Indeks
News  

Ojol Kecewa Massa Pati Tinggalkan DPR: “Solidaritas Bukan Sekadar Datang, Lalu Pulang!

Jakarta, Tuturpedia.com — Kekecewaan mencuat dari kelompok pengemudi ojek online (ojol) Jakarta setelah massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) meninggalkan kawasan Gedung DPR RI, Kamis (27/8/2026).

Sejumlah pengemudi ojol menilai keputusan massa Pati meninggalkan lokasi aksi begitu saja dinilai kurang menghargai elemen masyarakat yang sejak awal ikut menyambut dan memberikan dukungan terhadap perjuangan mereka.

Ketua Umum Garda Indonesia, Igun Wicaksono, mengatakan komunitas ojol sejak awal turut menyambut kedatangan massa AMPB di Jakarta. Dukungan tersebut diberikan sebagai bentuk solidaritas terhadap aspirasi yang dibawa warga Pati.

Namun, Igun menyayangkan ketika perwakilan AMPB telah keluar dari Gedung DPR RI dan menyampaikan adanya kesepakatan terkait tuntutan mereka, massa Pati justru langsung meninggalkan lokasi.

Menurutnya, persoalan utama bukan karena tuntutan warga Pati mendapat respons dari DPR. Justru, keberhasilan mendapatkan respons tersebut patut diapresiasi.

Yang menjadi persoalan, kata Igun, adalah komunikasi dengan kelompok pendukung yang dinilai terputus ketika massa Pati memutuskan untuk meninggalkan kawasan parlemen.

“Bukan masalah tuntutan masyarakat Pati mendapat respons. Kami justru menghargai itu. Tetapi, setelah mendapatkan respons, seharusnya ada komunikasi dengan elemen-elemen yang sejak awal ikut mendukung,” demikian inti kekecewaan yang disampaikan Igun.

Bagi sebagian pengemudi ojol, solidaritas dalam sebuah aksi tidak semestinya berhenti ketika kepentingan kelompok sendiri telah mendapatkan titik terang.

Apalagi, ketika massa AMPB datang ke Jakarta, mereka tidak berdiri sendiri. Sejumlah elemen masyarakat turut memberikan dukungan dan ikut berada di sekitar kawasan aksi.
Solidaritas Dinilai Harus Dua Arah
Kepergian massa Pati kemudian menjadi sorotan karena aksi di kawasan Senayan masih berlangsung.

Mahasiswa, pelajar, serta kelompok masyarakat lainnya tetap bertahan di sekitar kompleks parlemen untuk menyampaikan aspirasi masing-masing. Situasi tersebut membuat sebagian pengemudi ojol mempertanyakan sikap AMPB.

Mereka menilai, jika sejak awal perjuangan dibangun atas nama solidaritas rakyat, maka komunikasi dan kebersamaan semestinya tetap dijaga sampai rangkaian aksi benar-benar selesai.

Kekecewaan itu pun menjadi pengingat bahwa gerakan massa yang melibatkan banyak kelompok membutuhkan komunikasi yang kuat. Keputusan satu kelompok dapat berdampak terhadap persepsi kelompok lain yang sejak awal memberikan dukungan.

Di sisi lain, massa yang masih bertahan di kawasan DPR RI tetap melanjutkan penyampaian aspirasi. Mereka membawa tuntutan masing-masing dan memilih bertahan meski rombongan Pati telah meninggalkan lokasi.

Bagi kelompok ojol, persoalannya kini bukan lagi soal siapa yang paling berhasil memperjuangkan tuntutan, melainkan bagaimana menjaga rasa saling menghargai di antara elemen masyarakat yang sama-sama turun ke jalan.

Sebab, solidaritas tidak cukup hanya dengan berdiri bersama ketika perjuangan dimulai. Solidaritas juga diuji ketika satu kelompok telah mendapatkan apa yang diperjuangkannya, sementara kelompok lain masih berjuang.

Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.

Exit mobile version