Indeks

Dampak Konflik Israel–Iran Mengguncang Industri, DPR RI Edy Wuryanto Wanti-Wanti Gelombang PHK Mengintai!

Grobogan, Tuturpedia.com — Alarm bahaya mulai berbunyi. Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, memperingatkan potensi gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Indonesia akibat lonjakan harga bahan baku yang dipicu eskalasi konflik antara Israel dan Iran. Minggu, (19/04/2026).

Peringatan itu disampaikan usai pertemuan dengan pelaku usaha di Balai Latihan Kerja Grobogan, Selasa (14/04), di tengah meningkatnya tekanan pada sektor industri nasional.

Konflik geopolitik di Timur Tengah kini mulai merembet ke dalam negeri. Rantai pasok global terganggu, harga bahan baku melonjak, dan biaya produksi perusahaan ikut membengkak. Sektor yang paling terpukul adalah industri pangan dan manufaktur—dua tulang punggung ekonomi riil Indonesia.

Edy mengungkapkan kondisi paling mencemaskan terjadi pada bahan baku plastik. Ketersediaannya di pasar disebut merosot drastis hingga 50 persen, sementara harga terus merangkak naik tajam.

“Harga daging dan sebagian besar bahan baku terdampak cukup signifikan. Perang Israel dan Iran berpengaruh besar, terutama pada bahan baku plastik. Saat ini sekitar 50 persen bahan baku plastik sulit didapat dan harganya melambung tinggi,” tegasnya.

Situasi ini menempatkan pelaku usaha, khususnya sektor kecil dan menengah, dalam posisi terjepit. Lonjakan biaya produksi membuat banyak perusahaan tak punya pilihan selain melakukan efisiensi ekstrem—yang berujung pada ancaman pengurangan tenaga kerja.

Tekanan diperparah oleh gangguan distribusi logistik internasional serta fluktuasi nilai tukar rupiah yang semakin melemahkan daya tahan industri dalam mempertahankan operasional dan karyawan.

Merespons kondisi tersebut, DPR melalui Komisi IX langsung bergerak. Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia diminta segera menyiapkan langkah mitigasi, termasuk perlindungan dan pendampingan bagi para pekerja yang berpotensi terdampak PHK.

Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) guna memetakan dampak riil di lapangan dan merumuskan strategi penyelamatan sektor industri.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik di kawasan produsen energi tersebut turut memberikan tekanan tambahan pada struktur anggaran negara. Kenaikan biaya logistik dan harga polimer industri menjadi jalur utama rambatan krisis global ke pasar domestik.

Jika tidak segera diantisipasi, badai eksternal ini berpotensi berubah menjadi krisis internal—dengan PHK massal sebagai dampak paling nyata.

“Ini harus diantisipasi serius. Jangan sampai industri kolaps dan rakyat yang jadi korban,” pungkas Edy.

Exit mobile version