Indeks

Target Zero TB 2030: Edy Wuryanto dan Wamenkes ‘Blusukan’ Tracing Ribuan Warga Pati.

Pati, Tuturpedia.com – Indonesia saat ini masih menduduki peringkat kedua dunia untuk kasus Tuberkulosis (TB). Menanggapi situasi darurat ini, Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Edy Wuryanto, melakukan langkah nyata dengan meninjau langsung penanganan TB di Kabupaten Pati, Selasa (21/04/2026).

Dalam kunjungan lapangan bersama Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Oktavianus tersebut, Edy menegaskan bahwa paradigma penanganan TB harus berubah: dari menunggu pasien menjadi mengejar kasus (jemput bola).

Tracing Masif: 13.290 Orang Jadi Sasaran

Edy menekankan bahwa sesuai amanah Perpres Nomor 67 Tahun 2021, pemerintah daerah harus terlibat aktif. Di Pati sendiri, tercatat ada 2.658 penderita TB yang telah ditelusuri.

“Negara harus hadir langsung ke warga. Kita lakukan tracing besar-besaran. Jika satu pasien punya lima kontak erat, maka ada sekitar 13.290 orang yang harus diperiksa,” ujar Legislator dari Dapil Jawa Tengah III tersebut.

Strategi yang diusung adalah menempatkan layanan pemeriksaan di titik terdekat dengan warga, seperti balai desa dan kantor kecamatan. Sebanyak 130 titik kegiatan disiapkan dengan dukungan mobil rontgen dan alat Tes Cepat Molekuler (TCM).

Jangan Takut Angka Kasus Tinggi

Edy mengingatkan pemerintah daerah agar tidak merasa tabu jika angka penemuan kasus di wilayahnya melonjak. Menurutnya, semakin banyak kasus ditemukan, semakin besar peluang rantai penularan diputus.

  • Pemerintah Pusat: Wajib memastikan ketersediaan alat tes dan obat-obatan.
  • Pemerintah Daerah: Melalui Puskesmas, wajib memastikan pasien disiplin minum obat hingga sembuh total.
  • Kontak Erat: Tetap diberikan terapi pencegahan meski hasil tes negatif.

Soroti Kondisi Hunian: “Obat Saja Tidak Cukup”

Hal menarik dalam kunjungan ini adalah sorotan Edy terhadap aspek sosial-ekonomi penderita. Ia menemukan korelasi kuat antara penularan TB dengan kondisi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

“Banyak penderita berasal dari rumah dengan pencahayaan buruk, ventilasi minim, dan lantai lembap. Untuk warga di desil 1 sampai 4, intervensi kesehatan harus dibarengi dengan program bedah rumah,” tegas Edy. Tanpa perbaikan lingkungan, risiko penularan akan terus berulang meski pengobatan medis diberikan.

Bukan Sekadar Seremonial

Menutup kunjungannya, Edy mengapresiasi gerak serentak di berbagai wilayah di Pati, namun ia memberikan catatan keras agar kegiatan ini memiliki kesinambungan.

“Ini langkah maju, tapi jangan berhenti sebagai seremoni. Harus ada evaluasi ketat agar target zero kasus pada 2030 benar-benar tercapai. Kita ingin negara hadir secara nyata dalam tindakan yang dirasakan rakyat,” pungkasnya.

Exit mobile version