Tuturpedia.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berada dalam tekanan. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan respons pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat, mata uang Garuda kembali melemah hingga menyentuh level Rp17.556 per dolar AS pada 13 Mei 2026, berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.
Angka tersebut memperpanjang tren depresiasi rupiah sepanjang awal tahun ini. Jika ditarik ke belakang, pelemahan kurs sudah terlihat sejak Januari 2026. Data JISDOR menunjukkan rupiah berada di level Rp16.796 per dolar AS pada Januari, kemudian bergerak ke Rp16.779 pada Februari, naik ke Rp16.999 pada Maret, lalu melemah lebih tajam ke Rp17.324 pada April, sebelum akhirnya menembus Rp17.556 pada pertengahan Mei.
Secara sederhana, dalam waktu kurang dari lima bulan, rupiah telah kehilangan sekitar 4,5 persen nilainya terhadap dolar AS.
Pelemahan ini tidak berdiri sendiri. Ada sejumlah faktor eksternal yang ikut menekan.
Salah satunya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama pasca memanasnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Dalam situasi global yang tidak pasti, investor cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika, fenomena yang dikenal sebagai flight to safety.
Sejumlah analis pasar yang dikutip dalam berbagai laporan ekonomi pekan ini menyebut bahwa setiap eskalasi geopolitik biasanya langsung tercermin pada pasar keuangan, termasuk nilai tukar negara berkembang seperti Indonesia.
Selain faktor geopolitik, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada sikap The Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat. Ekspektasi bahwa suku bunga acuan AS akan tetap tinggi lebih lama membuat dolar AS bertahan kuat terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.
Ketika suku bunga AS tinggi, arus modal global cenderung kembali ke Negeri Paman Sam karena menawarkan imbal hasil yang lebih menarik. Dampaknya, tekanan terhadap mata uang negara berkembang menjadi sulit dihindari.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus memantau dinamika tersebut. Dalam sejumlah kesempatan, BI menegaskan akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi terukur di pasar valuta asing, termasuk lewat instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pasar spot, dan pembelian surat berharga negara di pasar sekunder jika diperlukan.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan stabilitas rupiah menjadi salah satu fokus utama kebijakan moneter nasional, terutama dalam menghadapi tekanan eksternal yang semakin kompleks.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam koridor yang dapat dijelaskan oleh dinamika global, bukan semata-mata persoalan fundamental domestik.
Fundamental ekonomi Indonesia sendiri relatif tetap terjaga. Inflasi masih terkendali, cadangan devisa berada pada level aman, dan pertumbuhan ekonomi domestik masih menunjukkan daya tahan.
Namun, jika tekanan eksternal berlangsung lebih lama, volatilitas rupiah berpotensi berlanjut.
Bagi masyarakat, pelemahan rupiah biasanya akan terasa pada kenaikan harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, hingga tekanan terhadap sektor industri yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
Sementara bagi pemerintah dan pelaku usaha, tantangannya adalah menjaga optimisme di tengah pasar global yang sedang tidak ramah. Sebab hingga hari ini, rupiah masih menghadapi jalan menanjak, sementara dunia belum sepenuhnya tenang.***
