Blora, Tuturpedia.com — Ketika listrik menjadi kemewahan bagi sebagian orang, setitik cahaya dari kepedulian mampu mengubah kehidupan. Bagaimana tidak ? Pasalnya berdasarkan fakta awak media ini, di sebuah rumah kayu sederhana di Dukuh Badong Kidul, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, ada sebuah cahaya yang mungkin terlihat biasa bagi kebanyakan orang. Hanya sebuah lampu yang menyala di ruang tamu. Sabtu, (31/10/2026).
Namun, bagi Mbah Dapi, perempuan lanjut usia berusia 68 tahun, cahaya itu bukan sekadar penerangan. Ia adalah jawaban atas penantian panjang, simbol kepedulian, sekaligus hadiah kehidupan yang datang ketika usia tak lagi muda.
Jumat, 12 September 2025, menjadi hari yang sulit dilupakan Mbah Dapi.
Untuk pertama kalinya, rumah sederhananya menikmati sambungan listrik sendiri melalui program Light Up The Dream (LUTD) PT PLN (Persero) ULP Blora dan Cepu.
Sebelumnya, ia hanya bisa menikmati listrik dengan menumpang sambungan milik tetangga. Kondisi itu membuatnya tidak sepenuhnya leluasa menjalani aktivitas sehari-hari. Ada ketergantungan, ada kekhawatiran, bahkan rasa takut jika sewaktu-waktu terjadi gangguan pada sambungan listrik.
Kini, sebuah lampu menyala dari rumahnya sendiri.
Mbah Dapi terdiam menatap cahaya putih yang menerangi ruang tamu. Matanya berkaca-kaca. Lantunan Alhamdulillah dan rasa syukur berulang kali terucap dari bibirnya.
“Alhamdulillah wa syukurillah. Terima kasih PLN ULP Blora yang telah memberikan listrik gratis. Semoga seluruh karyawannya diberikan keberkahan, kesehatan, dan rezeki yang melimpah,” tuturnya.
Dengan suara penuh haru, ia kembali mengungkapkan kebahagiaannya.
“Sekarang rumah saya sudah punya listrik sendiri. Dulu cuma menumpang dari tetangga, kadang mati, kadang takut juga kalau korslet. Sekarang rumah jadi terang, hati saya juga lega. Terima kasih banyak untuk PLN,” ungkapnya.
Bagi sebagian orang, memasang listrik mungkin hanya urusan teknis dan administrasi. Tetapi bagi Mbah Dapi, bantuan tersebut menghadirkan sesuatu yang jauh lebih besar: rasa aman, kemandirian, dan martabat untuk menikmati kebutuhan dasar di rumah sendiri.
Di usia senja, ia tidak lagi harus menggantungkan kebutuhan penerangan kepada orang lain.
Ketika Kepedulian Menjadi Sumber Cahaya
Kisah Mbah Dapi memperlihatkan bahwa pemerataan energi tidak selalu harus dimulai dari proyek infrastruktur berskala besar. Terkadang, keadilan justru terasa paling nyata ketika sebuah keluarga yang selama ini hidup dalam keterbatasan akhirnya mendapatkan akses listrik secara mandiri.
Program Light Up The Dream menjadi salah satu bentuk kepedulian insan PLN terhadap masyarakat kurang mampu.
Program ini lahir dari semangat gotong royong para pegawai PLN yang secara sukarela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu masyarakat mendapatkan sambungan listrik secara gratis.
Artinya, ada nilai kemanusiaan yang bekerja di balik setiap penyalaan listrik tersebut.
Bukan semata-mata tentang kabel, meteran, tiang, atau instalasi. Ada kepedulian orang-orang yang bekerja di sektor kelistrikan untuk menghadirkan kesempatan hidup yang lebih baik bagi sesama.
Salah seorang tetangga Mbah Dapi, Yudi, turut menyampaikan apresiasinya atas bantuan tersebut.
Menurutnya, program LUTD merupakan wujud nyata pemerataan pembangunan yang menyentuh masyarakat kecil. Ia berharap upaya semacam ini terus diperluas agar semakin banyak keluarga yang belum memiliki akses listrik dapat merasakan manfaatnya.
Energi Berkeadilan Bukan Sekadar Angka Elektrifikasi
Kisah Mbah Dapi sesungguhnya membawa kita pada persoalan yang lebih besar: apakah seluruh masyarakat Indonesia telah menikmati energi secara adil?
Di tengah kemajuan teknologi dan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, masih ada masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses listrik, terutama kelompok ekonomi rentan dan warga di wilayah terpencil.
Bagi masyarakat perkotaan, listrik sering kali dianggap sebagai kebutuhan yang selalu tersedia. Lampu menyala, telepon genggam terisi daya, peralatan rumah tangga bekerja, dan aktivitas ekonomi berlangsung hampir tanpa jeda. Namun, bagi keluarga yang belum memiliki sambungan listrik mandiri, persoalannya berbeda.
Ketiadaan akses listrik dapat membatasi kesempatan anak-anak belajar pada malam hari, menghambat kegiatan ekonomi rumah tangga, serta mengurangi kenyamanan dan keamanan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Karena itu, keberhasilan pembangunan ketenagalistrikan tidak semestinya hanya diukur dari panjang jaringan, jumlah pelanggan, kapasitas pembangkit, maupun angka rasio elektrifikasi.
Lebih dari itu, pembangunan harus mampu menjawab pertanyaan mendasar: apakah masyarakat paling rentan sudah mendapatkan kesempatan yang sama untuk menikmati manfaat listrik?. Energi berkeadilan berarti tidak membiarkan kondisi ekonomi menjadi penghalang bagi masyarakat untuk memperoleh kebutuhan dasar tersebut.
Pemerataan juga tidak berhenti pada tersambungnya kabel ke rumah warga. Kualitas pasokan, keandalan jaringan, keselamatan instalasi, keterjangkauan biaya, hingga pemanfaatan listrik untuk kegiatan produktif harus menjadi perhatian bersama.
PLN dan Tanggung Jawab Sosial yang Menyentuh Kehidupan
Manajer PLN ULP Blora, Wardoyo, menjelaskan bahwa Light Up The Dream merupakan wujud komitmen dan kepedulian insan PLN dalam mendukung pemerataan akses energi bagi masyarakat kurang mampu.
Menurutnya, program tersebut berasal dari inisiatif para pegawai PLN yang menyisihkan sebagian penghasilannya agar keluarga yang belum mampu memasang sambungan listrik dapat menikmati listrik secara gratis.
“Program ini berasal dari kepedulian para karyawan PLN untuk mewujudkan mimpi masyarakat yang belum mampu menikmati listrik dari PLN. Melalui program ini, PLN ingin berbagi kebahagiaan. Mudah-mudahan hadirnya listrik ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Wardoyo.
Ia berharap, keberadaan listrik tidak hanya memberikan penerangan, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas yang dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Program LUTD sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap upaya pemerintah meningkatkan rasio elektrifikasi nasional. Dan, Pesan yang ingin disampaikan sederhana, tetapi memiliki arti besar: pembangunan energi harus menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
Terang yang Sesungguhnya Adalah Kesempatan
Kisah Mbah Dapi mungkin hanya satu dari sekian banyak cerita masyarakat yang masih membutuhkan perhatian dalam pemerataan energi. Namun, dari rumah kayu sederhana di Dukuh Badong Kidul, ada pelajaran penting yang patut direnungkan.
Bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak cukup diukur dari megahnya infrastruktur, pesatnya teknologi, atau besarnya investasi. Kemajuan juga harus terlihat dari kemampuan negara dan seluruh pemangku kepentingan menghadirkan kesejahteraan hingga ke rumah masyarakat yang paling jauh dari pusat pertumbuhan.
PLN, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam menikmati manfaat pembangunan energi. Sebab, listrik bukan sekadar komoditas. Ia merupakan salah satu pintu menuju pendidikan yang lebih baik, pelayanan kesehatan yang memadai, pertumbuhan ekonomi, dan kehidupan yang lebih bermartabat.
Malam itu, lampu di rumah Mbah Dapi memang hanya sebuah bohlam kecil. Tidak ada bangunan megah, tidak ada peresmian besar, dan tidak ada teknologi yang terlihat canggih. Tetapi di balik cahaya sederhana tersebut, ada mimpi yang akhirnya terwujud.
Kini, Mbah Dapi tidak lagi harus menumpang cahaya tetangga. Rumahnya memiliki penerangan sendiri, dan hatinya lebih tenang menjalani hari-hari di usia senja.
Dan, dari rumah sederhana itulah kita belajar bahwa ukuran keberhasilan pembangunan energi bukan seberapa terang pusat kota, melainkan seberapa jauh cahaya itu mampu menjangkau mereka yang selama ini hidup dalam keterbatasan. Karena Indonesia belum benar-benar terang selama masih ada warganya yang tertinggal dalam gelap.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.
