Ghost in the Cell: Fun like Heaven, but Bloody like Hell (Sebuah Review untuk Film Ghost in The Cell karya Joko Anwar)

TUTURPEDIA - Ghost in the Cell: Fun like Heaven, but Bloody like Hell (Sebuah Review untuk Film Ghost in The Cell karya Joko Anwar)
banner 120x600

Tuturpedia.com – Joko Anwar kembali menelurkan karya terbaru bertajuk Ghost In The Cell yang telah resmi mengudara di layar bioskop sejak Kamis, 16 April 2026.

Film yang sebelumnya dibawa ‘piknik’ ke Festival Film Internasional Berlin ke-76 (Berlinale 2026) pada 12–22 Februari 2026 di Berlin, Jerman ini juga sempat membuat geger publik Indonesia karena bahkan sebelum tayang resmi, Ghost in The Cell sudah dibeli 86 Negara dan siap tayang di bioskop luar negeri.

TUTURPEDIA - Ghost in the Cell: Fun like Heaven, but Bloody like Hell (Sebuah Review untuk Film Ghost in The Cell karya Joko Anwar)

Berbagai prestasi yang ditorehkan Ghost In the Cell berbanding lurus dengan hasil yang ia dapatkan. Tercatat hingga hari ke-5 penayangan (21/4), film ini sudah berhasil memikat 920.649 orang untuk berdondong-bondong menyaksikan.

Sebagai informasi, pada kegiatan press screening film Ghost In The Cell, Joko Anwar menyebut film ini sebagai cerminan absurditas di Indonesia, hal yang kemudian menjadi salah satu daya topang dan daya tarik Ghost in The Cell sehingga membuat banyak orang penasaran ingin menontonnya.

“Indonesia tuh saking absurd banget, kita nggak tahu gimana lagi. Jadi aku mencoba membuat skenario ini juga bisa me-capture itu,” ucap Joko.

TUTURPEDIA - Ghost in the Cell: Fun like Heaven, but Bloody like Hell (Sebuah Review untuk Film Ghost in The Cell karya Joko Anwar)

Pemain dan Sinopsis

Seiring dengan antusiasme dari para penggemar film di Indonesia terkait perilisan film ini, daftar pemain Ghost in the Cell juga menjadi topik yang menarik untuk dibahas.

Bagaimana tidak? Film terbaru Joko Anwar ini diperankan oleh pemain yang seluruhnya laki-laki, beberapa diantaranya adalah; Abimana Aryasatya (Anggoro), Aming Sugandhi (Tokek), Arswendy Bening (Prakasa), Bront Palarae (Jefry), Dimas Danang (Irfan), Kiki Narendra (Sapto), Lukman Sardi (Pendi), Tora Sudiro (Anton), Yoga Pratama (Six), Mike Lucock (Wildan), Morgan Oey (Bimo), Endy Arfian (Dimas), Magistus Miftah (Novilham), Almanzo Konoralma (Buki), serta Rio Dewanto (Endy).

Obrolan internet sempat membahas cast film Ghost In The Cell, banyak pihak yang mempertanyakan soal kenapa cast film ini seluruhnya diisi laki-laki? Beberapa bahkan menyebut film ini terlalu “All Male Panel”.

Menanggapi hal tersebut, dengan gaya santai, Joko Anwar memberikan jawaban singkat yang juga memantik diskusi melalui akun media sosial Threads dengan mengunggah kalimat; “Ghost In The Cell versi perempuan semua menarik kali, ya.”

TUTURPEDIA - Ghost in the Cell: Fun like Heaven, but Bloody like Hell (Sebuah Review untuk Film Ghost in The Cell karya Joko Anwar)

Hal yang menjawab sekaligus membuka ruang kemungkinan akan adanya sequel dari film Ghost In The Cell dengan cast yang seluruhnya perempuan.

Untuk diketahui, Ghost in The Cell menceritakan tentang rangkaian kejadian horor yang terjadi di sebuah penjara. Berlatar di Lapas Labuhan Angsana yang penuh penindasan dan kekerasan. Teror dimulai ketika hantu penuh dendam menghantui sel penjara, mengincar narapidana beraura negatif setelah masuknya seorang napi baru yang merupakan mantan jurnalis.

TUTURPEDIA - Ghost in the Cell: Fun like Heaven, but Bloody like Hell (Sebuah Review untuk Film Ghost in The Cell karya Joko Anwar)

Review film Ghost In The Cell

Joko Anwar sudah banyak menelurkan berbagai film dengan nuansa horror yang dibalut komedi tipis sebagai pengikat macam Pengabdi Setan 1 & 2 serta Perempuan Tanah Jahanam. Namun, Ghost in The Cell mencoba memberikan tawaran lebih dengan komedi satire yang lebih kuat dan dalam.

Sebagai informasi, satire adalah semacam teknik yang menggunakan humor, ironi, dan sarkasme untuk memberi kritik pada kebodohan dalam fenomena sosial. Umumnya, film yang mengambil formula semacam ini terbagi menjadi ‘tiga madzhab’, yakni;

  1. Satire Horatian yang bertumpu pada humor ringan dan menghibur seperti Jojo Rabbit karya Taika Waititti dan Dr. Strangelove or: How I Learned to Stop Worrying and Love the Bomb karya Stanley Kubrick.
  2. Satire Juvenalian yang menitikberatkan pada kritikan pedas nan keras serta sinis dan penuh kemarahan moral seperti adaptasi novel karya Chuck Palahniuk bertajuk Fight Club yang disutradarai David Fincher.
  3. Satire Manippean yang lebih abstrak, meraforik, serta lebih terasa intelektual, aneh, namun juga terasa menarget mental dengan narasi yang kompleks. Satire ini bisa ditemui di film Alice in Wonderland karya Tim Burton adaptasi dari novel karya Lewis Carroll.

Ghost In The Cell karya Joko Anwar memenuhi hampir semua unsur untuk masuk dalam kategori Satire Manippean. Secara ugal-ugalan, Joko Anwar melempar kritikan satire nan menggelitik pada banyak sekali situasi, sosok, dan bahkan kebijakan di Indonesia secara tepat guna.

TUTURPEDIA - Ghost in the Cell: Fun like Heaven, but Bloody like Hell (Sebuah Review untuk Film Ghost in The Cell karya Joko Anwar)

Walaupun harus diakui, formula jokes yang ditelurkan Joko Anwar di film ini masih sering hit and miss namun komedinya cukup mampu mengobati kerinduan pada gaya komedi semi-slapstick dan sitkom nan rapih yang sekarang mulai jarang ditemui pada skena film komedi Indonesia.

Seperti bertolakbelakang dengan komedinya yang fun, unsur horor nan ‘gore’ di Ghost in The Cell terasa sangat liar dan brutal. Kesadisan nan sangar ini sanggup membuat siapapun yang menonton jadi bergidik ngeri atau bahkan mengeluarkan umpatan kasar. Jika mau dibandingkan dengan film Joko lain yang juga mengandung formula horor-gore seperti Pintu Terlarang dan Perempuan Tanah Jahanam, maka Ghost in The Cell jauh di atas keduanya.

Akan tetapi, yang paling gila, Joko Anwar mampu meramu scene dan footage yang amat berdarah itu dengan sangat indah dan artistik, mengingatkan kembali dengan instansi mayat dari Hannibal atau scene Polisi di film The Silence of The Lambs karya Jonathan Demme, scene babak akhir di film Midsommar karya Ari Aster, serta tentunya series bertajuk Connect karya Takashi Miike.

Jika membahas visual dan skoring musik, agaknya tak ada yang meragukan kualitas film Joko Anwar yang kembali menggandeng DoP (Director of Photography) langganannya, Ical Tanjung serta skoring yang digawangi Aghi Narottama. Keduanya mampu meracik ramuan audio-visual yang sangat ciamik.

Joko Anwar juga mengulang formula yang sempat ia pakai saat menyutradarai film Gundala, yakni menggunakan lagu-lagu dengan gaya atmosferik dengan nuansa lawas seperti; The Rising Man, The Town Was Gone, How Many Times karya Tony Merle dan kolega, lagu Tonight You Belong to Me yang ikonik karya Patience & Prudence, serta kejutan di trailer dengan menggunakan aransemen lagu Cicak-cicak di dinding.

Dari segi cerita, Joko Anwar sebenarnya sudah cukup berupaya untuk memberikan penekanan pada konsep “Make Believe” untuk membangun kepercayaan penonton pada bagaimana logika film ini seharusnya berjalan, akan tetapi ada beberapa titik dalam cerita yang terasa janggal, terlalu menjelaskan, dan kuat diduga digarap dengan pola lazy script writing. Namun yang paling parah, penyakit lama Joko Anwar sepertinya kembali kambuh saat menuju Act tiga, penyelesaian konfliknya terasa terlalu instan dan cenderung mengada-ada hingga memantik kekecewaan yang cukup fundamental. Lebih lagi ada kesan memunculkan ending dengan pesan moril yang terlalu “tell” tapi tidak “show“.

Walaupun beberapa pihak menilai kekurangan-kekurangan tersebut masih bisa termaafkan karena genre film ini adalah komedi, namun tetap saja, kekurangan tersebut cukup mengganggu kenikmatan menonton filmnya.

TUTURPEDIA - Ghost in the Cell: Fun like Heaven, but Bloody like Hell (Sebuah Review untuk Film Ghost in The Cell karya Joko Anwar)

Pembahasan, Teori, dan Easter Egg (FULL SPOILER)

Bukan film Joko Anwar namanya jika tak memantik diskusi seputar teori dan keterkaitannya dengan semesta/universe milik Joko Anwar. Begitu pula Ghost in The Cell yang juga menyimpan banyak detail yang menarik untuk dibahas lebih dalam.

Untuk memudahkan dan menyederhanakan pembahasan, teori dan easter egg pada tulisan ini akan dibagi menjadi dua bagian, yang terdiri dari; Pembahasan dan teori umum serta easter egg dan keterkaitan dengan semesta Joko Anwar.

  1. Pembahasan dan Teori

Teori paling kentara dari film ini sebagaimana disebut pada bagian awal review adalah adanya satire politik yang kental. Penjara di film ini merupakan miniatur dari negara lengkap dengan berbagai kebanalan dan masalahnya mulai dari; Kejahatan, ketimpangan sosial, perusakan alam, kesejahteraan, keadilan, kecurangan, penyalahgunaan wewenang dan lain sebagainya.

Pada film Ghost in The Cell unsur politik terkuat ada pada karakter Prakasa yang diperankan oleh Arswendy Bening Swara, nama lengkap karakter ini adalah Prakasa Kitabuming. Sudah barang tentu nama dengan ‘nada serupa’ akrab di telinga kita semua kan?

Nama karakter yang ‘mencurigakan’ itu juga didukung dengan nomor tahanan milik Prakasa dengan angka 21061961 serta tempat kelahiran Prakasa dianggap merupakan representasi dari tokoh yang sekarang tengah ramai melalui jokes internet dengan kata kunci “Pria Solo”.

Karakter Prakasa juga memiliki kemiripan tingkah dan perilaku dengan seorang napi koruptor yang pernah viral pada pertengahan tahun 2018 sebab diduga menempati sel palsu.

Lebih lanjut, di dalam penjara Ghost In The Cell terdapat tiga komplek yang ditampilkan dengan kode huruf F, C, dan K, yang jika dibuat menjadi kata, dapat merujuk ke kata “FCK”, sebagai representasi umpatan yang menggambarkan betapa liarnya situasi di dalam penjara.

Dalam film Ghost In The Cell karakter-karakter yang dibuat mati dianggap merepresentasikan 7 Dosa Besar atau 7 Deadly Sins, yakni; Endy si pimpinan redaksi (Greed/Tamak), Tokek si ‘Liar’ (Lust/Hawa Nafsu), Anton si tukang masak (Envy/Iri hati), Novilham si penari (Wrath/Kemarahan), Jefry si sipir penjara (Pride/Keangkuhan), Buki si kacung (Sloth/Malas), dan Prakasa si korup (Gluttony/Rakus).

Karakter-karakter yang dibuat mati di film tersebut juga mayatnya ditata indah seperti instalasi seni dengan berbagai bentuk yang variatif. Banyak yang berpendapat bahwa masing-masing mayat merepresentasikan elemen, yakni udara, air, api, dan bumi. Akan tetapi, ada satu teori yang mungkin lebih masuk akal, yakni semua karakter yang mati dibunuh pada tempat yang mereka ‘kuasai’ atau di teritori mereka sendiri.

Endy misalnya, dia mati dengan cara digantung di kipas (di ruang kerjanya), Tokek terbunuh di kamar mandi (tempat ia nyaris melecehkan Dimas), Anton tewas di dapur (tempat ia biasa memasak), Novilham kehilangan nyawa di ruang seni (tempat ia melatih menari), Jefry mampus di lorong sel blok C (tempat ia sering menyiksa tahanan), Buki tewas di lorong air/underground (menggambarkan ia sebagai kacung/bawahan), serta Prakasa mati di selnya (tempat dia merasa aman dan berkuasa).

TUTURPEDIA - Ghost in the Cell: Fun like Heaven, but Bloody like Hell (Sebuah Review untuk Film Ghost in The Cell karya Joko Anwar)

Lebih lanjut di film Ghost In The Cell, para tahanan mengenakan seragam berwarna kuning-orange dengan nomor pada masing-masing seragam. Nomor-nomor tersebut juga tak lepas dari teori, sebab nyaris mustahil Joko Anwar secara serampangan membubuhkan nomor-nomor random tanpa makna di film-filmnya. Untuk saat ini, teori paling kuat yang beredar adash bawha nomor-nomor tersebut merujuk pada nomor ayat dan surat/bagian di kitab suci baik Al-Qur’an maupun AlKitab.

Beberapa di antaranya adalah nomor 1042 pada seragam Anggoro yang merujuk pada Surat Yunus ayat 42 yang artinya “Di antara mereka ada orang yang mendengarkan engkau (Nabi Muhammad). Apakah engkau dapat menjadikan orang yang tuli itu bisa mendengar walaupun mereka tidak mengerti?,” serta dalam Alkitab Matius 10:42 tentang upah memberikan minum, Kisah Para Rasul 10:42 tentang pewartaan kebenaran dan menjadi hakim dan Yohanes 10:42 yang berbunyi; “Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya”. Ayat-ayat tersebut dianggap cukup mewakili karakter Anggoro yang selalu berusaha mendengarkan keluhan orang lain, menolong orang, dipercaya menjadi pemimpin dan pemberi keputusan, serta banyak orang yang percaya padanya.

Selain itu, ada pula karakter Six ‘si indigo’ dengan nomor 7226 dan Pendi ‘si dosen’ dengan nomor 5811, kedua karakter tersebut dianggap sesuai dengan ayat dan surat pada masing-masing nomor di seragam mereka, Six diwakili Qur’an surat Al-Jinn ayat 26 yang berbunyi “Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu,” serta Pandi diwakili Surat Al-Mujadilah ayat 11 yang menekankan perintah untuk berlapang dada dalam majelis ilmu, adab sopan santun, serta janji Allah SWT untuk meninggikan derajat orang-orang yang beriman.

Kemudian karakter Bimo yang mengenakan nomor 2239 yang diduga merujuk pada ayat Alkitab Matius 22:39 yang menekankan pentingnya kasih, toleransi, serta menghormati sesama manusia tanpa memandang latar belakang. Kutipan aslinya berbunyi, “Kasihilah sesamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Selain empat karakter tersebut, masih ada banyak lagi karakter dengan nomor berbeda di seragam mereka yang masih membuka banyak ruang untuk berteori dan berdiskusi.

Pembahasan terakhir pada bagian ini adalah teori tentang misteri sosok setan/hantu yang tidak ditampilkan secara eksplisit, namun lebih mengambil bentuk representasi lain dari masing-masing korban yang akan dibantai. Hal ini merupakan representasi dari istilah/term yang masyhur sebagai satire bahwa “Sesungguhnya manusia lebih keji daripada Setan”.

  1. Easter egg dan keterkaitan dengan semesta film Joko Anwar

Film Ghost In The Cell rilis pada tanggal 16 April 2026, bagi pecinta film Joko Anwar tentunya akrab dengan tanggal ini. Yap, tanggal ini adalah tanggal yang sama dengan peristiwa kecelakaan lift di film Pengabdi Setan 2 sehari sebelum tanggal 17 April, sebuah tanggal ‘ikonik’ dalam semesta film Joko Anwar.

Banyak properti dan detail di film ini yang juga merujuk pada semesta film Joko Anwar seperti logo berbentuk Kuda Laut di sabuk sipir Jefry, merujuk pada ‘Seahorse’ yang jika dianagramkan maka akan mengarah ke sekte ‘Herosase’ di film Pintu Terlarang.

Logo Kuda Laut juga mengingatkan kita pada judul file video saat karakter Jefry dalam film Pengepungan di Bukit Duri merekam pembunuhan yang ia lakukan. Lebih jauh lagi, bahkan banyak yang berteori bahwa karakter Jefry sebagai sipir bisa menjadi ‘what if’ yang tepat untuk karakter Jefry pada film Pengepungan di Bukit Duri jika ia terus hidup dan memiliki masa depan.

Pecinta teori film Joko Anwar tentu mengingat cover Majalah Maya di film Pengabdi Setan yang merujuk pada nama Maya sebagai pemeran utama di film Perempuan Tanah Jahanam, namun banyak yang luput di cover majalah itu terdapat beberapa headline berita dan salah satunya adalah; “Hutan Terlarang di Pedalaman Kalimantan”. Headline ini seperti menjadi benang merah yang sangat kuat sebagai penghubung dengan berita yang ditulis karakter Dimas di awal film Ghost In The Cell tentang pembalakan liar di hutan Kalimantan serta tempat asal setan yang ia bawa masuk ke Lapas.

Karakter Dimas yang diperankan Endy Arfian juga menarik untuk di bahas, sebagaimana yang kita tau, selain Arswendy Bening Swara yang nyaris tak pernah absen di film Joko Anwar, nama Endy Arfian juga kini mulai diperbincangkan sebagai aktor “langganan” Joko Anwar. Di film Ghost In The Cell ada satu dialog menarik yang diucapkan Endy Arfian/Dimas, yakni kesaksian bahwa dia punya “dua adik yang masih sekolah”, hal ini tentu mengingatkan dengan karakter Tony, peran Endy di Film Pengabdi Setan yang memang memiliki dua adik yang masih usia sekolah (Bondi & Ian).

Dimas yang bekerja sebagai wartawan di harian Jakarta Express tentu juga mengingatkan kita pada harian Jakarta Post, media tempat Joko Anwar bekerja sebagai wartawan dan penulis sebelum terjun ke dunia film menjadi penulis skenario dan sutradara.

Teori yang lebih liar lagi, adalah karakter Gambir di film Pintu Terlarang dikenal sebagai pria sakit jiwa yang tinggal di RSJ bernama Herosase, dalam lamunan dan ingatannya ia seringkali menciptakan realitas alternatif untuk kehidupannya, mulai dari menjadi pematung dan menjadi pastor, lalu jika ingin lebih liar, Gambir juga bisa bertransformasi menjadi Janus di film Kala atau Batara di film Pengabdi Setan. Nah, bukan tidak mungkin, Gambir juga bisa bertransformasi menjadi “Setan” di film Ghost In The Cell meskipun wujudnya tak pernah nampak.

Selain teori-teori yang sudah disebut, tentunya masih sangat banyak teori dan easter egg yang barangkali masih tertinggal dan terselip di film Ghost In The Cell. Menurut kalian, teori apalagi yang bisa dibahas?

Penutup

Joko Anwar memang tak pernah absen membuat publik penonton film Indonesia riuh membicarakan film karyanya. Ghost In the Cell menjadi bukti nyata bahwa legacy dan karya Joko Anwar akan selalu dikenang dan menjadi bahasan yang cocok untuk didiskusikan.

Maka semakin menarik dinanti karya-karya terbaru Joko Anwar seperti yang telah di tease olehnya pada bagian awal sebelum film Ghost In The Cell mulai. Selain itu, lagi-lagi Joko Anwar dianggap telah berhasil melakukan inovasi baru dalam directinh untuk menciptakan tontonan yang segar, sangar, brutal, tidak monoton, dan tentunya menyenangkan. Sungguh, film yang Fun like Heaven but Bloody like Hell.***

tuturpedia.com - 2026