Jakarta, Tuturpedia.com – Anggota Badan Legislasi DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Firman Soebagyo, menyoroti fenomena pergeseran nilai kebangsaan di kalangan generasi muda Indonesia yang dinilai semakin nyata di tengah derasnya arus globalisasi. Rabu, (20/04/2026).
Hal tersebut disampaikan Firman saat diskusi di Pontianak, Kalimantan Barat, di sela kunjungan kerja terkait RUU Satu Data. Ia mengungkapkan kegelisahan yang kini dirasakan banyak orang tua dan pendidik: lahirnya generasi cerdas secara akademik, namun mulai tercerabut dari akar budaya dan nilai kebangsaan.
“Anak-anak kita pintar, bahkan sekolah sampai luar negeri, tapi akar budayanya mulai copot. Mereka tidak lagi memahami gotong royong, bahkan tidak tahu mengapa Pancasila lahir sebagai dasar negara,” tegasnya.
Menurut Firman, persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan normatif semata. Ia menilai ada ketimpangan serius antara pendidikan global yang diterima generasi muda dengan pemahaman terhadap konteks lokal Indonesia.
Generasi muda, kata dia, dibekali kemampuan berpikir kritis dan individualisme, tetapi tidak diajarkan bagaimana mengintegrasikan nilai tersebut dengan budaya musyawarah dan kekeluargaan yang menjadi ciri khas bangsa.
“Terjadi benturan. Mereka melihat sistem sosial kita tidak efisien, padahal di dalamnya ada nilai kebersamaan,” ujarnya.
Tak hanya itu, Firman juga mengkritik metode pembelajaran sejarah yang dinilai terlalu dangkal. Ia menilai, pendidikan sejarah selama ini lebih menekankan hafalan kronologi, bukan pemahaman mendalam terhadap makna perjuangan bangsa.
“Yang penting itu bukan tanggalnya, tapi kenapa para pendiri bangsa memilih Pancasila. Di situ ada kompromi, ada perjuangan, bahkan ada darah,” tegasnya.
Di era digital saat ini, tantangan ideologi semakin kompleks. Firman menilai, nilai-nilai kebangsaan harus bersaing dengan derasnya arus informasi dan algoritma media sosial yang menawarkan kepuasan instan.
“Ini pertarungan narasi yang tidak seimbang. Pancasila butuh perenungan, sementara media sosial memberi kepuasan dalam hitungan detik,” katanya.
Meski demikian, Firman menolak anggapan bahwa generasi muda telah kehilangan nasionalisme. Ia justru melihat adanya bentuk nasionalisme baru yang diekspresikan dengan cara berbeda, seperti melalui isu kemanusiaan, keadilan sosial, hingga advokasi global berbasis teknologi.
“Mereka bukan tidak nasionalis. Nilainya masih ada, hanya tampilannya yang berubah,” jelasnya.
Firman juga menegaskan bahwa kemampuan global generasi muda merupakan aset strategis bangsa di era modern. Menurutnya, jika dulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing, kini “senjata” yang dibutuhkan adalah penguasaan teknologi, kecerdasan buatan (AI), serta pemahaman hukum dan ekonomi global.
Lebih jauh, ia memaparkan tiga skenario masa depan Indonesia. Skenario terburuk adalah lahirnya generasi pintar namun kehilangan “rasa Indonesia”. Skenario kedua adalah munculnya kesenjangan antara elite global dan masyarakat akar rumput yang dapat memecah bangsa.
Namun, ia optimistis skenario terbaik masih bisa dicapai, yakni terciptanya generasi yang mampu menyatukan kemampuan global dengan nilai lokal.
“Kita butuh generasi yang modern dalam alat, tapi tetap Indonesia dalam jiwa,” tegasnya.
Untuk itu, Firman menekankan pentingnya peran negara dalam menghadirkan pendidikan nilai kebangsaan yang lebih konkret dan relevan. Ia mendorong agar Pancasila tidak lagi diajarkan sekadar sebagai hafalan, melainkan sebagai alat analisis dalam kehidupan nyata.
Selain itu, ia juga mengusulkan program yang menghubungkan generasi muda dengan realitas sosial di daerah, terutama bagi mereka yang akan menempuh pendidikan di luar negeri.
“Jangan langsung dikirim ke luar negeri tanpa ‘rasa Indonesia’. Mereka harus mengalami kehidupan masyarakat agar punya empati,” ujarnya.
Di sisi lain, Firman mengingatkan generasi tua untuk tidak hanya menyalahkan, tetapi ikut membangun jembatan nilai bagi generasi muda.
Menutup pernyataannya, Firman menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada generasi muda, melainkan pada sistem yang belum mampu menjembatani nilai global dengan identitas kebangsaan.
“Generasi muda kita bukan kurang Indonesia. Mereka hanya belum dijemput. Kita terlalu sibuk menuntut, tapi lupa membangun jembatan,” pungkasnya.














