Blora, Tuturpedia.com – Program bantuan bedah rumah yang disebut-sebut berasal dari salah satu anggota DPRD Blora berinisial “J” menuai sorotan dari warga Kecamatan Kunduran. Sejumlah penerima manfaat mengaku kebingungan dan mulai mempertanyakan transparansi bantuan, setelah material bangunan yang datang dinilai tidak sebanding dengan nominal yang dijanjikan. Minggu, (19/07/2026).
Informasi yang dihimpun oleh awak media ini dari berbagai sumber warga, menyebutkan, bantuan tersebut dialokasikan sebesar Rp20 juta per rumah, dengan rincian Rp17 juta untuk bahan bangunan dan Rp3 juta untuk biaya tukang serta kuli. Namun di lapangan, warga mengaku material yang diterima masih jauh dari cukup untuk menunjang pembangunan atau renovasi rumah secara layak.
Warga yang enggan disebutkan namanya dan sebut saja bernisial I, salah satu penerima manfaat yang rumahnya berada di belakang Pasar Kunduran mengungkapkan, pengiriman material dilakukan secara bertahap sejak Selasa (14/07). Pengiriman berlangsung hingga Kamis, namun setelah itu tidak ada lagi tambahan material yang datang hingga akhir pekan.
“Baru kemarin itu datang Selasa, Rabu, Kamis. Terus Jumat sampai hari ini belum ada lagi yang datang. Warga jadi bertanya-tanya, ini sebenarnya totalnya berapa dan kapan lengkapnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, dari informasi yang beredar, nilai Rp17 juta disebut sudah diwujudkan dalam bentuk bahan bangunan. Namun kondisi di lapangan memunculkan keraguan, karena jumlah material yang diterima dinilai minim.
“Kalau dibilang sudah jadi bahan semua, kok yang datang cuma segini. Semen sekitar 20 sak, lem dua, terus hebel juga sedikit. Padahal rumah saya kondisinya memang masih butuh banyak,” keluhnya.
Tak hanya itu, ia juga mengaku mendengar adanya perbedaan jumlah material antar penerima manfaat. Bahkan, muncul dugaan di kalangan warga bahwa distribusi bahan tidak merata.
“Katanya ada yang dapat sampai 5 kubik hebel. Di rumah saya segini saja. Bahkan ada kekhawatiran seolah-olah yang sudah terpasang di rumah saya dianggap dari bantuan, padahal itu hasil perbaikan lama dari orang tua saya,” jelasnya.
Program bedah rumah ini disebut menyasar sekitar 20 titik di wilayah Kunduran. Namun hingga kini, belum ada penjelasan resmi yang rinci terkait mekanisme distribusi material, tahapan pengiriman, maupun rincian anggaran yang digunakan.
Kondisi ini memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Warga berharap adanya keterbukaan dari pihak terkait, khususnya dari anggota DPRD yang disebut sebagai penginisiasi program tersebut.
“Kalau memang masih proses pengiriman, seharusnya disampaikan ke warga. Jadi tidak menimbulkan kecurigaan. Karena ini menyangkut hak penerima manfaat,” tambahnya.
Para penerima bantuan pun menyampaikan harapan agar program bedah rumah ini benar-benar dijalankan secara transparan dan tepat sasaran. Mereka meminta adanya kejelasan terkait jumlah material yang seharusnya diterima serta jadwal distribusi yang pasti.
“Harapan kami sederhana, tolong transparan. Kalau memang Rp17 juta itu untuk bahan, ya dijelaskan rinciannya apa saja. Supaya kami tidak bertanya-tanya dan tidak terjadi salah paham di masyarakat,” tegasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai keluhan warga tersebut. Masyarakat berharap DPRD Blora maupun koordinator program segera memberikan klarifikasi agar polemik ini tidak semakin meluas.
