Beruntun dalam Sepekan, Tiga Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Saat Latsarmil, Beragam Faktor Penyebab Terungkap

TUTURPEDIA - Beruntun dalam Sepekan, Tiga Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Saat Latsarmil, Beragam Faktor Penyebab Terungkap
banner 120x600

Tuturpedia — Program Latihan Dasar Militer (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDMP) tengah menjadi sorotan setelah tiga peserta dilaporkan meninggal dunia selama mengikuti rangkaian pendidikan. Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengungkap bahwa masing-masing peserta memiliki kondisi kesehatan yang berbeda berdasarkan hasil pemeriksaan medis.

Peserta pertama yang meninggal dunia adalah Anisa Muyassaroh, calon manajer yang mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan.

Menurut keterangan Kemenhan, Anisa mulai mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026. Ia sempat mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemenhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, dalam siaran pers yang disampaikan pada Selasa, 23 Juni 2026, menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan medis menunjukkan penyebab kematian peserta tersebut.

TUTURPEDIA - Beruntun dalam Sepekan, Tiga Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Saat Latsarmil, Beragam Faktor Penyebab Terungkap
Beruntun dalam Sepekan, Tiga Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Saat Latsarmil, Beragam Faktor Penyebab Terungkap 5

“(Anisa) mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 dan telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit. Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke,” ujar Rico.

Selain Anisa, peserta lain yang juga meninggal dunia adalah Yonanda Muhammad Taufiq, yang menjalani pendidikan di Satdik Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklatad), Baturaja.

Yonanda dilaporkan mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026. Setelah kondisinya memburuk, ia dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

Masih dalam pernyataan yang disampaikan pada Selasa, 23 Juni 2026, Rico mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan medis menunjukkan penyebab wafatnya peserta tersebut.

“Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest (henti jantung),” ungkap Rico.

Sementara itu, kasus terbaru menimpa Novia Rahmadhani Sihotang, peserta yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta.

TUTURPEDIA - Beruntun dalam Sepekan, Tiga Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Saat Latsarmil, Beragam Faktor Penyebab Terungkap

Rico menjelaskan bahwa Novia mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026 dan langsung memperoleh penanganan dari tim kesehatan satuan. Namun karena kondisinya terus menurun, ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Esnawan Antariksa untuk menjalani perawatan lebih lanjut.

Meski telah mendapatkan penanganan intensif dari tenaga medis, nyawa Novia tidak dapat diselamatkan. Ia dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026.

Dalam keterangan yang sama pada Selasa, 23 Juni 2026, Rico menyebut hasil pemeriksaan menunjukkan adanya keterkaitan dengan riwayat penyakit yang diderita peserta tersebut.

“Meskipun telah memperoleh perawatan intensif, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan yang dialami berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis (TB),” jelas Rico.

Atas peristiwa tersebut, Kementerian Pertahanan menyampaikan duka cita kepada keluarga para peserta yang meninggal dunia. Kemenhan juga menyatakan tengah melakukan evaluasi bersama Panitia Seleksi Nasional serta penyelenggara pendidikan guna meninjau pelaksanaan program secara menyeluruh.

Evaluasi itu mencakup penguatan sistem pemantauan kesehatan peserta selama pelatihan berlangsung agar aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan program.

Di sisi lain, anggota Komisi VI DPR RI Imas Aan Ubudiyah meminta agar mekanisme rekrutmen calon manajer Kopdes Merah Putih turut dievaluasi. Menurutnya, kejadian ini menjadi momentum penting untuk memperkuat tata kelola program, khususnya dalam aspek mitigasi risiko kesehatan.

Dalam keterangannya pada Rabu, 24 Juni 2026, Imas menegaskan bahwa pembinaan melalui kegiatan retret maupun pelatihan tetap penting, namun harus dibarengi dengan sistem perlindungan peserta yang memadai.

“Musibah ini hendaknya menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat tata kelola. Retret tetap penting, tetapi standar mitigasi risiko, skrining kesehatan, pendampingan medis, dan pemetaan kemampuan fisik peserta juga harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembinaan,” ujar Imas.

Ia menambahkan bahwa tujuan mencetak pengelola koperasi yang tangguh tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan peserta.

“Dengan demikian, tujuan mencetak manajer koperasi yang tangguh dapat tercapai tanpa mengabaikan aspek keselamatan,” sambungnya.

Untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang, Imas mengusulkan agar seluruh calon pengelola Kopdes Merah Putih menjalani pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara independen dan profesional sebelum mengikuti pelatihan.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan setiap peserta benar-benar siap menjalani aktivitas dengan tingkat intensitas tinggi yang menjadi bagian dari program pembinaan.

“Alangkah baiknya apabila sebelum retret dilakukan pemeriksaan kesehatan secara independen terhadap seluruh calon peserta. Ini harus diperkuat dan kalau terdapat riwayat penyakit tertentu atau kondisi fisik yang dinilai tidak memungkinkan untuk mengikuti aktivitas dengan intensitas tinggi, maka perlu diberikan alternatif pembinaan yang lebih sesuai,” tutup Imas.***

Penulis: Rizal Akbar Editor: Permadani T.
tuturpedia.com - 2026