Blora, Tuturpedia.com – Kondisi industri gula di Kabupaten Blora yang kian memprihatinkan memicu reaksi keras dari para petani tebu. Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora, Anton Sudibyo, menegaskan bahwa ribuan petani kini berada di ambang keterpurukan akibat manajemen pabrik gula yang dinilai tidak profesional. Rabu, (22/04/2026).
Dalam sebuah pernyataan tegas melalu vidio yang beredar, dan saat ini Rabu, (22/04/2026) berada di solo, Anton mengungkapkan bahwa sekitar 30.000 jiwa di Blora menggantungkan hidup mereka pada sektor tebu.
Namun, rusaknya fasilitas pabrik seperti boiler yang meledak hingga proses giling yang tidak sempurna dalam dua tahun terakhir, telah mengakibatkan kerugian materiil yang luar biasa bagi petani akar rumput (grassroot).
“Petani itu sudah menderita. Pak Prabowo sudah memprogramkan swasembada gula di 2027, tapi kalau pabriknya ‘bosok‘ (busuk) dan tidak dipelihara, petani hanya akan terus diinjak dan merugi,” ujar Anton Sudibyo dengan nada penuh emosi.
Gugat Manajemen GMM dan Bulog
Anton juga mengkritik keras pihak Bulog dan manajemen PT Gendhis Multi Manis (GMM). Menurutnya, pihak manajemen saat ini lebih mengutamakan pencitraan daripada solusi konkret di lapangan. Ia menuntut adanya perubahan manajemen total yang lebih jujur, amanah, dan berpihak kepada petani.
“Kami modalnya besar, hampir Rp500 miliar itu modal dari tebu petani. Pabrik itu tidak punya tebu sendiri, mereka hanya mengandalkan kami. Kalau mesin rusak mereka tetap digaji pemerintah, tapi petani? Sekali panen gagal, hancur hidup kami,” tambahnya.

Rencana Aksi: Bertemu Wakil Presiden
Sebagai langkah konkret, Anton Sudibyo bersama rombongan petani yang dipimpin oleh Mas Robik berencana untuk berangkat ke Jakarta pada hari Minggu mendatang.
Mereka dijadwalkan akan diterima oleh Wakil Presiden RI untuk menyampaikan aspirasi dan mencari solusi atas carut-marutnya industri gula di Blora. Aksi ini juga akan bertepatan dengan momentum hari ulang tahun HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia).
Anton berharap pertemuan dengan pimpinan pusat nanti dapat membawa angin segar dan memastikan keberlangsungan ekonomi masyarakat Blora yang selama ini menjadi sokoguru daerah.
Tuntut perubahan manajemen, APTRI mendesak adanya pergantian manajemen di GMM yang lebih jujur, amanah, dan berpihak pada petani, sejalan dengan visi swasembada gula nasional.
Aksi Nyata ke Jakarta, direncanakan pada hari Minggu mendatang, Anton akan memimpin sekitar 40.000 hingga 50.000 petani untuk menghadiri HUT HKTI di Jakarta sekaligus menyampaikan protes dan aspirasi langsung kepada Wakil Presiden RI (terpilih), Gibran Rakabuming Raka.
Anton berharap melalui langkah ini, Presiden Prabowo dan jajaran pemerintah pusat dapat mendengar jeritan hati petani kecil di Blora. “Kita mencari solusi. Semoga ini menjadi jalan baik agar petani bisa kembali tersenyum dan melanjutkan perjuangan hidup mereka,” tutupnya.













