Jakarta, Tuturpedia.com — Sutradara dan penulis ternama Indonesia, Joko Anwar, kembali menghadirkan gebrakan baru di industri perfilman nasional. Dalam film terbarunya berjudul Ghost in the Cell, ia menggandeng enam ilustrator Indonesia berskala internasional untuk menciptakan konsep visual unik berupa “instalasi kengerian” yang akan menjadi elemen penting dalam cerita film tersebut.
Kolaborasi lintas disiplin ini bukan sekadar eksperimen visual, tetapi juga menjadi upaya merayakan talenta ilustrator lokal yang telah dikenal di dunia internasional.
Enam ilustrator yang terlibat dalam proyek ini adalah Anwita Citriya, Benediktus Budi, Benny Bennos Kusnoto, Coki Greenway, Hafidzjudin, dan Rudy AO. Mereka berperan sebagai macabre concept artist yang merancang karya seni visual bernuansa horor yang akan ditampilkan dalam film.
Menurut Joko Anwar, kolaborasi ini sejak awal memang dirancang untuk memperluas ruang kreativitas dalam produksi film.
“Sejak awal saya ingin Ghost in the Cell tidak hanya menjadi film, tapi juga ruang kolaborasi lintas seni bagi seniman-seniman lokal. Indonesia punya begitu banyak ilustrator berbakat dengan gaya visual yang kuat dan unik,” ujar Joko Anwar.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan para ilustrator tersebut tidak hanya memperkaya visual film, tetapi juga menjadi pernyataan bahwa ekosistem kreatif Indonesia dapat tumbuh melalui kolaborasi antar medium seni.
“Dengan melibatkan mereka, kami bukan hanya memperkaya dunia visual film ini, tapi ingin membuat pernyataan bahwa kolaborasi lintas medium seperti ini penting agar ekosistem kreatif kita terus tumbuh dan saling menguatkan,” lanjutnya.
Setiap ilustrator yang terlibat memiliki latar belakang dan pencapaian yang berbeda di dunia seni visual internasional.
Salah satunya adalah Anwita Citriya, ilustrator asal Bandung yang dikenal melalui karya komik horor psikologisnya. Karier internasionalnya mulai menanjak sejak dilirik penerbit Amerika Serikat pada 2021. Ia kemudian memulai debut sebagai seniman di seri CREEPSHOW pada 2022 dan menjadi artist-writer di BOOM! Studios pada 2025.
Selain itu, Anwita juga terlibat dalam proyek komik Universal Monsters sebagai cover artist untuk karakter ikonik seperti Phantom of the Opera dan Frankenstein.
Ilustrator lainnya, Benediktus Budi, dikenal sebagai ilustrator digital asal Wonogiri yang kerap mengerjakan karya bernuansa gelap untuk merchandise seperti t-shirt, poster, dan cover album. Ia pernah membuat poster dan merchandise untuk band metal internasional Toxicholocaust serta poster untuk acara prank show Scare Tactics di USA Network.
Benny Bennos Kusnoto juga menjadi bagian penting dari proyek ini. Seniman storyboard dengan pengalaman lebih dari 17 tahun ini pernah terlibat dalam produksi komik internasional, termasuk menjadi ghost layout artist untuk Justice League Dark #7.
Seni Gelap dari Dunia Musik dan Komik
Nama lain yang turut bergabung adalah Coki Greenway, ilustrator yang kini menetap di Purwokerto. Ia dikenal luas di dunia musik rock dan metal internasional karena karya ilustrasinya untuk musisi seperti AC/DC, Motley Crue, Judas Priest, hingga Dragon Force.
Coki juga pernah membuat merchandise khusus untuk Marvel dengan karakter populer seperti Deadpool dan Venom.
Sementara itu, Hafidzjudin dikenal melalui gaya ilustrasi yang menampilkan visual detail dengan nuansa gelap dan seram. Ia telah bekerja sama dengan sejumlah band metal Indonesia seperti Seringai, Dead Squad, dan Down For Life.
Ilustrator terakhir adalah Rudy AO, seniman asal Bandung yang dikenal melalui karya hyper-realistic. Selain menjadi concept artist dalam film ini, ia juga dipercaya mengerjakan poster ilustrasi Ghost in the Cell.
Rudy sebelumnya dikenal sebagai artis sampul komik untuk DC Comics serta dua IP besar, Red Sonja dan Vampirella.
Sinopsis Film Ghost in the Cell
Film ini mengambil latar di sebuah penjara bernama Lapas Labuhan Angsana. Para narapidana hidup dalam situasi penuh tekanan, mulai dari penindasan pejabat lapas hingga konflik antar sesama tahanan.
Situasi semakin mencekam ketika seorang napi baru datang dan satu per satu tahanan mulai tewas secara misterius dan mengerikan.
Para tahanan kemudian menyadari bahwa ada sosok hantu yang membunuh orang dengan aura atau energi paling negatif. Akibatnya, para napi berlomba-lomba berbuat baik agar aura mereka tetap positif dan terhindar dari kematian. Namun menjaga sikap positif bukanlah hal mudah di lingkungan penjara yang dipenuhi ketidakadilan.
Dalam kondisi tersebut, para tahanan akhirnya menyadari satu hal yang tampaknya mustahil tetapi harus dilakukan agar tetap hidup: mereka harus bersatu melawan penindasan—bahkan jika harus menghadapi hantu sekalipun.
Produksi dan Jadwal Tayang
Ghost in the Cell diproduksi oleh Come and See Pictures yang didirikan oleh Joko Anwar bersama Tia Hasibuan. Film ini dibuat bekerja sama dengan RAPI Films dan Legacy Pictures, sementara Barunson E&A bertindak sebagai sales agent untuk distribusi global. Film horor komedi ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 16 April 2026..
Kontributor: Sarah Limbeng















