Blora, Tuturpedia.com – Operasional Pabrik Gula Blora yang dikelola PT Gendhis Multi Manis mengalami penurunan produksi signifikan pada musim giling 2025 akibat kerusakan sejumlah mesin utama. Kondisi tersebut membuat target produksi tidak tercapai dan berdampak pada petani tebu serta pekerja yang bergantung pada aktivitas pabrik. Kamis, (12/03/2026).
Pabrik gula yang berlokasi di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan ini sejak mulai beroperasi pada 2014 menjadi salah satu pusat pengolahan tebu di Kabupaten Blora dan menjadi pilihan bagi petani untuk mengembangkan komoditas tebu.
Pada tahun 2025 lalu, manajemen pabrik menargetkan mampu menyerap sekitar 400.000 ton tebu dengan rendemen 7 persen serta masa giling selama 150 hari. Namun target tersebut meleset cukup jauh.
Data menunjukkan selama musim giling 2025, pabrik hanya mampu menggiling 219.774 ton tebu dengan rendemen 6,03 persen. Dari jumlah tersebut dihasilkan sekitar 12.138 ton Gula Kristal Putih (GKP).
Penurunan produksi tersebut disebabkan oleh kerusakan pada beberapa mesin penting, khususnya boiler yang berfungsi dalam proses pengolahan tebu menjadi gula.
Kerusakan terjadi pada mesin boiler coal dan boiler bagasse secara bersamaan pada Mei dan Juni 2025. Meski sempat dilakukan perbaikan, kerusakan kembali terjadi pada September 2025 sehingga manajemen memutuskan menghentikan proses giling lebih awal pada 24 September 2025 untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.
Diketahui kerusakan tersebut dipicu oleh kebocoran pipa pada sistem boiler yang menyebabkan nilai conductivity air boiler turun secara signifikan. Dan, berhentinya proses giling lebih cepat tentu memunculkan berbagai persoalan, terutama bagi petani tebu yang sebagian hasil panennya belum sempat ditebang dan digiling.
Sebagai bentuk tanggung jawab kepada petani, manajemen PT GMM melakukan koordinasi dengan beberapa pabrik gula lain agar tebu petani tetap dapat diolah. Di antaranya dengan PG Lamongan milik PT Kebun Tebu Mas serta PG Trangkil milik PT Kebon Agung.
Selain itu, perusahaan juga memberikan layanan gratis berupa penggunaan crane dan jembatan timbang agar truk kecil milik petani dapat melakukan langsiran ke truk tronton untuk pengiriman tebu ke pabrik lain. Dengan catatan produksi yang kurang optimal pada 2025, manajemen kini fokus menyusun strategi pemulihan dengan memprioritaskan perbaikan mesin pabrik.
Plt Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, mengatakan pihaknya telah menyusun rencana maintenance menyeluruh berdasarkan kondisi mesin serta kebutuhan anggaran perbaikan di berbagai bagian pabrik.
Namun rencana tersebut belum bisa langsung dilaksanakan karena kondisi keuangan perusahaan yang masih mengalami defisit.
“Saat ini PT GMM sudah melakukan komunikasi dengan Perum BULOG dan PT Mandiri Pangan Sejahtera untuk meminta bantuan dalam perbaikan mesin,” ujar Sri Emilia.
Direktur Operasional PT GMM, Krisna Murtiyanto, menambahkan bahwa sebelumnya telah dilakukan audiensi dengan Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, di kantor BULOG Jakarta pada 21 Januari 2026.
Audiensi tersebut turut dihadiri Bupati Blora Arief Rohman, Wakil Bupati Blora Sri Setyorini, Ketua DPRD Blora, pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), pengurus Serikat Pekerja GMM, serta jajaran direksi PT GMM.
“Kami mendapat respons positif terkait rencana perbaikan GMM tahun ini, namun persetujuan bantuan tersebut masih dalam proses,” jelas Krisna.
Manajemen berharap PG Blora dapat kembali beroperasi pada musim giling 2026. Pasalnya keberadaan pabrik tersebut memiliki dampak besar terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
Tercatat lebih dari 250 petani tebu, sekitar 600 karyawan, lebih dari 1.000 tenaga tebang angkut, serta sopir truk menggantungkan mata pencaharian pada aktivitas pabrik ini. Selain itu, berbagai usaha kecil seperti toko, warung makan, hingga jasa transportasi di sekitar pabrik juga ikut bergantung pada aktivitas industri tersebut.
“Kita harus tetap optimistis. Kami akan terus mencari solusi terbaik agar bantuan segera diberikan sehingga pabrik bisa kembali beroperasi,” kata Krisna.
Sementara itu, Sri Emilia menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung upaya penyelamatan pabrik gula tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Blora, Ketua DPRD Blora, APTRI, Serikat Pekerja GMM, dan seluruh masyarakat yang terus membantu. Kita harus bergandeng tangan untuk menghidupkan kembali pabrik gula kebanggaan masyarakat Blora ini,” pungkasnya.















