Jakarta, Tuturpedia.com — Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDIP, Edy Wuryanto, meminta pemerintah tidak lengah menghadapi ancaman hantavirus dengan segera memperkuat kewaspadaan dini melalui pendekatan sistem kesehatan terpadu atau one health system. Selasa, (12/05/2026).
Menurut Edy, penanganan hantavirus tidak bisa hanya bertumpu pada layanan rumah sakit, melainkan harus menyentuh aspek lingkungan dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Ini menyangkut lingkungan hidup sehari-hari masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (11/5).
Ia menegaskan, ada tiga langkah strategis yang harus segera diperkuat pemerintah.
Pertama, memperluas pengintaian terhadap penyakit demam akut yang belum terdiagnosis agar kasus hantavirus tidak luput dari pemantauan.
Kedua, meningkatkan kapasitas diagnosis laboratorium, termasuk pemeriksaan PCR dan serologi di rumah sakit rujukan.
Ketiga, memperkuat pengendalian hewan pengerat (rodentia) serta sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. Edy menilai, pengelolaan sampah, kebersihan permukiman, hingga pengendalian populasi tikus harus menjadi bagian penting dalam kebijakan kesehatan publik.
Edy menjelaskan, hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus. Penularan dapat terjadi saat seseorang menghirup udara yang terkontaminasi partikel urine, feses, atau air liur tikus.
Ia menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko tersebut. “Banyak yang membersihkan gudang atau rumah kosong tanpa perlindungan, padahal itu bisa menjadi jalur penularan. Ini yang harus diedukasi secara serius,” tegasnya.
Untuk itu, Edy mendorong perluasan edukasi publik agar masyarakat memahami cara pencegahan secara tepat. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor, mengingat ancaman zoonosis sangat berkaitan dengan perubahan lingkungan, urbanisasi, hingga perubahan iklim.
“Kita tidak boleh menunggu lonjakan kasus besar baru bergerak. Pencegahan jauh lebih murah dan jauh lebih penting dibandingkan penanganan saat situasi sudah memburuk,” ujarnya.
Edy menambahkan, hantavirus kerap luput dari perhatian karena tidak selalu menimbulkan pandemi besar. Padahal, beberapa jenis seperti Andes virus memiliki tingkat kematian tinggi dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat.
“Justru karena sifatnya silent threat, kita tidak boleh lengah. Dunia sudah belajar bahwa ancaman kesehatan sering datang dari hal-hal yang awalnya dianggap kecil,” pungkasnya.
Sementara itu, kasus terbaru hantavirus tengah menjadi sorotan global setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memantau wabah di kapal pesiar berbendera Belanda, MV Hondius, yang berlayar dari Argentina pada 2 Mei 2026. Tercatat tujuh orang dari total 147 penumpang dan awak kapal jatuh sakit, dengan tiga di antaranya meninggal dunia.
WHO menyebut para korban kemungkinan telah terinfeksi sebelum naik ke kapal, meski kemungkinan penularan antarmanusia di atas kapal tidak dapat dikesampingkan.
Menanggapi hal itu, Kementerian Kesehatan RI menyatakan telah berkoordinasi dengan WHO untuk memperkuat skrining hantavirus. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, pemerintah kini fokus mempersiapkan sistem deteksi dini guna mengantisipasi penyebaran lebih luas.
“Memang masih terkonsentrasi di kapal itu. Tapi kita harus siap, termasuk dalam hal skrining,” ujarnya.
