Tuturpedia.com — Setiap kata yang keluar dari mulut seorang presiden tidak hanya didengar publik, tetapi juga diperhatikan pelaku pasar. Di ruang perdagangan saham maupun pasar valuta asing, pernyataan kepala negara kerap menjadi sinyal yang memengaruhi cara investor membaca arah kebijakan ekonomi.
Fenomena itu beberapa kali terlihat sepanjang 2026. Sejumlah pidato Presiden Prabowo Subianto diikuti pergerakan signifikan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maupun nilai tukar rupiah. Meski hubungan tersebut tidak otomatis menunjukkan sebab-akibat, waktu terjadinya membuat keterkaitannya menjadi sorotan.
Ekonom umumnya mengingatkan bahwa pasar tidak bereaksi terhadap pidato semata, melainkan terhadap pesan yang ditangkap investor mengenai arah kebijakan pemerintah, kepastian regulasi, hingga prospek dunia usaha.

Pernyataan “Orang Desa Tidak Pakai Dolar”
Salah satu momen yang paling banyak dibahas terjadi ketika Prabowo meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei 2026. Dalam pidatonya, ia menyampaikan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam aktivitas sehari-hari, sebagai respons terhadap kekhawatiran mengenai pelemahan rupiah.
Pernyataan tersebut memicu beragam tafsir di kalangan pelaku pasar. Dua hari kemudian, Senin (18/5), berdasarkan data Investing.com, rupiah tercatat melemah 1,03 persen terhadap dolar Amerika Serikat, sementara IHSG turun 1,85 persen.
Meski pergerakan pasar dipengaruhi banyak faktor, komentar tersebut dinilai sebagian analis menambah ketidakpastian mengenai cara pemerintah memandang stabilitas nilai tukar dan respons terhadap dinamika pasar keuangan.
Rencana Pengekspor Tunggal Komoditas
Perhatian investor kembali tertuju pada pidato Prabowo saat sidang paripurna DPR, Rabu, 20 Mei 2026. Dalam kesempatan itu, ia mengumumkan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang akan menjadi pengekspor tunggal sejumlah komoditas strategis, seperti batu bara, minyak sawit, dan feronikel.
“Kami wajibkan penjualannya melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah RI sebagai pengekspor tunggal,” ungkap Prabowo.
Gagasan tersebut segera memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme perdagangan komoditas nasional dan dampaknya terhadap perusahaan swasta. Pada penutupan perdagangan hari yang sama, saham-saham sektor komoditas mengalami tekanan sehingga IHSG ditutup turun 0,82 persen. Di sisi lain, rupiah justru menguat 0,53 persen terhadap dolar AS.
Perbedaan respons itu menunjukkan bahwa pasar saham dan pasar valuta asing tidak selalu bergerak dalam arah yang sama. Investor saham lebih sensitif terhadap perubahan prospek keuntungan perusahaan, sedangkan nilai tukar dipengaruhi faktor yang jauh lebih luas, termasuk arus modal asing dan kondisi global.
Saat Membela Program Makan Bergizi Gratis
Contoh lain terjadi pada Rabu, 24 Juni 2026, ketika Prabowo menghadiri puncak Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (PENAS KTNA) XVII di Gorontalo. Pada kesempatan tersebut Prabowo menanggapi kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Ada yang enggak setuju MBG. Harusnya mereka datang ke sini. Tanya petani, nelayan, dan anak-anak, MBG perlu atau tidak?” kata Prabowo.
Pada hari yang sama, IHSG mengalami koreksi cukup dalam hingga 3,56 persen, sementara rupiah melemah sekitar 0,5 persen terhadap dolar AS.
Meski penurunan tersebut bertepatan dengan pidato Presiden, analis pasar mengingatkan bahwa saat itu sentimen eksternal juga sedang membayangi bursa kawasan, termasuk pergerakan suku bunga global, harga komoditas, dan arus keluar modal asing.
Pasar Membaca Sinyal, Bukan Sekadar Kata-kata
Dalam teori ekonomi, komunikasi pemerintah merupakan bagian dari forward guidance, yakni sinyal mengenai arah kebijakan di masa depan. Karena itu, setiap pernyataan pejabat publik dapat memengaruhi ekspektasi investor.
Investor pada dasarnya mencari kepastian. Ketika muncul pernyataan yang dianggap berpotensi mengubah mekanisme pasar, memperketat regulasi, atau meningkatkan intervensi negara terhadap kegiatan ekonomi, pelaku pasar biasanya segera melakukan penyesuaian portofolio.
Namun demikian, menyimpulkan bahwa pidato Presiden menjadi penyebab tunggal naik atau turunnya pasar merupakan penyederhanaan yang berlebihan. Pergerakan IHSG dan rupiah setiap hari dipengaruhi kombinasi berbagai faktor, mulai dari data ekonomi domestik, kebijakan bank sentral, perkembangan geopolitik, harga komoditas dunia, hingga sentimen investor global.
Pengamat: Komunikasi Pemerintah Perlu Dijaga
Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, menilai gaya komunikasi pemerintah dapat ikut memengaruhi persepsi pasar.
“Kalau misalnya Presiden Prabowo ini berhenti berpidato dua minggu ini, jangan-jangan tenang ini negara ini.” ucapnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan bahwa komunikasi politik memiliki konsekuensi ekonomi. Di tengah pasar yang sangat sensitif terhadap informasi, setiap pidato presiden tidak lagi dipandang sekadar retorika politik, melainkan juga sebagai sinyal kebijakan yang dapat memengaruhi keputusan investasi.
Pada akhirnya, pasar tidak bereaksi terhadap siapa yang berbicara, melainkan terhadap apa yang diyakini akan terjadi setelah pernyataan itu disampaikan. Karena itu, konsistensi kebijakan, kejelasan pesan, dan kepastian regulasi tetap menjadi faktor utama yang menentukan apakah investor memilih bertahan, masuk, atau justru keluar dari pasar Indonesia.***














