Blora, Tuturpedia.com – Kerajinan akar asal Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kian menunjukkan taringnya di pasar internasional. Produk kerajinan berbahan akar yang diolah pelaku usaha lokal berhasil menembus pasar Eropa, Amerika Serikat, Australia, hingga Selandia Baru.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa potensi sumber daya lokal Blora memiliki daya saing di pasar global. Bahkan, sebagian besar produksi kerajinan akar dari pelaku usaha di daerah ini ditujukan untuk memenuhi permintaan konsumen luar negeri.
Widyasintha Himayanti, pemilik CV Wreksa Indonesia, mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen hasil produksinya dialokasikan untuk pasar ekspor. Sementara itu, hanya sebagian kecil yang dipasarkan di dalam negeri.
“Sekitar 90 persen produksi kita untuk ekspor, sisanya hanya sebagian kecil untuk pasar lokal,” ujar Widyasintha, Kamis (29/10/2026).
Menurutnya, produk unggulan yang paling banyak diminati pasar internasional adalah kerajinan akar, disusul produk daur ulang atau recycle serta berbagai barang dekorasi.
Blora dinilai memiliki keunggulan tersendiri karena dikenal sebagai salah satu sumber bahan baku akar untuk kerajinan. Bahan tersebut bahkan dimanfaatkan oleh pelaku industri kerajinan dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kayak Jepara, Jogja, Semarang, pasti akar dari Blora,” katanya.
Bahan baku diperoleh melalui sejumlah pemasok dari wilayah Blora dan sekitarnya, di antaranya Nglebur, Nglobo, dan Randublatung. Setelah mendapatkan bahan setengah jadi, pelaku usaha melanjutkan proses produksi melalui tahap finishing, pengamplasan, hingga pengemasan sebelum barang dikirim kepada pembeli.
Sementara itu, Abdul Mujib dari CV Wood Smart menyebutkan bahwa pasar ekspor produknya mencakup Belanda, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.
Dalam transaksi perdagangan internasional tersebut, pembayaran dilakukan melalui mekanisme transfer telegrafik atau telegraphic transfer (TT), dengan sistem uang muka dan pelunasan sebelum kontainer diberangkatkan.
Keberhasilan menembus pasar internasional tersebut menunjukkan bahwa kerajinan berbasis potensi lokal mampu menjadi salah satu peluang pengembangan ekonomi daerah. Namun, capaian itu dinilai masih perlu diperkuat melalui peningkatan teknologi produksi, kualitas barang, dan dukungan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pelaku usaha mengakui, proses produksi masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari faktor cuaca hingga keterbatasan peralatan yang sebagian masih dioperasikan secara manual.
Salah satu persoalan yang dihadapi adalah penggunaan oven bakar yang belum dilengkapi sistem pengaturan suhu otomatis. Kondisi tersebut membuat proses produksi membutuhkan pengawasan lebih intensif agar suhu tetap stabil.
Di sisi lain, persaingan harga dengan eksportir dari luar Blora juga menjadi tantangan yang harus dihadapi agar produk lokal tetap kompetitif di pasar internasional.
Karena itu, pelaku usaha berharap Pemerintah Kabupaten Blora memberikan perhatian lebih besar terhadap pengembangan UMKM, termasuk melalui dukungan teknologi produksi dan peningkatan kapasitas usaha.
“Kita mohon kepada Pemkab Blora agar men-support teman-teman UMKM seperti kita. Meskipun bukan kita yang dapat, saya harap Pemkab Blora peduli kepada UMKM Blora,” pungkasnya.
Dengan pasar ekspor yang telah terbentuk, kerajinan akar Blora memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh. Dukungan pemerintah, peningkatan teknologi, dan penguatan kapasitas produksi diharapkan dapat membuat produk lokal tidak sekadar dikenal sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga semakin kuat sebagai produk kerajinan bernilai tambah di pasar dunia.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.
