Indeks

Gencatan Senjata Iran-Israel Berhasil, Tapi Hubungan Trump-Netanyahu Justru Memanas dan Saling Sindir

Tuturpedia.com — Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menjadi sorotan setelah keduanya melontarkan pernyataan yang oleh banyak pengamat dibaca sebagai “saling sindir” di tengah upaya mengakhiri perang singkat antara Israel dan Iran pada Juni 2025.

Di permukaan, keduanya tetap menampilkan hubungan erat sebagai sekutu strategis. Namun sejumlah pernyataan yang muncul setelah tercapainya gencatan senjata menunjukkan adanya perbedaan pandangan mengenai siapa yang memegang kendali, bagaimana keamanan Israel harus dijaga, dan sejauh mana pengaruh Washington terhadap keputusan militer Tel Aviv.

Momen itu terjadi setelah Trump mengumumkan gencatan senjata yang mengakhiri konflik selama 12 hari antara Israel dan Iran, sebuah perang yang sempat memicu kekhawatiran akan meluas menjadi konflik regional di Timur Tengah.

Trump: “Tanpa Saya Tidak Akan Ada Israel”

Nada paling keras datang dari Trump.

Dalam sejumlah pernyataan kepada media dan unggahan di platform Truth Social pada pertengahan hingga akhir Juni 2025, Trump berulang kali menegaskan peran sentral Amerika Serikat dalam menjaga keamanan Israel.

Pada 24 Juni 2025, saat berbicara kepada wartawan di South Lawn Gedung Putih sebelum berangkat menghadiri KTT NATO di Belanda, Trump meluapkan kekesalannya terhadap Israel dan Iran yang saling menuduh melanggar gencatan senjata yang baru saja diumumkan. Ia menyebut kedua negara itu telah bertempur begitu lama hingga kehilangan arah.

Beberapa hari sebelumnya, Trump juga menegaskan bahwa kontribusinya terhadap keamanan Israel tidak bisa dipisahkan dari keberlangsungan negara tersebut. Hal ini dikutip dalam laporan media internasional yang mengutip pernyataannya pada 16 Juni 2026.

Pernyataan itu muncul ketika Trump mengkritik Netanyahu terkait situasi Lebanon dan meminta pemerintah Israel bertindak lebih bertanggung jawab agar tidak menggagalkan proses diplomatik yang sedang berjalan.

Bagi banyak analis, kalimat tersebut bukan sekadar klaim politik domestik. Pernyataan itu juga dibaca sebagai pengingat bahwa dukungan militer, diplomatik, dan finansial Amerika Serikat selama puluhan tahun merupakan salah satu fondasi utama kekuatan Israel.

Netanyahu Menegaskan Israel Negara Berdaulat

Di sisi lain, Netanyahu tampak tidak ingin muncul sebagai pemimpin yang hanya mengikuti arahan Washington.

Dalam berbagai kesempatan setelah meningkatnya perdebatan mengenai pengaruh AS terhadap kebijakan keamanan Israel, Netanyahu menegaskan bahwa keputusan terkait pertahanan nasional sepenuhnya berada di tangan pemerintah Israel.

Saat berbicara di Yerusalem pada Oktober 2025, Netanyahu mengatakan berbagai tuduhan bahwa Washington mengendalikan kebijakan keamanan Israel adalah klaim yang tidak berdasar.

Ia menegaskan bahwa Israel sendiri yang menentukan kebijakan keamanannya dan tidak didikte pihak mana pun, termasuk sekutu terdekatnya.

Pesan politik tersebut sejalan dengan sikap yang selama ini sering ditunjukkan Netanyahu: menghargai dukungan Amerika Serikat, tetapi tetap menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai ancaman keamanan berada di tangan pemerintah Israel.

Dalam konteks ancaman Iran, Netanyahu juga berulang kali menegaskan bahwa prioritas utamanya adalah mencegah Teheran memperoleh kemampuan senjata nuklir yang menurutnya dapat mengancam eksistensi Israel.

Retaknya Harmoni di Tengah Aliansi Strategis

Meski tidak sampai menimbulkan krisis diplomatik terbuka, pertukaran pesan politik tersebut memperlihatkan dinamika yang lebih kompleks dibanding gambaran hubungan harmonis yang selama ini sering ditampilkan kedua pemimpin.

Trump ingin dikenang sebagai sosok yang berhasil menghentikan perang dan memaksa kedua pihak menerima gencatan senjata. Ia bahkan secara terbuka menekan Netanyahu agar membatalkan rencana serangan balasan terhadap Iran setelah kesepakatan damai diumumkan. Pejabat Amerika dan Israel mengonfirmasi bahwa Trump melakukan intervensi langsung melalui percakapan telepon dengan Netanyahu untuk mencegah eskalasi baru.

Sementara itu, Netanyahu menghadapi tekanan politik domestik yang berbeda. Di Israel, citra ketegasan terhadap Iran dan kelompok-kelompok proksi seperti Hizbullah sering kali menjadi ukuran kepemimpinan seorang perdana menteri. Karena itu, menunjukkan kemandirian dari Washington juga memiliki nilai politik tersendiri di dalam negeri.

Di Antara Diplomasi dan Kepentingan Nasional

Pernyataan Trump dan Netanyahu ini menunjukkan satu kenyataan lama dalam hubungan AS-Israel, kedua negara adalah sekutu dekat, tetapi tidak selalu memiliki pandangan yang identik mengenai cara menghadapi ancaman di Timur Tengah.

Washington berkepentingan menjaga stabilitas kawasan dan menghindari perang berkepanjangan yang dapat menyeret Amerika lebih jauh ke konflik regional. Sebaliknya, pemerintah Israel sering menempatkan pertimbangan keamanan nasional sebagai prioritas utama, bahkan ketika pendekatan tersebut tidak selalu sejalan dengan keinginan Gedung Putih.

Karena itu, “saling sindir” antara Trump dan Netanyahu pasca-gencatan senjata bukan semata persoalan ego dua pemimpin. Di baliknya terdapat pertarungan kepentingan, persepsi keamanan, dan kalkulasi politik yang telah menjadi bagian dari hubungan Amerika Serikat dan Israel selama beberapa dekade.

Fakta Penting

  • 24 Juni 2025 – Washington DC: Trump mengkritik Israel dan Iran setelah gencatan senjata yang diumumkannya mengalami pelanggaran pada jam-jam pertama.
  • 24 Juni 2025 – Washington DC: Trump menekan Netanyahu untuk membatasi serangan balasan Israel terhadap Iran.
  • 24 Juni 2025 – Yerusalem: Netanyahu menerima gencatan senjata tetapi menegaskan Israel akan merespons setiap pelanggaran.
  • Oktober 2025 – Yerusalem: Netanyahu menegaskan Israel adalah negara berdaulat yang menentukan sendiri kebijakan keamanannya.***

Penulis: Rizal Akbar Editor: Permadani T.
Exit mobile version