Semarang, Tuturpedia.com – Suara penolakan terhadap rencana pengembangan energi panas bumi atau geothermal di kawasan Gunung Ungaran kembali menggema di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Kamis (24/9/2026).
Salah satu aksi yang mencuri perhatian datang dari Lilik alias Mat Tohek, aktivis lingkungan asal Kabupaten Blora. Ia datang membawa pesan solidaritas untuk masyarakat yang tengah memperjuangkan kelestarian kawasan pegunungan Jawa Tengah, mulai dari Ungaran, Lawu, Telomoyo hingga Slamet.
Mat Tohek tampil dengan pakaian berbahan serat goni sebagai simbol kedekatan manusia dengan alam. Di tangannya, ia membawa sejumlah pesan bertuliskan “Save Ungaran”, “Save Lawu”, “Save Telomoyo”, dan “Save Slamet”.
Tak hanya itu, Mat Tohek juga mengangkat kartu merah yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Kartu tersebut menjadi simbol protes terhadap rencana pengembangan geothermal yang oleh kelompok masyarakat dikhawatirkan berdampak terhadap lingkungan, sumber air, serta ruang hidup warga.
“Jawa Tengah ora didol!” teriak Mat Tohek dalam aksinya.
Bagi aktivis asal Blora tersebut, persoalan geothermal tidak semata-mata berbicara mengenai energi dan investasi. Menurutnya, pembahasan mengenai proyek di kawasan pegunungan harus menempatkan keberadaan sumber air, ekosistem, pertanian dan kehidupan masyarakat sebagai pertimbangan utama.
“Ini bukan hanya soal Ungaran. Ketika gunung dan kawasan sumber air terancam, masyarakat di daerah lain juga harus bersolidaritas. Karena air, hutan dan lingkungan tidak mengenal batas kabupaten,” demikian pesan yang disuarakan dalam aksi tersebut.
Dari Blora untuk Ungaran
Kehadiran Mat Tohek menjadi bagian dari solidaritas lintas daerah dalam rangkaian aksi Aliansi Jateng Guyub.
Sejumlah warga dan kelompok masyarakat melakukan perjalanan dari kawasan pegunungan menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah. Aksi tersebut membawa isu perlindungan ruang hidup dan keberlanjutan lingkungan, termasuk penolakan terhadap rencana geothermal di Gunung Ungaran dan isu panas bumi di kawasan Lawu.
Koordinator Jateng Guyub, Joko Prianto, mengatakan perjalanan tersebut merupakan bagian dari perjuangan masyarakat mempertahankan ruang hidup.
“Tuntutannya terkait geotermal memang itu kan terjadi saat ini, wacana itu ada di Ungaran dan di Lawu,” kata Joko.
Bagi Mat Tohek, solidaritas tersebut penting karena persoalan lingkungan tidak bisa dilihat secara terpisah berdasarkan batas administratif.
Dari Blora, ia memilih berdiri bersama masyarakat Ungaran. Pesan yang dibawa pun tidak hanya Save Ungaran, tetapi juga Save Lawu, Save Telomoyo dan Save Slamet.
Kekhawatiran Soal Air dan Ruang Hidup
Penolakan terhadap rencana geothermal Gunung Ungaran sebelumnya juga muncul dalam dialog mengenai panas bumi di Kampus FISIP Universitas Diponegoro pada 17 September 2026.
Sejumlah warga, pelaku usaha dan pemerintah desa menyampaikan kekhawatiran mengenai kemungkinan dampak pengembangan panas bumi terhadap kondisi air tanah. Sumber air dinilai memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat dan kegiatan pertanian di sekitar Gunung Ungaran.
Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran juga disebut telah mengumpulkan sekitar 12 ribu tanda tangan petisi penolakan dan menyampaikan surat kepada pemerintah pusat serta Kementerian ESDM.
Di sisi lain, pemerintah menyatakan pengembangan geothermal Gunung Ungaran masih berada dalam tahapan proses dan kajian.
Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Priatin Hadi Wijaya, menyampaikan bahwa titik pengeboran belum ditentukan. Kajian masih mencakup aspek geofisika, geokimia dan geologi sebelum penentuan lokasi pengeboran serta fasilitas produksi.
Pemerintah Buka Ruang Dialog
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sebelumnya menyatakan bahwa rencana geothermal Gunung Ungaran masih membutuhkan sejumlah tahapan dan izin tambahan, termasuk AMDAL serta sosialisasi kepada masyarakat.
Luthfi juga menyatakan pemerintah tidak ingin keberadaan proyek tersebut justru merugikan masyarakat. Pendekatan persuasif dinilai diperlukan untuk menjembatani perbedaan pandangan antara masyarakat dan pihak pengembang.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyatakan Pemprov Jateng siap menjadi penghubung antara masyarakat Kabupaten Semarang dengan pemerintah maupun pihak terkait proyek.
Ruang dialog pun dibuka bagi warga yang memiliki kekhawatiran maupun keberatan terhadap rencana pengembangan panas bumi di Gunung Ungaran.
Aksi Mat Tohek dari Blora dengan kartu merah dan pakaian berbahan serat goni menjadi salah satu simbol bahwa isu geothermal telah berkembang menjadi perhatian lintas daerah.
Dari depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, pesan yang dibawanya sederhana: jangan melihat gunung hanya sebagai sumber energi dan investasi, tetapi juga sebagai sumber kehidupan.
Save Ungaran. Save Lawu. Save Telomoyo. Save Slamet.
Dan dari Blora, Mat Tohek menyampaikan satu kalimat yang menjadi penutup aksinya:
“Jawa Tengah ora didol.”
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.
