Dari “Nyenyenye”, “Ndasmu”, hingga “Emang Gue Pikirin”: Ketika Gaya Pidato Prabowo Semakin Ceplas-ceplos dan Menjadi Perbincangan

TUTURPEDIA - Dari "Nyenyenye", "Ndasmu", hingga "Emang Gue Pikirin": Ketika Gaya Pidato Prabowo Semakin Ceplas-ceplos dan Menjadi Perbincangan
banner 120x600

Tuturpedia.com — Dalam beberapa bulan terakhir, gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto berulang kali menjadi perhatian publik. Bukan semata karena substansi kebijakan yang disampaikan, melainkan juga pilihan kata yang digunakannya di berbagai forum.

Mulai dari menirukan ejekan “nyenyenye“, melontarkan kata “ndasmu“, hingga menutup candaan dengan kalimat “emang gue pikirin“, sederet ucapan tersebut dengan cepat beredar di media sosial dan memantik perdebatan. Sebagian publik menilai gaya itu mencerminkan sosok pemimpin yang lugas, spontan, dan dekat dengan masyarakat. Sebagian lainnya mempertanyakan apakah diksi semacam itu layak diucapkan oleh seorang kepala negara dalam forum resmi.

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana komunikasi politik di era digital telah berubah. Potongan video berdurasi beberapa detik kerap memiliki daya sebar yang lebih besar dibanding keseluruhan isi pidato, sehingga satu frasa mampu mendominasi ruang publik selama berhari-hari.

Salah satu ucapan yang paling banyak diperbincangkan disampaikan Prabowo saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Ballroom Novotel, Bandar Lampung, Rabu, 10 Juni 2026.

Dalam pidatonya, Prabowo mengajak para pengusaha muda agar tidak terpengaruh oleh pihak-pihak yang terus melontarkan kritik tanpa menawarkan solusi. Ia kemudian menirukan nada mengejek dengan mengucapkan “nyenyenye” sembari memperagakan gestur khas yang langsung mengundang gelak tawa peserta.

Menurut Prabowo, seorang pemimpin maupun pelaku usaha tidak boleh terlalu larut mendengarkan cibiran yang hanya melemahkan semangat.

Potongan pidato tersebut segera menyebar luas di berbagai platform media sosial. Kata “nyenyenye” bahkan menjadi bahan meme dan parodi, sekaligus memperkuat citra Prabowo sebagai pemimpin dengan gaya komunikasi yang semakin santai dan ekspresif.

Dua pekan berselang, gaya komunikasi Prabowo kembali menjadi sorotan ketika menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, 24 Juni 2026.

Saat menjelaskan teori ekonomi mengenai trickle-down effect, Prabowo menyelipkan kata “ndasmu“, sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang secara harfiah berarti “kepalamu” dan lazim digunakan sebagai bentuk sindiran atau ungkapan kekesalan.

Sesaat setelah mengucapkannya, ia langsung berkata, “Eh, maaf,” yang disambut tawa para hadirin.

Tak lama kemudian, Prabowo kembali berkelakar ketika menyadari ucapannya berpotensi menjadi sorotan media.

“Coba di-delete… nanti gue dihajar lagi itu. Emang gue pikirin.” ucap Prabowo.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengatakan bahwa masyarakat lebih menyukai pemimpin yang berbicara apa adanya dibanding terlalu menjaga formalitas.

“Sudah hari gini kita bicara apa adanya deh… daripada yang nyenyenye.” lanjutnya.

Ucapan tersebut kembali viral dan memunculkan beragam tanggapan. Sebagian masyarakat menilai gaya itu terasa lebih membumi dan tidak dibuat-buat. Namun, kritik juga bermunculan dari sejumlah pengamat komunikasi dan akademisi yang menilai seorang presiden tetap perlu menjaga pilihan bahasa karena setiap ucapannya membawa representasi institusi negara.

Ketika Satu Kalimat Lebih Viral daripada Isi Pidato

Fenomena ini menunjukkan perubahan lanskap komunikasi politik. Di tengah dominasi media sosial, perhatian publik sering kali tertuju pada satu potongan kalimat dibanding keseluruhan isi pidato yang berdurasi puluhan menit.

Akibatnya, pembahasan mengenai program pemerintah, kebijakan ekonomi, atau strategi pembangunan acap kali tenggelam oleh viralnya satu frasa yang dianggap unik, lucu, atau kontroversial.

Bagi pendukung Prabowo, gaya bicara tersebut dinilai sebagai bentuk komunikasi yang lebih jujur dan mudah dipahami masyarakat. Bahasa yang tidak terlalu birokratis dianggap mampu menghilangkan jarak antara pemimpin dan rakyat.

Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa kepala negara memiliki posisi simbolik yang berbeda dengan politisi biasa. Karena itu, pilihan diksi dalam setiap pidato tetap memiliki dimensi etik, diplomatik, sekaligus kelembagaan.

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, rangkaian pidato Prabowo dalam beberapa waktu terakhir memperlihatkan konsistensi gaya komunikasi yang semakin spontan, langsung, dan sering kali diselingi humor. Namun di sisi lain, seolah memantik juga dugaan dari beberapa pihak bawa Prabowo memang merupakan sosok yang agak tempramen.

Di era ketika potongan video berdurasi belasan detik dapat menjangkau jutaan orang dalam hitungan jam, satu kata sederhana mampu memiliki gaung politik yang sama besarnya dengan pembahasan mengenai sebuah kebijakan.***

Penulis: Rizal Akbar Editor: Permadani T.
tuturpedia.com - 2026