Indeks

Kerajinan Akar Blora Laris di Luar Negeri, Pelaku UMKM Keluhkan Alat Produksi Masih Manual

Blora, Tuturpedia.com – Produk kerajinan akar asal Kabupaten Blora, Jawa Tengah, telah menjangkau pasar internasional. Namun, di balik peluang ekspor yang terbuka lebar, pelaku usaha masih menghadapi persoalan mendasar: keterbatasan teknologi produksi dan persaingan harga dengan eksportir dari daerah lain. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha lokal yang berupaya mempertahankan kualitas produk sekaligus memenuhi permintaan pembeli luar negeri.

Widyasintha Himayanti, pemilik CV Wreksa Indonesia, mengatakan sekitar 90 persen hasil produksinya ditujukan untuk pasar ekspor. Sejak awal 2025, kerajinan tersebut telah dipasarkan ke sejumlah negara di Eropa, Amerika, Australia, hingga Selandia Baru. Produk yang paling banyak diekspor berupa kerajinan akar, disusul barang daur ulang dan dekorasi.

Meski memiliki pasar internasional, proses produksi belum sepenuhnya didukung peralatan modern. Sebagian pekerjaan masih dilakukan secara manual, termasuk penggunaan oven bakar yang belum mampu menjaga suhu secara otomatis.

Foto: Widyasintha Himayanti, pemilik CV Wreksa Indonesia

“Kalau ditinggal sebentar, suhu turun lagi, mati,” keluhnya, Kamis (29/10/2026).

Persoalan tersebut bukan sekadar masalah teknis. Dalam proses produksi kerajinan, kestabilan suhu dan ketepatan pengolahan menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas produk sebelum dikirim ke pembeli.

Ketika peralatan belum memadai, pelaku usaha harus memberikan pengawasan lebih intensif. Kondisi ini berpotensi menambah beban kerja dan menyulitkan peningkatan kapasitas produksi, terutama ketika permintaan ekspor meningkat.

Selain keterbatasan peralatan, faktor cuaca turut memengaruhi proses pengerjaan. Pelaku usaha juga harus berhadapan dengan persaingan harga dari eksportir luar Blora yang dinilai menjadi tantangan dalam mempertahankan daya saing.

Ironisnya, Blora dikenal sebagai daerah pemasok bahan baku akar untuk industri kerajinan. Bahan tersebut diperoleh dari sejumlah wilayah, seperti Nglebur, Nglobo, dan Randublatung, sebelum diproses lebih lanjut melalui tahap penyelesaian, pengamplasan, dan pengemasan.

Widyasintha menyebut bahan baku akar asal Blora juga dimanfaatkan oleh pelaku usaha kerajinan dari daerah lain, termasuk Jepara, Yogyakarta, dan Semarang.

Sementara itu, Abdul Mujib dari CV Wood Smart menyampaikan bahwa produk kerajinan yang dipasarkannya telah menjangkau Belanda, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Transaksi ekspor dilakukan melalui transfer telegrafik atau TT dengan mekanisme uang muka dan pelunasan sebelum kontainer diberangkatkan.

Jangkauan pasar tersebut memperlihatkan adanya peluang ekonomi yang dapat terus dikembangkan. Akan tetapi, keberhasilan menembus pasar luar negeri perlu diimbangi dengan pembenahan proses produksi agar pelaku usaha Blora tidak tertinggal dalam hal efisiensi dan daya saing.

Pelaku usaha menilai, salah satu daerah pembanding adalah Jepara, yang disebut telah menggunakan mesin dengan pengaturan suhu terkontrol. Perbedaan teknologi tersebut menjadi perhatian karena modernisasi peralatan dapat membantu menjaga konsistensi proses produksi.

Atas kondisi itu, pelaku usaha berharap Pemerintah Kabupaten Blora tidak menutup mata terhadap kebutuhan UMKM yang telah berupaya membuka akses pasar internasional.

“Kita mohon kepada Pemkab Blora agar mensupport teman-teman UMKM seperti kita. Meskipun bukan kita yang dapat, saya harap Pemkab Blora peduli kepada UMKM Blora,” tegas Widyasintha.

Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa UMKM yang mampu menembus pasar ekspor membutuhkan dukungan berkelanjutan, bukan hanya apresiasi atas keberhasilannya.

Dukungan dapat diarahkan pada peningkatan teknologi produksi, penguatan kapasitas pelaku usaha, serta fasilitasi agar produk kerajinan Blora mampu bersaing dari sisi kualitas, efisiensi, dan harga.

Dengan potensi bahan baku dan pasar yang telah terbentuk, kerajinan akar Blora memiliki modal untuk tumbuh lebih besar. Tantangannya kini adalah bagaimana potensi tersebut didukung dengan sarana produksi yang memadai sehingga manfaat ekonomi dan nilai tambahnya semakin dirasakan oleh pelaku UMKM di daerah sendiri.

Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.

Exit mobile version