Jakarta, Tuturpedia.com – Krisis serius melanda sektor pergulaan di Kabupaten Blora setelah operasional Pabrik Gula PT Gendhis Multi Manis (GMM) terhenti akibat kerusakan mesin boiler. Dampaknya tidak hanya menghentikan aktivitas industri, tetapi juga memicu efek domino yang melumpuhkan denyut ekonomi daerah dan menjerat puluhan ribu petani tebu dalam ketidakpastian.
Situasi darurat ini mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB, Rina Sa’adah. Ia secara tegas mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian dan Perum Bulog, untuk segera turun tangan menyelamatkan nasib petani yang kini tertekan oleh tingginya biaya logistik serta tersendatnya penyerapan hasil panen.
Desakan tersebut disampaikan Rina usai menerima audiensi Paguyuban Petani Tebu Kabupaten Blora di Ruang Rapat Fraksi PKB DPR RI, Senayan, Selasa (9/6/2026).
“Petani sudah bekerja keras dari awal tanam hingga panen. Namun di ujungnya mereka justru dihadapkan pada ketidakpastian pasar. Negara harus hadir memberikan perlindungan nyata. Kami akan segera membawa persoalan ini ke dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Menteri Pertanian dan Kepala Bulog,” tegas Rina.
Menurutnya, kondisi ini tidak bisa dianggap sebagai persoalan teknis semata, melainkan sudah masuk kategori krisis ekonomi lokal yang membutuhkan intervensi cepat dan terukur dari pemerintah pusat.
Sementara itu, Koordinator Paguyuban Petani Tebu Blora, Exi Wijaya, mengungkapkan bahwa berhentinya operasional PT GMM telah memutus mata rantai ekonomi yang selama ini menjadi tulang punggung masyarakat Blora. Ia menyebut perputaran ekonomi dari sektor ini sebelumnya mampu mencapai sekitar Rp500 miliar.
“Begitu pabrik berhenti, semua ikut terdampak. Petani, buruh angkut, sopir, hingga pekerja pabrik. Total ada sekitar 40 ribu orang yang terkena dampak langsung. Bahkan ribuan pekerja kini terancam kehilangan pekerjaan karena perusahaan mengalami penurunan pendapatan drastis,” jelas Exi.
Kondisi tersebut memaksa para petani mencari alternatif dengan mengirimkan hasil panen ke pabrik gula di luar daerah. Namun langkah ini justru menimbulkan persoalan baru. Jarak tempuh yang lebih jauh membuat biaya transportasi melonjak tajam, sementara kualitas tebu berisiko menurun akibat lamanya waktu pengiriman.
“Biaya angkut sekarang bisa dua kali lipat. Belum lagi risiko rendemen turun karena tebu tidak langsung digiling. Ini jelas merugikan petani,” tambahnya.
Para petani juga mengaku khawatir jika kondisi ini terus berlarut, mereka akan mengalami kerugian besar hingga berpotensi gagal musim tanam berikutnya. Selain itu, daya beli masyarakat di sekitar pabrik juga ikut merosot drastis karena berhentinya aktivitas ekonomi.
Rina Sa’adah menegaskan, pemerintah tidak boleh tinggal diam melihat situasi ini. Ia mendorong adanya solusi konkret, mulai dari percepatan perbaikan pabrik, skema subsidi transportasi bagi petani, hingga jaminan penyerapan hasil panen oleh Bulog atau BUMN terkait.
“Ini bukan hanya soal industri gula, tapi menyangkut keberlangsungan hidup puluhan ribu keluarga. Jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa meluas ke sektor sosial dan ekonomi lainnya,” ujarnya.
Ia juga membuka kemungkinan adanya evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan industri gula nasional, khususnya terkait kesiapan infrastruktur dan mitigasi risiko ketika terjadi gangguan operasional.
Di sisi lain, para petani berharap pemerintah segera memberikan kepastian dan langkah nyata dalam waktu dekat. Mereka tidak hanya membutuhkan solusi jangka panjang, tetapi juga bantuan cepat untuk menyelamatkan hasil panen yang saat ini sedang berlangsung.
Krisis yang melanda PT Gendhis Multi Manis kini menjadi alarm keras bagi sektor pertanian dan industri gula nasional. Tanpa intervensi cepat, Blora terancam kehilangan salah satu penggerak utama ekonominya, sementara petani tebu harus menanggung beban yang semakin berat di tengah ketidakpastian.
Kini, harapan para petani tertuju pada langkah cepat pemerintah. Apakah negara akan benar-benar hadir di tengah krisis, atau justru membiarkan petani berjuang sendiri di tengah tekanan yang kian menghimpit? Waktu akan menjadi jawabannya.
