Tuturpedia — Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang perebutan trofi paling prestisius dalam sepak bola. Di balik sorotan kepada para bintang lapangan hijau, turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu juga menyimpan cerita lain yang tak kalah menarik, yakni jejak diaspora Asia Tenggara yang semakin terlihat di panggung sepak bola dunia.
Bagi kawasan yang selama ini lebih sering menjadi penonton ketimbang peserta tetap Piala Dunia, kehadiran sejumlah pemain berdarah Asia Tenggara menjadi simbol bahwa batas-batas geografis tak lagi menentukan identitas sepak bola seseorang. Mereka lahir dan besar di Eropa atau Australia, membela negara yang berbeda dari tanah leluhur mereka, namun tetap membawa warisan keluarga yang berakar di Asia Tenggara.
Setidaknya ada beberapa nama yang mencuri perhatian karena memiliki garis keturunan dari Indonesia, Filipina, Vietnam, Malaysia, maupun komunitas diaspora Asia Selatan yang berkembang di kawasan ini.
Dari Filipina ke Austria: David Alaba Tetap Menjadi Kebanggaan Asia Tenggara
Di antara nama-nama tersebut, sosok yang paling dikenal tentu adalah David Alaba. Bek serbabisa yang pernah menjadi pilar Bayern Muenchen dan Real Madrid itu lahir di Wina, Austria, pada 1992.
Namun darah yang mengalir dalam dirinya berasal dari dua benua berbeda. Sang ayah berasal dari Nigeria, sementara ibunya merupakan warga keturunan Filipina yang bekerja sebagai perawat di Austria.
Meski memilih membela Austria sejak level junior hingga senior, Alaba tak pernah menyembunyikan kebanggaannya terhadap latar belakang keluarganya. Selama lebih dari satu dekade, ia menjadi salah satu representasi paling sukses dari diaspora Asia Tenggara dalam sepak bola elite dunia.
Pada Piala Dunia 2026, Alaba kembali menjadi salah satu figur senior yang diandalkan Austria. Kehadirannya menunjukkan bahwa hubungan Asia Tenggara dengan sepak bola dunia tidak selalu harus melalui tim nasional kawasan ini.
Tijjani Reijnders, Darah Indonesia yang Bersinar Bersama Belanda
Nama yang paling akrab di telinga publik Indonesia saat ini mungkin adalah Tijjani Reijnders.
Gelandang Belanda tersebut lahir di Zwolle, Belanda, dari ayah berkebangsaan Belanda dan ibu berdarah Indonesia asal Maluku. FIFA secara resmi menyebut Reijnders memiliki ibu Indonesia dan mengakui kedekatannya dengan budaya Indonesia.
Dalam beberapa kesempatan, Reijnders bahkan mengaku bangga dengan akar Indonesianya.
Ia juga kerap menceritakan makanan Indonesia yang tumbuh bersamanya sejak kecil, mulai dari nasi goreng hingga hidangan khas Maluku.
Perjalanan kariernya terbilang impresif. Setelah berkembang bersama AZ Alkmaar dan AC Milan, Reijnders menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik Eropa. Pada 2025 ia bergabung dengan Manchester City dan semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain penting Belanda menuju Piala Dunia 2026.
Bagi banyak penggemar sepak bola Indonesia, Reijnders menjadi pengingat bahwa talenta berdarah Indonesia mampu bersaing di level tertinggi sepak bola dunia.
Nishan Velupillay dan Cerita Diaspora Malaysia-Sri Lanka
Jika Belanda memiliki Reijnders, Australia membawa kisah menarik melalui Nishan Velupillay.
Penyerang Melbourne Victory itu lahir dan besar di Australia, tetapi berasal dari keluarga multikultural. Ayahnya, Sasinath Velupillay, merupakan warga Malaysia keturunan Tamil Sri Lanka, sedangkan ibunya berdarah Anglo-India.
Kehadirannya di skuad Socceroos menjadi simbol kuat representasi komunitas Asia Selatan dan Asia Tenggara di Australia. Pada Piala Dunia 2026, Velupillay bahkan mencatat sejarah sebagai salah satu pemain keturunan Tamil pertama yang tampil di turnamen tersebut. (myKhel)
Bagi komunitas diaspora Malaysia dan Sri Lanka di berbagai negara, pencapaian Velupillay menjadi sumber kebanggaan tersendiri.
Ibrahim Maza dan Akar Vietnam yang Jarang Dibicarakan
Nama berikutnya mungkin belum setenar Alaba atau Reijnders, tetapi potensinya sangat besar. Ia adalah Ibrahim Maza.
Pemain muda yang membela Aljazair ini lahir di Jerman dari ayah berdarah Aljazair dan ibu keturunan Vietnam. Kombinasi latar belakang tersebut menjadikannya salah satu representasi unik hubungan antara Asia Tenggara, Eropa, dan Afrika dalam sepak bola modern.
Meski memilih membela Aljazair di level internasional, akar Vietnam dalam keluarganya membuat Maza sering disebut sebagai salah satu pemain berdarah Asia Tenggara yang tampil di jalur menuju Piala Dunia 2026.
Di usia yang masih muda, ia diproyeksikan menjadi salah satu wajah baru sepak bola Aljazair dalam beberapa tahun ke depan.
Sepak Bola Modern dan Peta Identitas yang Semakin Cair
Fenomena pemain berdarah Asia Tenggara di Piala Dunia bukanlah kebetulan. Dalam era migrasi global, identitas seorang pesepak bola semakin kompleks.
Seorang pemain bisa lahir di Eropa, tumbuh di Australia, memiliki ayah dari Afrika, ibu dari Asia Tenggara, lalu membela negara yang berbeda lagi. Dunia sepak bola modern menciptakan generasi atlet yang tidak lagi terikat pada satu identitas tunggal.
Bagi Asia Tenggara, kehadiran nama-nama seperti Alaba, Reijnders, Velupillay, dan Maza memiliki makna simbolis yang penting. Mereka mungkin tidak mengenakan jersey Indonesia, Filipina, Vietnam, atau Malaysia. Namun keberadaan mereka di panggung terbesar sepak bola dunia menunjukkan bahwa darah Asia Tenggara kini ikut mengalir dalam cerita Piala Dunia.
Dan mungkin, di tengah gegap gempita Piala Dunia 2026, itulah pengingat paling menarik: bahwa jejak Asia Tenggara ternyata sudah lebih dekat ke panggung utama sepak bola dunia daripada yang selama ini kita bayangkan.***
