Pemalang, Tuturpedia.com – Nama Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, mendadak menjadi sorotan publik setelah dikabarkan terjaring operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Rabu, (29/07/2027).
Padahal, Anom baru saja menjabat sebagai kepala daerah untuk periode 2025–2030, usai memenangkan Pilkada Pemalang 2024 bersama pasangannya, Nurkholes.
Anom Widiyantoro bukan sosok baru di dunia profesional. Lahir di Cimahi, Jawa Barat, pada 20 Maret 1970, ia dikenal memiliki rekam jejak panjang di sektor korporasi sebelum akhirnya terjun ke dunia politik. Ia resmi dilantik sebagai Bupati Pemalang pada 20 Februari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD St. Yusuf Cimahi, kemudian berlanjut ke SMP Negeri 1 Cimahi dan SMA Negeri 4 Bandung. Setelah itu, ia melanjutkan studi di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) dan meraih gelar Sarjana Ekonomi pada 1996. Tak berhenti di situ, Anom memperdalam ilmu manajemen dengan meraih gelar Magister Manajemen dari Universitas Padjadjaran pada 2005.
Karier profesionalnya banyak dihabiskan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ia pernah menduduki posisi strategis hingga dipercaya menjadi Direktur PT Wijaya Karya Realty, anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Rekam jejak ini sempat membuatnya dipandang sebagai figur berpengalaman yang mampu membawa perubahan di pemerintahan daerah.
Dalam Pilkada Pemalang 2024, pasangan Anom Widiyantoro–Nurkholes berhasil meraih 278.043 suara atau sekitar 44,51 persen dari total suara sah. Kemenangan tersebut menjadi bukti kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinannya. Di balik citra profesionalnya, Anom juga dikenal sebagai pribadi sederhana dan dekat dengan keluarga. Ia menikah dengan Noor Faizah Maenofie sejak 1999, yang dikenalnya saat mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) semasa kuliah.
Dalam kehidupan sehari-hari, ia disebut sebagai sosok disiplin, rapi, dan terbuka.
Tak hanya itu, Anom juga dikenal peduli terhadap dunia kreatif. Melalui usaha keluarga bernama Cafe Locomotif, ia menyediakan ruang bagi band lokal serta mendukung komunitas seni, teater, dan perfilman.
Namun kini, perjalanan karier yang dibangun selama puluhan tahun itu tengah diuji. OTT KPK yang menyeret namanya menjadi pukulan telak, sekaligus menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Publik pun menanti kejelasan dari proses hukum yang berjalan, sembari mempertanyakan komitmen pemberantasan korupsi di level pemerintahan daerah. Kasus ini menjadi pengingat bahwa jabatan publik bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga tanggung jawab besar yang harus dijaga dengan integritas.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.
