Indeks

SNBP 2026: Kedokteran Masih Jadi Primadona, Tapi ITB Justru Mendominasi Daftar Prodi dengan Pendaftar Terbanyak

Tuturpedia.com — Persaingan masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 kembali menunjukkan satu pola yang nyaris tak berubah dari tahun ke tahun: program studi rumpun kesehatan, teknik, dan hukum masih menjadi magnet utama calon mahasiswa Indonesia.

Namun ada satu catatan menarik tahun ini. Jika selama ini program studi kedokteran kerap diasosiasikan sebagai “raja” dalam perebutan kursi masuk PTN, data terbaru justru menunjukkan Institut Teknologi Bandung (ITB) tampil dominan dalam daftar program studi sarjana dengan jumlah pendaftar terbanyak.

Berdasarkan data resmi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB menjadi program studi sarjana dengan jumlah pendaftar terbanyak di jalur SNBP 2026, yakni 2.022 pendaftar.

Posisi itu menempatkan FTTM ITB di atas sejumlah program studi favorit lain yang selama ini identik dengan persaingan ketat, seperti Pendidikan Dokter Universitas Indonesia hingga Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Berikut daftar 10 program studi sarjana dengan jumlah pendaftar terbanyak pada SNBP 2026:

  1. Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), ITB — 2.022 pendaftar
  2. Pendidikan Dokter, Universitas Indonesia — 1.943 pendaftar
  3. Kedokteran, Universitas Gadjah Mada — 1.899 pendaftar
  4. Sekolah Teknik Elektro dan Informatika–Komputasi (STEI-K), ITB — 1.847 pendaftar
  5. Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD), ITB — 1.621 pendaftar
  6. Farmasi, Universitas Padjadjaran — 1.621 pendaftar
  7. Ilmu Keperawatan, Universitas Padjadjaran — 1.603 pendaftar
  8. Kedokteran, Universitas Airlangga — 1.546 pendaftar
  9. Hukum, Universitas Diponegoro — 1.530 pendaftar
  10. Ilmu Hukum, Universitas Indonesia — 1.420 pendaftar

Data tersebut memperlihatkan setidaknya tiga kecenderungan besar dalam pilihan calon mahasiswa tahun ini.

Pertama, program studi kesehatan tetap sangat diminati. Pendidikan Dokter UI, Kedokteran UGM, Kedokteran Unair, hingga Ilmu Keperawatan dan Farmasi Unpad masuk dalam daftar teratas. Ini menunjukkan profesi di sektor kesehatan masih dipandang sebagai jalur karier yang prestisius sekaligus menjanjikan stabilitas jangka panjang.

Kedua, program studi teknik belum kehilangan daya tariknya. Bahkan, dominasi ITB dengan tiga program studi di 10 besar menjadi penegas bahwa bidang teknologi dan rekayasa masih dianggap sebagai masa depan terutama di tengah berkembangnya industri digital, energi, dan transisi teknologi global.

FTTM misalnya, tidak hanya bicara soal tambang dalam pengertian lama. Dalam beberapa tahun terakhir, disiplin ini semakin relevan dengan isu strategis seperti transisi energi, hilirisasi mineral, hingga kebutuhan sumber daya untuk industri kendaraan listrik.

Sementara STEI-K ITB, yang berfokus pada teknologi informasi dan komputasi, menjadi representasi kuat dari meningkatnya minat generasi muda terhadap bidang kecerdasan buatan, data science, dan transformasi digital.

Ketiga, program studi hukum tetap konsisten diminati. Kehadiran Ilmu Hukum UI dan Hukum Undip di daftar 10 besar menunjukkan bahwa bidang sosial-humaniora tetap memiliki tempat kuat di tengah dominasi STEM (science, technology, engineering, and mathematics).

SNBP Masih Jadi Jalur Prestisius

SNBP merupakan jalur seleksi nasional yang menitikberatkan pada rekam jejak akademik siswa selama di sekolah, termasuk nilai rapor dan prestasi pendukung lainnya. Berbeda dengan jalur tes, SNBP kerap dianggap sebagai jalur paling “strategis” karena memberi peluang masuk PTN tanpa harus menghadapi ujian tertulis nasional.

Tahun ini, minat terhadap jalur SNBP juga meningkat seiring semakin ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi negeri. Banyak siswa menjadikan jalur ini sebagai kesempatan emas sebelum menghadapi seleksi berbasis tes pada tahap berikutnya.

Namun tingginya jumlah pendaftar juga menjadi pengingat bahwa popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan peluang diterima. Semakin diminati sebuah program studi, semakin kecil pula tingkat keketatannya.

Karena itu, para pakar pendidikan kerap mengingatkan calon mahasiswa agar tidak semata memilih jurusan karena tren, tetapi mempertimbangkan minat, kapasitas akademik, dan rencana karier jangka panjang.

Daftar ini seolah merekam arah mimpi generasi muda Indonesia, tentang profesi yang dianggap menjanjikan, bidang ilmu yang dipandang relevan, dan masa depan seperti apa yang sedang mereka bayangkan.***

Penulis: Rizal Akbar Editor: Permadani T.
Exit mobile version