Blora, Tuturpedia.com – Pimpinan PT Mataram Connection Nusantara, Roni Mey Yudha, angkat bicara terkait isu yang menyebut armada pengangkut minyak milik perusahaannya belum memenuhi kualifikasi Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).
Ia menegaskan, seluruh armada yang beroperasi telah lolos inspeksi resmi dan memenuhi standar yang berlaku.
Yudha menjelaskan, operasional armada didukung oleh mitra perusahaan, PT Lantung Jaya Abadi (LJA), melalui perjanjian kerja sama (PKS) berdurasi satu tahun.
Menurutnya, LJA merupakan mitra berpengalaman yang memahami secara detail prosedur, kualifikasi, serta regulasi ketat yang ditetapkan oleh Pertamina.
“Armada kami di-back up oleh LJA, dan kontrak kerja sama berjalan satu tahun.
Kualifikasi dari LJA masih B3, dan sebelumnya semua armada sudah melalui proses inspeksi,” ujar Yudha, Selasa (23/6/2026).
Menanggapi kabar terkait kendala bongkar muatan di Pertamina, Yudha meluruskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari prosedur standar operasional.
Ia menyebut, setiap armada wajib memenuhi ambang batas Basic Sediment and Water (BSW), yakni kadar air dan endapan minyak maksimal 0,5 persen.
Jika dalam pemeriksaan awal kadar BSW melebihi batas tersebut, armada tidak diperkenankan melakukan bongkar muatan dan harus menjalani proses treatment ulang di depo. Proses ini bertujuan menurunkan kadar air hingga sesuai standar.
“Setelah treatment dan hasilnya di bawah 0,5 persen, baru muatan bisa diturunkan. Prosedur ini normal dan masih berjalan hingga sekarang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Yudha memastikan aktivitas pengiriman minyak dari wilayah Soko dan Gandu menuju Pertamina tetap berjalan lancar setiap hari.
Pengiriman dilakukan secara bergantian, menyesuaikan dengan ketersediaan stok di lapangan. Ia merinci, volume pengiriman dari wilayah Gandu rata-rata mencapai 5 hingga 6 tangki per hari, sedangkan dari Soko berkisar antara 2 hingga 3 tangki per hari.
Menanggapi berbagai isu yang beredar di masyarakat, Yudha memilih untuk tetap fokus pada operasional perusahaan dan memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan yang berlaku.
“Isu-isu seperti itu tidak terlalu kami tanggapi. Yang jelas, kami bekerja sesuai prosedur, dan hasil produksi minyak tetap berjalan serta masuk,” pungkasnya.
