Tuturpedia.com — Peristiwa kekerasan kembali terjadi di tengah kegiatan warga. Seorang pria bernama Dadang (58), warga Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan saat menggelar hajatan pernikahan anaknya, Minggu, 6 April 2026.
Insiden itu bermula dari kedatangan sekelompok pria ke lokasi hiburan organ tunggal yang menjadi bagian dari rangkaian acara. Menurut keterangan yang dihimpun, kelompok tersebut diduga berada dalam pengaruh minuman keras dan meminta sejumlah uang kepada panitia.

Permintaan itu sempat dilayani dengan pemberian uang sebesar Rp100 ribu. Namun, nominal tersebut ditolak. Mereka disebut meminta jumlah yang lebih besar, hingga ratusan ribu rupiah. Situasi yang semula terkendali perlahan berubah tegang.
Dadang, sebagai tuan rumah, kemudian turun tangan. Ia menegur kelompok tersebut agar tidak mengganggu jalannya acara keluarga. Teguran itu justru memicu emosi. Adu mulut tak terhindarkan, dan suasana hajatan yang seharusnya menjadi momen bahagia berubah menjadi ricuh.



Keributan berlanjut hingga ke depan rumah korban. Dalam situasi itu, Dadang menjadi sasaran pengeroyokan. Ia dipukul menggunakan benda keras, diduga bambu, hingga terjatuh dan tidak sadarkan diri di lokasi kejadian.
Warga yang berada di sekitar lokasi sempat berupaya memberikan pertolongan dan melarikan korban ke fasilitas kesehatan terdekat. Namun, luka yang diderita cukup parah, terutama di bagian kepala. Nyawa Dadang tidak tertolong.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan yang dipicu konsumsi alkohol dan praktik pemalakan di ruang-ruang sosial masyarakat. Aparat kepolisian setempat dilaporkan tengah melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi dan menangkap para pelaku yang melarikan diri usai kejadian.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keamanan dalam acara warga masih menyisakan celah. Di banyak daerah, hiburan hajatan kerap menjadi titik rawan, terutama ketika tidak diiringi pengawasan dan pengamanan yang memadai.
Sejumlah laporan media menyebut aparat telah mengantongi identitas beberapa terduga pelaku. Proses pengejaran masih berlangsung, sementara keluarga korban kini harus menghadapi kenyataan pahit: pesta yang seharusnya menjadi hari bahagia, berujung duka mendalam.***



















