Blora, Tuturpedia.com – Proyek pembangunan dan rehabilitasi di SMAN 1 Randublatung yang dimulai sejak 22 Juni 2026 menuai sorotan tajam dari para wali murid. Pasalnya, proyek bernilai Rp2,3 miliar yang bersumber dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut dinilai minim transparansi. Rabu, (15/07/2026).
Sejumlah orang tua siswa mengaku tidak pernah menerima informasi resmi terkait rencana pembangunan maupun dampaknya terhadap kegiatan belajar mengajar. Kondisi ini memunculkan perbedaan pernyataan antara pihak sekolah dan wali murid.
Kepala Tata Usaha SMAN 1 Randublatung, Joko Subi Asmoro, menegaskan bahwa pihak sekolah telah melakukan sosialisasi kepada orang tua siswa. Ia menyebut informasi tersebut disampaikan saat momen pembagian rapor.
“Kalau wali murid ya, kemarin pas rapotan, terima rapot kan diinfokan di tiap-tiap kelas itu, sekolah mau bangun. Nanti beberapa kelas kita pindahkan ke lab yang tidak untuk pembelajaran. Sementara tiga ruang kita taruh di lab, di aula, dan pendopo. Itu saja yang kita sampaikan kepada orang tua murid,” jelasnya, Senin (13/7).
Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh sejumlah wali murid. Salah satu wali murid berinisial E mengaku tidak pernah mendapatkan informasi terkait proyek tersebut.
“Tidak ada sosialisasi tentang pembangunan sekolah. Setahu saya malah ada iuran seikhlasnya dengan kotak keliling untuk pembuatan kanopi masjid,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan wali murid lainnya berinisial W. Ia menegaskan tidak pernah mendengar adanya sosialisasi pembangunan maupun renovasi sekolah.
“Seingat saya gak ada sosialisasi tentang pembangunan atau renovasi di sekolahan,” katanya.
Sementara itu, saat awak media melakukan pantauan di lokasi sekolah, suasana tampak lengang. Para siswa terlihat sedang beristirahat dan tidak terlihat aktivitas belajar mengajar berlangsung di dalam kelas.
Perbedaan keterangan ini memunculkan tanda tanya besar terkait transparansi dan komunikasi pihak sekolah kepada wali murid, terutama dalam proyek bernilai miliaran rupiah yang berdampak langsung pada aktivitas pendidikan siswa. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan lanjutan dari pihak terkait mengenai mekanisme sosialisasi yang dimaksud.














