Blora, Tuturpedia.com – Belum genap sepekan ditempati kembali, bangunan baru Pasar Ngawen, Kabupaten Blora, justru menuai keluhan. Pasar yang dibangun menggunakan anggaran APBN senilai Rp30 miliar itu dilaporkan mengalami kebocoran atap hingga genangan air saat diguyur hujan deras. Minggu, (01/11/2026).
Kondisi tersebut memicu kekecewaan pedagang dan masyarakat. Pasalnya, pasar yang diharapkan menjadi tempat berdagang lebih nyaman dan layak setelah direhabilitasi, justru memperlihatkan sejumlah persoalan sejak awal pemanfaatannya.
Keluhan itu mencuat setelah sebuah video amatir yang merekam kondisi Pasar Ngawen beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, air hujan terlihat merembes dan menetes dari bagian atap hingga membasahi lantai keramik di area los pasar.
“Ngeniki piye, Lur? Banyu ra iso metu… Anggaran berpuluh-puluh miliar, kok bangunane kaya ngene. Ya Allah Gusti,” ujar perekam video dengan nada kecewa.
Kritik Pedas Warganet, Kualitas Bangunan Dipertanyakan
Video tersebut langsung memancing beragam reaksi publik. Sejumlah warganet melontarkan kritik terhadap kualitas pengerjaan proyek yang dinilai belum memenuhi harapan.
Akun Danyang Mbonggan menuliskan komentar, “Beginilah SDM rendah hasilnya kualitas rendah.”
Sementara akun Bakso Raja Kikil menyampaikan kritik lebih keras, “Kakean korupsi. Blora ndak ape darurat korupsi.”
Komentar tersebut disusul akun Setyowati Dukuhan yang menuliskan, “KPK mana KPK… Tlong di priksa pejabatnya.”
Tak hanya persoalan kebocoran atap, akun Liem Cell juga menyoroti sejumlah fasilitas bangunan yang disebut belum berfungsi optimal.
“Tp y itu… bangunan blm sampai dtempati sdh banyak minusnya. Slh 1 nya bocor tsb, pintu pertokoan banyak sekali yg macet…” tulisnya.
Berbagai komentar tersebut menunjukkan besarnya harapan sekaligus kekecewaan masyarakat terhadap kualitas fasilitas publik yang dibangun menggunakan uang negara.
Proyek Rp30 Miliar yang Sejak Awal Disorot
Pasar Ngawen merupakan proyek rehabilitasi besar yang dinantikan masyarakat setelah pasar lama mengalami kebakaran hebat pada 9 Januari 2024.
Pembangunan kembali pasar tersebut menggunakan anggaran APBN melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan nilai sekitar Rp30 miliar.
Bangunan pasar dirancang untuk menampung hingga 924 pedagang, terdiri atas 155 kios dan 680 los.
Namun, perjalanan proyek ini sebelumnya juga sempat menjadi perhatian akibat keterlambatan pengerjaan dari target awal pertengahan 2026.
Bahkan, Staf Ahli Presiden, Armindo Dos Santos Suarez, sempat turun langsung meninjau proyek tersebut. Pihak pelaksana juga dikabarkan dikenai denda keterlambatan kontrak hampir Rp1 miliar.
Kini, setelah pasar kembali ditempati, persoalan kebocoran dan fasilitas yang dikeluhkan justru memunculkan pertanyaan baru mengenai mutu hasil pekerjaan serta efektivitas pengawasan proyek.
Jangan Tunggu Kerusakan Semakin Parah
Masyarakat dan pedagang mendesak Pemerintah Kabupaten Blora, dinas teknis, serta pihak pengawas proyek segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi bangunan.
Evaluasi tidak cukup hanya dengan melihat kebocoran yang terekam dalam video. Pemeriksaan perlu mencakup konstruksi atap, saluran pembuangan air, lantai, pintu pertokoan, instalasi listrik, hingga seluruh fasilitas pendukung pasar.
Jika ditemukan pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi teknis, pihak yang bertanggung jawab harus diminta melakukan perbaikan sesuai ketentuan kontrak dan peraturan yang berlaku.
Transparansi juga diperlukan agar masyarakat mengetahui bagaimana kualitas pekerjaan proyek bernilai puluhan miliar rupiah tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, pedagang tidak membutuhkan sekadar bangunan megah atau peresmian yang meriah. Mereka membutuhkan pasar yang aman, tidak bocor ketika hujan, fasilitasnya berfungsi, dan nyaman untuk mencari nafkah.
Sebab, uang Rp30 miliar bukan angka kecil. Jangan sampai bangunan yang baru ditempati beberapa hari justru sudah mengajarkan masyarakat untuk kecewa terhadap hasil pembangunan.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.
