Tuturpedia.com – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar sempat memantik beragam respons publik. Di tengah polemik itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya memberikan penjelasan mengenai konteks ucapan tersebut.
Menurut Purbaya, pernyataan Presiden bukan dimaksudkan untuk menyepelekan pentingnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap perekonomian nasional. Ia menegaskan, ucapan itu disampaikan dalam suasana yang santai sebagai cara untuk menenangkan masyarakat, khususnya warga di pedesaan, agar tidak larut dalam kekhawatiran berlebihan atas gejolak kurs rupiah terhadap dolar AS.
“Untuk menghibur rakyat aja di situ. Saya lihat konteksnya di perdesaan waktu kemarin itu, nggak apa-apa ngomong begitu,” kata Purbaya.
Ia menilai, konteks komunikasi Presiden saat itu memang ditujukan untuk meredam kepanikan publik. Menurutnya, tidak semua gejolak ekonomi global harus ditanggapi dengan rasa cemas, terlebih jika dampaknya belum langsung dirasakan oleh masyarakat di tingkat akar rumput.
Purbaya juga menepis anggapan bahwa pernyataan tersebut menunjukkan ketidakpahaman pemerintah terhadap persoalan nilai tukar. Sebaliknya, ia memastikan pemerintah sangat memahami tantangan ekonomi global yang sedang dihadapi, termasuk tekanan terhadap rupiah.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi yang solid. Ia menyebut kondisi fiskal negara masih terjaga dengan baik, termasuk postur APBN yang dinilai tetap sehat di tengah tekanan eksternal.
“Fundamental ekonomi kita bagus, fiskal kita bagus,” ujarnya.
Ia bahkan membantah sejumlah pandangan yang menyebut kondisi APBN sedang bermasalah. Menurut Purbaya, persepsi tersebut muncul karena tidak semua pihak memahami strategi fiskal yang sedang dijalankan pemerintah.
“APBN kita yang sebagian majalah ekonomi bilang berantakan. Nggak, kita bagus sekali. Dan mereka nggak ngerti apa yang kita kerjakan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa strategi ekonomi pemerintah saat ini tidak semata-mata bertumpu pada belanja negara. Pemerintah, kata dia, juga mendorong sektor swasta agar bergerak lebih agresif sebagai mesin pertumbuhan baru.
Langkah itu, menurutnya, mulai menunjukkan hasil. Salah satunya tercermin dari capaian pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama yang mencapai 5,6 persen.
“Strategi kita bukan hanya belanja pemerintah, tapi kita juga mengaktifkan sektor swasta. Makanya pertumbuhan ekonomi bisa 5,6 persen triwulan pertama karena swasta juga mulai bergerak, bukan hanya government saja,” jelasnya.
Sebelumnya, pernyataan Presiden Prabowo mengenai “orang desa tidak pakai dolar” muncul saat menanggapi kekhawatiran masyarakat atas pelemahan rupiah.
Pesan yang ingin disampaikan, menurut pemerintah, sederhana bahwa masyarakat tidak perlu panik menghadapi dinamika ekonomi global, sebab kekuatan ekonomi domestik Indonesia dinilai masih cukup tangguh untuk menghadapi tekanan eksternal. Namun tetap saja pernyataan semacam ini kurang layak jika disampaikan di forum publik karena berpotensi menimbulkan kegaduhan dan pro kontra.***
