Tuturpedia.com — Peta literasi Indonesia menunjukkan arah yang menarik. Ketika perbincangan publik kerap terpusat pada kota-kota besar di Pulau Jawa, data terbaru justru memperlihatkan geliat kuat dari daerah-daerah lain. Provinsi-provinsi di kawasan timur dan luar Jawa tampil menonjol dalam daftar daerah dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan infografik yang merujuk pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) melalui Survei Tingkat Gemar Membaca (TGM) 2025, serta publikasi statistik Badan Pusat Statistik (BPS) 2026, Nusa Tenggara Timur (NTT) menempati posisi pertama nasional dengan skor 62,43 poin. Di bawahnya menyusul Nusa Tenggara Barat (61,19) dan Sumatera Selatan (60,86).
Temuan ini memperlihatkan bahwa budaya membaca tidak lagi identik dengan pusat-pusat ekonomi atau wilayah dengan infrastruktur paling mapan. Sejumlah provinsi dengan tantangan geografis dan akses yang tidak sederhana justru menunjukkan performa menonjol.

Daftar 10 Provinsi dengan Tingkat Kegemaran Membaca Tertinggi
Berikut peringkat 10 besar sebagaimana tercantum dalam data tersebut:
- Nusa Tenggara Timur — 62,43 poin
- Nusa Tenggara Barat — 61,19 poin
- Sumatera Selatan — 60,86 poin
- Maluku Utara — 60,66 poin
- Kalimantan Barat — 59,85 poin
- Sulawesi Selatan — 59,84 poin
- Sulawesi Tengah — 59,51 poin
- Sumatera Barat — 59,42 poin
- Sumatera Utara — 59,36 poin
- Kepulauan Riau — 59,33 poin
Membaca Tak Lagi Soal Kota Besar
Selama ini, asumsi umum menyebut akses pendidikan, toko buku, dan perpustakaan modern lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan besar. Namun daftar ini memberi pesan berbeda, kebiasaan membaca lebih banyak ditentukan oleh ekosistem sosial dan kebijakan daerah ketimbang sekadar ukuran kota.
NTT misalnya, dalam beberapa tahun terakhir dikenal aktif mendorong gerakan literasi berbasis sekolah, komunitas, rumah ibadah, dan perpustakaan desa. Program taman baca masyarakat, distribusi buku ke wilayah kepulauan, hingga kegiatan membaca bersama menjadi instrumen penting membangun kebiasaan sejak dini.
Hal serupa juga terlihat di NTB. Pemerintah daerah bersama komunitas literasi cukup agresif mengembangkan ruang baca publik, festival literasi, serta aktivitas berbasis sekolah dan pesantren.
Apa Itu Tingkat Gemar Membaca?
Perpusnas menggunakan indikator Tingkat Gemar Membaca (TGM) untuk mengukur budaya baca masyarakat. Secara umum, indeks ini disusun dari sejumlah variabel seperti:
- frekuensi membaca,
- durasi membaca,
- jumlah bahan bacaan yang dituntaskan,
- akses terhadap bahan bacaan,
- serta pemanfaatan perpustakaan atau sumber informasi lainnya.
Artinya, skor TGM bukan sekadar menghitung berapa banyak buku yang dibeli, melainkan menggambarkan perilaku membaca dalam keseharian masyarakat.
Luar Jawa Menguat, Jawa Perlu Evaluasi
Menariknya, daftar 10 besar kali ini nyaris sepenuhnya diisi provinsi luar Jawa. Fakta ini dapat dibaca sebagai sinyal positif bahwa pembangunan literasi makin merata. Di sisi lain, wilayah dengan infrastruktur pendidikan lebih lengkap justru ditantang untuk mengevaluasi budaya baca yang mungkin tergerus ritme urban, dominasi gawai, dan konsumsi informasi serba cepat.
Membaca di era digital memang menghadapi tantangan baru. Waktu masyarakat tersita oleh media sosial, video pendek, dan arus informasi instan. Dalam konteks itu, daerah yang mampu menjaga tradisi membaca justru menunjukkan ketahanan budaya yang patut diapresiasi.
Literasi Bukan Sekadar Nilai Statistik
Bagi banyak daerah, capaian indeks literasi bukan soal angka semata. Ia berkelindan dengan kualitas sumber daya manusia, kemampuan berpikir kritis, hingga daya saing ekonomi. Masyarakat yang terbiasa membaca cenderung lebih adaptif terhadap perubahan, lebih siap menerima pengetahuan baru, dan lebih kuat menyaring informasi.
Karena itu, capaian NTT dan daerah lain seharusnya dibaca sebagai pelajaran nasional, bahwa keterbatasan geografis bukan alasan untuk tertinggal dalam literasi.
Tantangan Berikutnya: Menjaga Momentum
Setelah masuk jajaran teratas, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai. Pemerintah daerah perlu memastikan minat baca tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Koleksi perpustakaan harus diperbarui, akses digital diperluas, dan ruang baca dibuat dekat dengan kehidupan warga.
Bangsa yang rajin membaca bukan lahir dari slogan, melainkan dari kebiasaan kecil yang dipelihara terus-menerus, mulai orang tua membacakan cerita, guru membuka diskusi, perpustakaan hidup, dan buku terasa akrab di tangan masyarakat.
Jika data ini konsisten dalam beberapa tahun ke depan, bukan tidak mungkin pusat literasi Indonesia akan bergeser. bukan lagi dari kota besar, melainkan ke daerah yang paling tekun menyalakan cahaya baca.***














