Indeks

Jogja Boikot Raffi Ahmad? Rans Carnival Diterpa Gelombang Penolakan, UMKM hingga Musisi Dikabarkan Mundur

Sleman, Tuturpedia.com – Gelaran Rans Carnival yang dijadwalkan berlangsung di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (31/10/2026), dikabarkan menghadapi situasi pelik. Acara yang digawangi selebritas sekaligus Utusan Khusus Presiden, Raffi Ahmad, disebut-sebut diterpa gelombang penolakan hingga pengunduran diri sejumlah pihak.

Informasi yang beredar menyebut sekitar 95 persen tenant Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memilih mundur. Tak hanya itu, tiga sponsor besar juga dikabarkan menarik dukungan dari penyelenggaraan acara tersebut.

Sejumlah musisi yang sebelumnya masuk dalam daftar pengisi acara, seperti Tipe-X, Guyon Waton, OM Wawes, hingga Masdddho, juga disebut membatalkan penampilan mereka.

Keputusan mundur tersebut dikaitkan dengan upaya menjaga kondusivitas serta menghormati dinamika sosial yang tengah berkembang di masyarakat.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Rans Carnival sedang menghadapi gelombang boikot publik terhadap Raffi Ahmad?

Polemik tersebut disebut bermula dari kehadiran Raffi Ahmad dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, yang diselenggarakan Polda Metro Jaya beberapa waktu lalu.

Kehadiran Raffi dalam kapasitasnya sebagai Utusan Khusus Presiden menuai kritik dari sebagian kalangan. Acara tersebut dipersepsikan oleh sejumlah pihak sebagai kegiatan tandingan terhadap gerakan mahasiswa.

Kontroversi semakin berkembang setelah muncul dugaan keterlibatan mahasiswa bayaran atau peserta yang bukan mahasiswa dalam kegiatan tersebut. Isu ini kemudian menjadi perbincangan luas dan menyeret nama Raffi Ahmad ke tengah sorotan publik.

Meski Raffi Ahmad telah menyampaikan klarifikasi, polemik yang berkembang disebut belum sepenuhnya mereda. Dampaknya kini dikaitkan dengan penyelenggaraan Rans Carnival di Yogyakarta.

Peristiwa ini menjadi gambaran bagaimana kontroversi di ruang publik dapat merembet ke berbagai sektor, termasuk dunia hiburan, pelaku UMKM, sponsor, dan penyelenggara acara.

Namun, mundurnya sejumlah pihak tidak serta-merta membuktikan adanya gerakan boikot yang terorganisasi. Perlu kejelasan dari penyelenggara, para sponsor, tenant, dan musisi terkait alasan masing-masing mengambil keputusan tersebut.

Pada akhirnya, sebuah acara bukan hanya soal nama besar penyelenggara atau popularitas figur yang berada di belakangnya. Kepercayaan publik, penerimaan masyarakat, serta suasana sosial di lingkungan tempat acara digelar juga menjadi faktor penting.

Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.

Exit mobile version