Indeks
News  

Ziarah ke Makam Hj. Musti’ah Djayusman, Kenangan tentang Sosok Ibu yang Mengajarkan Arti Pengabdian Politik

Pati, Tuturpedia.com – Kerinduan terhadap sosok almarhumah Hj. Musti’ah Djayusman kembali mengemuka. Bagi keluarga besar Partai Golkar di Kabupaten Pati, Musti’ah bukan sekadar tokoh senior partai, melainkan sosok ibu yang meninggalkan jejak keteladanan, kebijaksanaan, dan nilai-nilai pengabdian dalam dunia politik.

Kerinduan itu terasa saat salah seorang kader menyempatkan diri berziarah ke makam almarhumah di Pati. Dengan menaburkan bunga dan memanjatkan doa, ziarah tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan rindu kepada sosok yang dinilai memiliki tempat istimewa di hati keluarga besar Golkar.

“Ibu Musti’ah. Begitu kami memanggilnya. Bukan sekadar jabatan, bukan sekadar sesepuh partai. Beliau adalah ibu bagi kami semua di Golkar Pati,” demikian ungkapan penuh haru yang menggambarkan kedekatan emosional dengan almarhumah.

Membawa Nilai Pesantren ke Dunia Politik

Hj. Musti’ah Djayusman dikenal sebagai sosok yang tumbuh dari lingkungan keluarga ulama besar di Kajen. Latar belakang tersebut turut membentuk karakter dan pandangan hidupnya, termasuk ketika menjalani kiprah di dunia politik.

Nilai-nilai pesantren yang melekat dalam dirinya tercermin melalui sikap bijaksana, ketegasan dalam mengambil sikap, serta kelembutan dalam memperlakukan orang lain. Perpaduan karakter itu menjadikan almarhumah dikenang bukan hanya sebagai tokoh senior, tetapi juga sebagai figur ibu yang mampu memberikan nasihat dan teladan kepada kader-kader di sekitarnya.

Bagi mereka yang pernah mendapatkan bimbingannya, nasihat Musti’ah bukan sekadar kata-kata. Pesan-pesannya menjadi pengingat bahwa politik semestinya dijalankan dengan tanggung jawab dan keberpihakan kepada masyarakat.

Politik Bukan Sekadar Kekuasaan

Salah satu pelajaran penting yang terus dikenang dari almarhumah adalah makna pengabdian dalam berpolitik.

Politik, dalam pandangannya sebagaimana dikenang oleh orang-orang dekatnya, bukan semata-mata tentang jabatan, kekuasaan, atau kedudukan. Lebih dari itu, politik merupakan jalan pengabdian yang menuntut kesediaan untuk bekerja keras, hadir di tengah masyarakat, dan mendengarkan aspirasi rakyat. Minggu, (25/10/2026).

Menjadi wakil rakyat, menurut pesan yang terus dipegang para penerusnya, berarti siap menghadapi berbagai tantangan. Seorang wakil rakyat tidak cukup hanya hadir dalam forum resmi atau menyampaikan janji, tetapi harus bersedia turun langsung, merasakan persoalan masyarakat, dan memperjuangkan kebutuhan mereka.

Nilai-nilai tersebut menjadi warisan moral yang tetap relevan di tengah dinamika politik saat ini, ketika kepercayaan masyarakat terhadap para wakilnya harus terus dijaga melalui kerja nyata.

Doa dan Kerinduan yang Tak Pernah Padam

Ziarah ke makam Hj. Musti’ah Djayusman bukan sekadar kunjungan untuk mengenang masa lalu. Momen itu menjadi ruang untuk kembali mengingat nasihat, keteladanan, serta nilai-nilai perjuangan yang pernah ditanamkan almarhumah.

Ada kerinduan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata setiap kali kembali menginjakkan kaki di Pati. Kerinduan kepada sosok yang kehadirannya memberikan rasa kekeluargaan, sekaligus menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga nilai-nilai luhur dalam berorganisasi dan berpolitik.

Kepergian seseorang memang meninggalkan ruang kosong. Namun, keteladanan yang diwariskan dapat terus hidup melalui sikap dan tindakan orang-orang yang pernah mendapatkan bimbingannya.

“Selamat beristirahat, Ibu. Semoga Allah melapangkan kuburnya, mengampuni segala dosanya, dan menempatkan beliau di tempat yang paling mulia.”

Doa tersebut menjadi penutup ziarah yang sarat makna. Sebuah penghormatan tulus bagi sosok yang telah meninggalkan kenangan mendalam bagi keluarga besar Golkar Pati.

Bagi mereka yang mengenalnya, Hj. Musti’ah Djayusman akan selalu dikenang sebagai seorang ibu yang mengajarkan bahwa politik sejatinya bukan tentang seberapa tinggi seseorang menduduki jabatan, melainkan seberapa besar kesediaannya untuk mengabdi kepada masyarakat.

Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.

Exit mobile version