Indeks

Skandal Koperasi Merah Putih: Dugaan Korupsi Raksasa 64 Triliun Rupiah!

Jakarta, Tuturpedia.com – Sebuah dugaan kasus korupsi skala masif kembali mencuat ke permukaan, kali ini menyasar proyek pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Tidak tanggung-tanggung, potensi kerugian negara ditaksir mencapai angka fantastis, yakni 64 Triliun Rupiah. Selasa, (12/05/2026).

Kabar mengejutkan ini bermula dari pengakuan sejumlah kontraktor di wilayah Jawa Barat yang mengerjakan proyek fisik kantor Kopdes tersebut. Mereka mengungkapkan adanya selisih yang sangat mencolok antara anggaran yang dialokasikan dengan realisasi dana yang diterima di lapangan.

Modus Operandi: “Sunat” Anggaran 50%

Berdasarkan informasi yang dihimpun, setiap unit pembangunan kantor Koperasi Merah Putih sejatinya memiliki pagu anggaran sebesar 1,6 Miliar Rupiah.

Namun, para kontraktor mengaku hanya menerima dana sekitar 800 Juta Rupiah untuk menyelesaikan pembangunan fisik tersebut.

Artinya, terdapat dugaan pemotongan atau korupsi sebesar 50% dari total anggaran pada setiap titik pembangunan.

Angka Fantastis: Dari Mana 64 Triliun Berasal?

Dugaan kebocoran dana ini menjadi isu nasional ketika dikalikan dengan target pembangunan secara keseluruhan. Berikut adalah rincian kalkulasinya:

  1. Target Pembangunan: 80.000 Unit Kopdes.
  2. Dugaan Korupsi per Unit: 800 Juta Rupiah.
  3. Total Potensi Kerugian: 64 Triliun Rupiah (dari total anggaran 128 Triliun).

Desakan Penyelidikan Mendalam

Munculnya angka “bocor” yang mencapai setengah dari total anggaran ini memicu gelombang kritik dan tuntutan transparansi. Publik kini mendesak pihak berwenang untuk segera memeriksa dan menyelidiki aliran dana proyek Koperasi Merah Putih ini.

“Ini bukan lagi soal angka kecil, ini uang rakyat yang diduga ditilep dalam jumlah yang tidak main-main. Harus ada pemeriksaan menyeluruh terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam proyek ini,” ujar Gede Sandra.

Foto: Gede Sandra

Hingga berita ini diturunkan, pihak-pihak terkait yang disebut dalam isu ini masih belum memberikan pernyataan resmi. Namun, video kesaksian para kontraktor telah viral di media sosial dan menjadi sorotan tajam netizen yang menuntut keadilan.

Exit mobile version