Indeks
News  

Rekor Diplomasi Prabowo: 54 Kali Kunjungan Luar Negeri dalam 20 Bulan, Efektif atau Terlalu Intens?

Tuturpedia.com — Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, ketegangan geopolitik, hingga persaingan investasi antarnegara yang semakin ketat, Presiden RI Prabowo Subianto memilih satu strategi yang sejak awal pemerintahannya konsisten dijalankan, yakni diplomasi langsung dari satu ibu kota ke ibu kota lainnya.

Data yang dihimpun Tuturpedia menunjukkan, sejak dilantik pada Oktober 2024 hingga pertengahan 2026, Prabowo telah melakukan 54 kunjungan luar negeri. Angka tersebut terdiri dari 7 kunjungan pada 2024, 34 kunjungan sepanjang 2025, dan 13 kunjungan pada 2026.

Dalam peta perjalanan diplomatik tersebut, Malaysia menjadi negara yang paling sering dikunjungi dengan total lima kali lawatan. Sementara Prancis dan Uni Emirat Arab (UEA) masing-masing empat kali, disusul Mesir, Rusia, Inggris Raya, dan Amerika Serikat yang tercatat tiga kali dikunjungi.

Frekuensi ini menjadikan Prabowo sebagai salah satu presiden Indonesia dengan aktivitas diplomasi luar negeri paling intens pada fase awal pemerintahannya. Sejumlah laporan bahkan mencatat bahwa hingga awal Juni 2026, jumlah kunjungan luar negeri Prabowo telah menembus lebih dari 50 kali dalam rentang sekitar 20 bulan masa jabatan.

Dari Kuala Lumpur hingga Paris

Jika ditarik garis pada peta dunia, jejak perjalanan Prabowo membentang dari Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Malaysia menjadi destinasi paling dominan. Faktor kedekatan geografis, hubungan ekonomi yang erat, serta berbagai agenda bilateral membuat Kuala Lumpur kerap menjadi titik temu kedua negara.

Sementara itu, Prancis muncul sebagai salah satu mitra strategis yang paling sering didatangi Presiden. Selain kerja sama ekonomi, hubungan pertahanan Indonesia-Prancis terus menguat dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pengadaan alutsista hingga transfer teknologi pertahanan. Pembahasan mengenai kerja sama industri strategis menjadi salah satu isu yang berulang dalam berbagai pertemuan bilateral kedua negara.

Uni Emirat Arab juga menjadi tujuan yang relatif sering dikunjungi. Negara Teluk tersebut selama beberapa tahun terakhir merupakan salah satu sumber investasi asing yang aktif masuk ke Indonesia, khususnya pada sektor energi, infrastruktur, dan hilirisasi.

Di sisi lain, negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris Raya, Rusia, Mesir, Jepang, Korea Selatan, hingga Brasil menunjukkan bagaimana diplomasi Indonesia di bawah Prabowo berupaya menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai blok kekuatan dunia.

Diplomasi yang Berorientasi Hasil

Pemerintah berulang kali menegaskan bahwa intensitas kunjungan luar negeri Presiden bukan sekadar agenda seremonial.

Sekretariat Kabinet menyebut sejumlah lawatan tersebut menghasilkan komitmen investasi, perluasan akses pasar ekspor, kerja sama pertahanan, hingga penguatan posisi Indonesia dalam forum internasional. Salah satu contoh yang sering dikutip adalah komitmen investasi senilai sekitar USD 23,8 miliar yang diperoleh dalam rangkaian agenda di Jepang pada 2025.

Pada kesempatan lain, pemerintah juga mengklaim berbagai kunjungan luar negeri Presiden berkontribusi pada peningkatan investasi, penguatan sektor pertahanan, pembukaan pasar baru, hingga percepatan sejumlah perjanjian ekonomi internasional.

Bagi Prabowo, dunia internasional bukan hanya ruang diplomasi politik, melainkan juga arena persaingan ekonomi. Logika yang dibangun pemerintah cukup sederhana, yakni bahwa semakin sering Indonesia hadir dalam percakapan global, semakin besar peluang investasi, perdagangan, dan kerja sama strategis yang bisa dibawa pulang.

Kritik dan Pertanyaan Publik

Meski demikian, tingginya frekuensi perjalanan luar negeri Presiden tidak luput dari kritik.

Sebagian kalangan mempertanyakan efektivitas kunjungan yang begitu padat, terutama ketika sejumlah persoalan domestik masih membutuhkan perhatian langsung pemerintah. Di media sosial dan berbagai forum diskusi publik, muncul pertanyaan mengenai biaya perjalanan, prioritas kebijakan, hingga urgensi beberapa agenda luar negeri.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa berbagai biaya tambahan di luar anggaran resmi negara ditanggung secara pribadi oleh Presiden. Pemerintah juga menyebut jumlah anggota rombongan kini lebih kecil dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Perdebatan itu menunjukkan bahwa diplomasi tingkat tinggi selalu memiliki dua sisi: di satu sisi dipandang sebagai investasi politik dan ekonomi jangka panjang, di sisi lain dituntut untuk membuktikan hasil yang nyata dan terukur bagi masyarakat.

Gambaran Besar Diplomasi Prabowo

Jika melihat pola kunjungannya, terdapat tiga kawasan yang tampak menjadi fokus utama diplomasi Presiden Prabowo.

Pertama, Asia Tenggara, terutama Malaysia dan Singapura, sebagai mitra terdekat Indonesia.

Kedua, Timur Tengah, yang mencakup UEA, Qatar, Arab Saudi, Yordania, dan Mesir, kawasan yang menjadi sumber investasi, energi, serta mitra strategis dalam isu geopolitik.

Ketiga, Eropa, khususnya Prancis, Inggris Raya, Belgia, dan Belanda, yang memiliki posisi penting dalam perdagangan, teknologi, pendidikan, serta industri pertahanan.

Sementara kunjungan ke Amerika Serikat, Kanada, Brasil, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok menunjukkan upaya Indonesia menjaga hubungan seimbang dengan berbagai pusat kekuatan ekonomi dunia.

Pada akhirnya, angka 54 kunjungan luar negeri bukan sekadar statistik perjalanan. Ia mencerminkan arah kebijakan luar negeri yang lebih aktif, agresif, dan berorientasi pada diplomasi langsung oleh kepala negara.

Apakah strategi ini akan menghasilkan manfaat ekonomi dan geopolitik yang sebanding dengan intensitas perjalanannya? Jawabannya mungkin baru bisa diukur beberapa tahun ke depan. Segala gambaran yang sudah terejawantahkan dalam dua tahun pertama pemerintahannya, Prabowo sepertinya memang memilih menjadikan diplomasi sebagai salah satu mesin utama untuk menggerakkan posisi Indonesia di panggung global.***

Penulis: Rizal Akbar Editor: Permadani T.
Exit mobile version