Semarang, Tuturpedia.com — Tingginya biaya logistik laut masih menjadi tantangan serius bagi daya saing industri dan investasi di Jawa Tengah. Ketergantungan arus kontainer pada Pelabuhan Tanjung Priok dinilai membuat ongkos distribusi membengkak, di tengah pesatnya pertumbuhan kawasan industri di wilayah tersebut.
Pemerintah pusat dan daerah kini mempercepat pembahasan penguatan sistem logistik berbasis laut, mulai dari pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Pelabuhan Kendal, hingga dry port Batang. Langkah itu diproyeksikan menjadi kunci untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga arus investasi tetap kompetitif.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan, pemerintah daerah sudah bergerak cepat mendorong percepatan kebijakan logistik dan pengembangan pelabuhan. Menurut dia, sejumlah tahapan kini tinggal menunggu keputusan pemerintah pusat.
“Kita dari kemarin sudah mendorong semua kebijakan, nunggu dari pusat. Jadi bukan dorong lagi, sekarang kita sudah persneling lima,” kata Luthfi usai Rapat Koordinasi Sistem Logistik Berbasis Laut di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (11/5/2026).
Ia menyebut sekitar 70 persen arus kontainer menuju Jawa Tengah masih melalui Pelabuhan Tanjung Priok di DKI Jakarta, sedangkan yang lewat Pelabuhan Tanjung Emas Semarang baru sekitar 30 persen. Kondisi itu dinilai membuat biaya logistik industri di Jawa Tengah kurang efisien.
“Ini yang ingin kita ubah. Karena nanti makin banyak kawasan industri, makin banyak tenant-nya, harus kita perbaiki pelabuhan, baik pelabuhan maupun daratnya,” ujarnya.
Rapat tersebut membahas penguatan jaringan logistik laut yang menopang kawasan industri di Jawa Tengah. Pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas, Pelabuhan Kendal, dan dry port Batang disebut menjadi simpul penting dalam mendukung distribusi barang dan ekspor industri.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, mengatakan, persoalan logistik menjadi perhatian serius pemerintah pusat karena berkaitan langsung dengan biaya produksi dan keberlanjutan investasi.
“Salah satu hal yang perlu kita kembangkan dan kita support untuk wilayah Jawa Tengah ini, terkhusus berbicara mengenai logistik, khususnya untuk pengembangan pelabuhan dan upgrade daripada sisi Pelabuhan Tanjung Emas,” kata Todotua.
Menurut dia, biaya logistik menjadi komponen utama dalam aktivitas industri, perdagangan, dan investasi. Karena itu, penguatan infrastruktur pelabuhan dinilai mendesak untuk menjaga iklim usaha di Jawa Tengah tetap kompetitif.
Kementerian Investasi, lanjut Todotua, akan ikut mendorong percepatan penyelesaian persoalan tersebut bersama kementerian terkait, terutama Kementerian Perhubungan.
“Ini concern-nya, ini yang akan menjadi atensi. Kita dari Kementerian Investasi nanti akan coba ikut mendorong ini dengan kementerian-kementerian yang terkait, seperti khususnya juga Kementerian Perhubungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembahasan saat ini masih menyangkut aspek teknis dan administrasi. Pemerintah menargetkan percepatan proses agar pembangunan bisa mulai dikerjakan tahun ini.
“Harapannya kalau tahun ini kita bisa speed up, di tahun ini sudah mulai konstruksi,” katanya.
Selain Tanjung Emas, pemerintah juga menaruh perhatian pada pengembangan Pelabuhan Kendal dan dry port Batang. Kedua kawasan itu dinilai strategis karena tingkat okupansi industrinya terus meningkat.
“Karena memang Kendal okupansinya itu sangat tinggi, mungkin sekarang sudah 100 persen di situ. Kemudian di Batang itu sudah 60-an persen,” ujar Todotua.
Ia menegaskan, kekuatan logistik dan pelabuhan menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan investasi di Jawa Tengah.
“Tanpa ada kekuatan logistik port yang mumpuni, yang mendukung ini, ini juga akan menyebabkan kelemahan daripada industri atau investasi yang ada di wilayah Jawa Tengah,” ungkapnya.















