Blora, Tuturpedia.com – Polemik pembangunan dan rehabilitasi di SMAN 1 Randublatung, Kabupaten Blora, akhirnya mendapat klarifikasi langsung dari pihak sekolah. Setelah berbagai dugaan mencuat ke publik, termasuk soal tidak dilibatkannya komite sekolah dan minimnya sosialisasi kepada wali murid, Kepala Sekolah Harmoko angkat bicara. Jumat, (17/07/2026).
Proyek yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kemendikbud melalui APBN senilai Rp 2,3 miliar itu sebelumnya menjadi sorotan. Sejumlah pihak menilai prosesnya tidak transparan, bahkan disebut tidak melibatkan komite sekolah sebagai mitra strategis.
Namun, Harmoko menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ia menyebut seluruh tahapan pembangunan telah berjalan sesuai petunjuk teknis (juknis) yang berlaku.
“Kami sudah melakukan sosialisasi pada tanggal 19 Juni 2026 bersamaan dengan pembagian rapor kepada wali murid. Jadi kalau dikatakan tidak ada sosialisasi, itu tidak benar,” tegas Harmoko saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Kamis (16/7).
Ia menjelaskan, proyek revitalisasi yang dimulai sejak 22 Juni 2026 itu mencakup pembangunan 3 ruang kelas baru, rehabilitasi 3 ruang kelas, perbaikan ruang laboratorium IPA, ruang administrasi, serta fasilitas toilet siswa.
Lebih lanjut, Harmoko menekankan bahwa pelaksanaan proyek dilakukan secara swakelola, bukan melalui pihak ketiga atau kontraktor seperti yang sempat beredar di masyarakat.
“Semua dikerjakan melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) yang sudah kami bentuk sejak 5 Mei 2026. Tidak ada kontraktor, tidak ada pihak ketiga,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, proyek tersebut juga melibatkan sekitar 30 tenaga kerja lokal, termasuk tenaga terampil dari lingkungan sekitar sekolah. Hal ini, menurut Harmoko, menjadi bentuk pemberdayaan masyarakat setempat.
“Kami juga memberdayakan tenaga lokal, baik pekerja biasa maupun tenaga skill. Jadi isu bahwa proyek ini diborongkan ke pihak luar, itu tidak benar,” tambahnya.
Terkait kabar tidak dilibatkannya komite sekolah, Harmoko menyebut hal itu kemungkinan hanya akibat miskomunikasi. Ia memastikan bahwa ketua komite tetap masuk dalam struktur kepanitiaan P2SP.
“Ketua komite kami masukkan dalam susunan panitia. Mungkin hanya ada salah paham saja. Saya juga masih baru di sini, tapi hubungan kami baik,” tandasnya.
Dengan klarifikasi ini, pihak sekolah berharap polemik yang berkembang dapat diluruskan dan tidak menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat.














