Indeks
News  

PG GMM Mandek, Petani Tebu Blora Terjepit: DPR RI Desak Bulog Bertindak, Janji Swasembada Gula Dipertanyakan

Blora, Tuturpedia.com – Nasib ribuan petani tebu di Kabupaten Blora kian terhimpit menyusul terhentinya operasional Pabrik Gula (PG) Gendhis Multi Manis (GMM) yang kini berada di bawah pengelolaan BUMN Bulog. Persoalan ini mencuat dalam forum dengar pendapat bersama Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI, Selasa (9/6/2026), yang mempertemukan petani dengan para legislator di tingkat pusat.

Dalam forum tersebut, Anggota Komisi XI DPR RI, Harris Turino, menyoroti kemunduran sejumlah pabrik gula milik negara, termasuk PG GMM di Blora. Ia mengingatkan bahwa pemerintah sebelumnya telah menggulirkan program revitalisasi industri gula nasional melalui holding perkebunan dan Sugar Co dengan target swasembada gula. Namun hingga kini, janji tersebut dinilai belum menunjukkan hasil nyata.

“Alih-alih bangkit, beberapa pabrik gula justru menghadapi persoalan serius, mulai dari kerusakan mesin hingga rendahnya efisiensi produksi,” tegas Harris.

Menurutnya, kondisi PG GMM saat ini diperparah oleh kerusakan fasilitas produksi yang membutuhkan biaya perbaikan besar. Ia mengaku telah berkomunikasi langsung dengan jajaran Bulog guna meminta kejelasan terkait kondisi pabrik dan langkah penanganannya. Harris mendesak agar ada tindakan konkret dalam waktu dekat demi memberikan kepastian bagi petani.

Tak hanya soal perbaikan pabrik, Harris juga menekankan bahwa kepentingan petani harus menjadi prioritas utama. Ia meminta agar hasil panen tebu tetap terserap dengan harga layak, bahkan jika harus didistribusikan ke luar daerah.

“Biaya distribusi tidak boleh dibebankan ke petani. Yang terpenting adalah keberlangsungan usaha mereka tetap terjaga,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan petani tebu Blora, Anton Sudibyo, mengungkapkan kondisi di lapangan yang semakin memprihatinkan. Ketidakpastian operasional pabrik membuat petani kesulitan menjual hasil panen, bahkan terancam merugi.

“Petani kecil yang paling terdampak. Mereka hanya punya lahan terbatas dan sangat bergantung pada hasil tebu untuk hidup,” ungkap Anton.

Ia menegaskan bahwa perjuangan paguyuban petani bukan untuk kepentingan kelompok tertentu, melainkan demi membela petani akar rumput yang selama ini menjadi pihak paling rentan dalam krisis industri gula.

Forum dengar pendapat tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk terus mengawal penyelesaian persoalan PG GMM. DPR RI berjanji akan memperkuat fungsi pengawasan terhadap Bulog dan kementerian terkait, sementara para petani berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis agar pabrik kembali beroperasi.

Krisis PG GMM kini bukan sekadar persoalan industri, tetapi telah menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan ekonomi ribuan petani tebu di Blora. Jika tak segera ditangani, bukan hanya swasembada gula yang terancam gagal, tetapi juga nasib petani yang kian terpinggirkan.

Penulis: Lilik Yuliantoro Editor: Permadani T.
Exit mobile version