-1.

Hasil itu langsung memicu diskusi yang sebenarnya sudah muncul beberapa tahun terakhir, apakah status GOAT Ronaldo mulai kehilangan pijakan ketika dibandingkan dengan Messi?

Pertanyaan tersebut memang terdengar keras. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa setiap langkah Messi dalam beberapa tahun terakhir selalu menghasilkan argumen baru yang memperkuat posisinya dalam perdebatan tersebut.

Mbappé dan Haaland Datang Mengganggu

Sementara dunia masih sibuk memperdebatkan dua legenda, generasi berikutnya diam-diam mulai mengetuk pintu.

Mbappé kembali menunjukkan naluri predatornya dengan dua gol untuk Prancis pada laga pembuka. Haaland melakukan hal serupa bersama Norwegia ketika mengalahkan Irak 4-1 di Grup I.

Bagi banyak penggemar muda, perdebatan GOAT tidak lagi hanya tentang Messi atau Ronaldo.

Kini muncul pertanyaan baru, apakah Mbappé atau Haaland akan melampaui keduanya? Secara usia, keduanya masih memiliki waktu yang sangat panjang. Secara kemampuan, keduanya sudah berada di level elite dunia.

Namun sejarah menunjukkan bahwa menjadi pemain terbaik di generasi sendiri berbeda dengan menjadi pemain terbaik sepanjang masa.

Messi dan Ronaldo bukan hanya dominan selama lima atau enam tahun. Mereka menguasai sepak bola dunia selama hampir dua dekade, memecahkan rekor demi rekor, memenangi liga, Liga Champions, Ballon d’Or, hingga menjadi pusat pembicaraan global tanpa henti. Itulah standar yang harus dikejar Mbappé dan Haaland.

GOAT Tidak Ditentukan Oleh Satu Pertandingan

Akan tetapi, menarik juga melihat bagaimana satu pekan pertama Piala Dunia 2026 berhasil merangkum tiga generasi dalam satu cerita.

Messi tampil sebagai legenda yang masih menolak turun dari singgasana. Sementara Ronaldo berjuang mempertahankan warisan yang telah ia bangun selama lebih dari 20 tahun.

Sementara Mbappé dan Haaland berdiri di belakang mereka, menunggu giliran untuk mengambil alih panggung.

Karena itu, mungkin terlalu dini jika hasil laga pembuka dijadikan vonis final atas debat GOAT.

Namun satu hal sulit dibantah.

Saat Piala Dunia 2026 dimulai, pemain yang paling keras mengingatkan dunia tentang kehebatannya bukanlah Mbappé, bukan Haaland, bahkan bukan Ronaldo. Melainkan Lionel Messi.

Dan selama pria Argentina itu masih mampu mencetak hattrick di panggung terbesar dunia pada usia hampir 39 tahun, perdebatan mengenai siapa GOAT sepak bola tampaknya akan terus mengarah ke nama yang sama.***

Penulis: Rizal Akbar Editor: Permadani T.
tuturpedia.com - 2026