Jakarta, Tuturpedia.com – Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, menyoroti wacana kebijakan ekspor terpusat atau one gate policy yang tengah mengemuka. jumat, (22/05/2026).
Ia mengingatkan, meskipun kebijakan tersebut bertujuan memperkuat kontrol negara terhadap komoditas strategis, penerapannya tidak boleh dilakukan tanpa kesiapan regulasi yang matang.
Menurut Firman, konsep ekspor satu pintu berpotensi memberikan manfaat jika dikelola dengan baik, seperti meningkatkan kendali terhadap harga dan volume ekspor nasional.
Namun, di sisi lain, kebijakan ini juga menyimpan risiko besar apabila tidak didukung sistem tata kelola yang kuat dan transparan.
Ia mencontohkan keberhasilan Chile dalam menerapkan kebijakan serupa, tetapi dengan catatan bahwa struktur ekonomi dan birokrasi negara tersebut jauh lebih sederhana dibanding Indonesia.
Sebaliknya, Firman mengingatkan kegagalan Venezuela dalam mengelola kebijakan ekonomi terpusat akibat lemahnya kesiapan sistem dan regulasi.
“Jangan sampai kebijakan ini kalau tidak disiapkan regulasinya dengan kuat justru menimbulkan capital flight. Karena sektor padat karya seperti perkebunan sawit, minyak dan gas bumi, itu semua investasi besar yang juga melibatkan sektor perbankan,” tegasnya.
Firman menilai, ketidakpastian kebijakan akan berdampak langsung terhadap kepercayaan investor dan lembaga keuangan, baik dalam negeri maupun internasional.
Kondisi ini berpotensi mendorong pelaku usaha memindahkan investasinya ke negara lain yang dinilai lebih stabil.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan sektor strategis seperti kelapa sawit. Menurutnya, industri sawit Indonesia harus dilindungi dengan regulasi yang kuat agar tidak kalah bersaing di pasar global.
Firman bahkan menyoroti langkah negara lain seperti Malaysia yang dinilai lebih progresif dalam melindungi industri sawitnya.
Jika Indonesia tidak berhati-hati, ia khawatir peluang justru akan dimanfaatkan negara pesaing, bahkan hingga ke kawasan Afrika yang mulai mengembangkan sektor sawit dengan belajar dari Indonesia.
“Kalau tidak hati-hati, justru negara lain yang akan diuntungkan. Sawit bisa saja bergeser ke Malaysia atau bahkan Afrika,” pungkasnya.
Pernyataan ini mempertegas pentingnya kehati-hatian pemerintah dalam merumuskan kebijakan strategis, terutama di tengah dinamika ekonomi global.
DPR RI terus mengingatkan agar setiap kebijakan tidak hanya berorientasi pada kontrol negara, tetapi juga menjaga stabilitas investasi dan keberlanjutan sektor usaha nasional.












