Blora, Tuturpedia.com – Kunjungan kerja Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Hasanuddin Mas’ud, ke Kabupaten Blora tak hanya menjadi ajang studi tiru pengelolaan sumur minyak rakyat, tetapi juga membuka daya tarik lain yang tak kalah menggoda: kekayaan kuliner khas Blora yang siap memanjakan lidah para tamu dari luar daerah. Senin, (06/07/2026).
Rombongan DPRD Kaltim datang dengan misi utama mempelajari keberhasilan Blora dalam mengelola sumur tua sebagai sumber pendapatan daerah. Namun di balik diskusi serius tentang energi dan ekonomi, terselip cerita hangat tentang kuliner lokal yang justru menjadi magnet tersendiri bagi para tamu.
Hasanuddin Mas’ud mengakui, Blora tidak hanya unggul dalam tata kelola sumur rakyat, tetapi juga memiliki daya tarik budaya dan kuliner yang kuat. “Kami belajar banyak di sini, mulai dari regulasi hingga praktik lapangan. Tapi jujur saja, Blora juga terkenal dengan kulinernya. Itu juga bagian dari pengalaman daerah yang tidak bisa dilewatkan,” ujarnya.
Kuliner Blora, Sederhana tapi Menggoda
Di tengah padatnya agenda kunjungan, Hasanuddin sempat berseloroh bahwa dirinya belum sempat mencicipi kuliner khas Blora. Namun, ia memastikan akan meluangkan waktu sebelum kembali ke Kalimantan Timur.
“Saya sudah dijanjikan diajak makan sate Blora. Ini yang kami tunggu-tunggu juga,” ucapnya sambil tersenyum.
Sate Blora memang menjadi salah satu ikon kuliner daerah yang terkenal dengan cita rasa khas. Berbeda dengan sate pada umumnya, sate Blora memiliki bumbu yang lebih gurih dengan sentuhan rempah sederhana namun kuat. Biasanya disajikan dengan lontong dan kuah santan ringan yang menambah kenikmatan saat disantap.
Tak hanya sate, Blora juga memiliki beragam kuliner tradisional lain seperti sego kobong, soto, lontong tahu, hingga jajanan pasar yang masih terjaga keasliannya. Kuliner-kuliner ini menjadi bagian penting dari identitas lokal yang turut menggerakkan ekonomi masyarakat.
Potensi Kuliner sebagai Pendukung Ekonomi Daerah
Kunjungan DPRD Kaltim ini secara tidak langsung juga menyoroti potensi lain Blora yang bisa dikembangkan, yakni sektor kuliner sebagai pendukung ekonomi daerah. Seiring berkembangnya sektor energi dari sumur tua, geliat UMKM kuliner di Blora juga ikut tumbuh.
Warung sate, angkringan, hingga rumah makan khas Blora kini semakin ramai dikunjungi, baik oleh warga lokal maupun tamu dari luar daerah. Kehadiran tamu-tamu studi banding seperti dari Kaltim menjadi peluang tersendiri bagi pelaku usaha kuliner untuk memperkenalkan cita rasa khas Blora ke level yang lebih luas.
Pimpinan DPRD Blora yang menyambut rombongan Kaltim pun tak melewatkan kesempatan ini. Mereka berkomitmen tidak hanya berbagi ilmu soal pengelolaan sumur tua, tetapi juga memperkenalkan kekayaan kuliner lokal sebagai bagian dari paket lengkap kunjungan ke Blora.
Blora: Belajar Energi, Menikmati Tradisi
Blora kini perlahan menunjukkan diri sebagai daerah yang tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga budaya dan kuliner. Kombinasi antara keberhasilan pengelolaan sumur tua dan kekuatan kuliner lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi daerah lain untuk belajar.
Bagi Hasanuddin Mas’ud dan rombongan DPRD Kaltim, kunjungan ini menjadi pengalaman lengkap—belajar strategi pengelolaan energi sekaligus menikmati kehangatan budaya dan cita rasa khas daerah.
“Belajar ke Blora ini lengkap. Ilmu dapat, pengalaman juga dapat. Tinggal nanti kami buktikan sendiri rasa sate Blora,” pungkasnya.
Dengan segala potensi yang dimiliki, Blora tak hanya layak menjadi rujukan dalam pengelolaan energi, tetapi juga destinasi kuliner yang patut diperhitungkan.














