Indeks

Deretan Pernyataan Prabowo yang Menyita Perhatian pada Pidato di DPR: Dari Sentil “Coklat-Hijau”, Salah Sebut Naikkan Gaji Guru, hingga Cari Aset Koruptor ke Bunker

Jakarta, Tuturpedia.com — Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI, Rabu (20/5/2026), bukan sekadar penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.

Di forum kenegaraan itu, Prabowo justru melontarkan sederet pernyataan yang tajam, emosional, bahkan di beberapa bagian terdengar provokatif, membuat ruang sidang beberapa kali riuh dan publik langsung bereaksi.

Dari kritik terhadap aparat yang disebut menjadi “beking” pelanggar hukum, rencana produksi mobil nasional hingga telepon genggam buatan dalam negeri, sampai pengakuan soal “hati yang pilu” karena kritik keras dari PDI Perjuangan, pidato Prabowo kali ini terasa lebih politis, lebih personal, dan lebih terbuka dibanding sejumlah pidato formal sebelumnya.

Berikut sejumlah pernyataan Prabowo yang menjadi sorotan:

  1. “Saya Sangat Dihormati di Luar Negeri”

Dalam salah satu bagian pidatonya, Prabowo menyinggung pengalaman diplomatiknya selama beberapa bulan terakhir. Ia mengaku mendapat penghormatan besar saat melakukan kunjungan ke berbagai negara.

Pernyataan itu disampaikan untuk menegaskan bahwa posisi Indonesia di mata dunia, menurutnya, sedang semakin diperhitungkan.

Namun bagi sebagian pengamat, kalimat tersebut bukan sekadar soal diplomasi, melainkan pesan politik bahwa pemerintahannya ingin dilihat sebagai pemerintahan yang percaya diri di panggung global.

  1. Sentil Oknum “Coklat” dan “Hijau” yang Jadi Beking Pelanggar Hukum

Salah satu bagian paling keras dalam pidato itu muncul ketika Prabowo menyinggung aparat berseragam.

Tanpa menyebut institusi secara eksplisit, ia mengatakan masih ada oknum “berbaju coklat” dan “berbaju hijau” yang melindungi pelanggar hukum, termasuk koruptor.

Pernyataan itu langsung memantik tafsir luas di ruang publik, karena istilah “coklat” dan “hijau” lazim diasosiasikan dengan institusi kepolisian dan militer.

Pesannya jelas: Prabowo ingin memberi sinyal bahwa penegakan hukum tak boleh kalah oleh “orang dalam”.

  1. Salah Sebut Gaji Guru, Ternyata Maksudnya Gaji Hakim

Di tengah pidato, Prabowo sempat menyebut pemerintah telah menaikkan gaji guru hingga 300 persen.

Pernyataan itu segera menjadi perhatian karena terdengar janggal. Belakangan, konteks pidato menunjukkan yang dimaksud Presiden adalah peningkatan kesejahteraan aparatur hukum khususnya hakim bukan guru.

Meski tampak sebagai kekeliruan verbal, momen itu cepat menyebar di media sosial dan memunculkan beragam komentar.

  1. Akan Gunakan Teknologi untuk Lacak “Aset Koruptor di Bunker”

Prabowo juga berbicara soal pemberantasan korupsi dengan nada lebih agresif. Ia menyebut pemerintah siap menggunakan teknologi canggih untuk melacak aset para koruptor, bahkan yang disembunyikan di “bunker”.

Pernyataan itu dipahami sebagai sinyal penguatan kerja intelijen finansial dan digital forensik dalam agenda antikorupsi pemerintahan.

  1. ASN dan Birokrat Tak Bekerja Maksimal Ikut Disentil

Tak hanya aparat keamanan, birokrasi juga kena tegur. Prabowo menegaskan aparatur sipil negara harus bekerja lebih efektif, cepat, dan tidak boleh terjebak budaya kerja lamban.

Nada pidato di bagian ini mengingatkan publik pada gaya komunikasinya selama kampanye: tegas, langsung, dan tanpa banyak basa-basi.

  1. Ancaman ke Bea Cukai: “Kalau Tidak Mampu, Saya Ganti”

Pernyataan lain yang tak kalah keras diarahkan ke institusi Bea Cukai. Prabowo mengingatkan pentingnya reformasi pelayanan dan pengawasan perdagangan.

Kalimat “kalau tidak mampu, saya ganti” menjadi salah satu kutipan yang langsung ramai dibagikan di media sosial.

Bagi sebagian kalangan, ini adalah pesan keras bahwa toleransi terhadap kinerja buruk semakin tipis.

  1. Ingin Indonesia Produksi Mobil dan Ponsel Sendiri

Di tengah pembahasan ekonomi, Prabowo kembali menegaskan obsesinya pada industrialisasi nasional.

Ia menyebut Indonesia harus mampu memproduksi kendaraan hingga telepon genggam sendiri.

Gagasan ini sejalan dengan narasi besar pemerintah tentang hilirisasi dan kemandirian industri nasional.

“Berdiri di atas kaki sendiri” tampak tetap menjadi mantra utama pemerintahannya.

  1. “Hati Saya Pilu” karena Dikritik PDIP

Bagian paling personal muncul ketika Prabowo menyinggung hubungan politik dengan PDI Perjuangan.

Ia mengaku sedih karena sering mendapat kritik keras dari partai yang berada di luar pemerintahan itu.

Namun di saat yang sama, ia justru menyampaikan apresiasi kepada PDIP karena tetap menjaga fungsi oposisi dalam demokrasi.

Pernyataan itu dinilai sebagai gestur politik yang halus bahwa kritik boleh keras, tetapi ruang dialog tetap dibuka.

Lebih dari Sekadar Pidato Anggaran

Secara formal, pidato Prabowo di DPR memang ditujukan untuk membahas arah ekonomi nasional dan RAPBN 2027. Namun substansinya melampaui angka-angka fiskal.

Ia bicara soal moral birokrasi, integritas aparat, keberanian politik, industrialisasi, hingga hubungan dengan oposisi.

Itulah mengapa pidato ini terasa berbeda: bukan hanya dokumen kebijakan, tetapi juga semacam manifesto politik tentang bagaimana Prabowo ingin pemerintahannya dikenang, keras pada sistem yang dianggap lemah, agresif pada target kemandirian, dan ingin tampil sebagai pemimpin yang tak ragu berbicara lugas.

Apakah seluruh janji dan teguran itu akan berujung pada perubahan nyata?

Publik tampaknya akan menunggu jawabannya bukan dari podium DPR, melainkan dari kerja pemerintah setelah tepuk tangan sidang usai.***

Penulis: Rizal Akbar Editor: Permadani T.
Exit mobile version