Indeks

Di Balik Perisai Garuda: Jejak Tokoh-Tokoh yang Menitipkan Gagasan pada Simbol Pancasila

Tuturpedia.com – Tutur sejarah sering kali mengingat lambang negara sebagai satu kesatuan utuh. Namun di balik Garuda Pancasila yang setiap hari terpampang di ruang kelas, kantor pemerintahan, hingga dinding rumah warga, terdapat jejak pemikiran sejumlah tokoh yang ikut menyumbangkan gagasan tentang simbol-simbol yang kini melekat pada lima sila.

Banyak orang mengenal Garuda Pancasila sebagai karya rancangan Sultan Hamid II. Tetapi proses lahirnya lambang negara sesungguhnya merupakan perjalanan panjang yang melibatkan perdebatan, usulan, penyempurnaan desain, hingga pertemuan berbagai gagasan dari tokoh bangsa dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Pada awal 1950, pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) membentuk Panitia Lambang Negara untuk merumuskan identitas visual bangsa yang baru merdeka. Panitia tersebut berada di bawah koordinasi Sultan Hamid II dan melibatkan sejumlah nama penting seperti Mohammad Yamin, Ki Hajar Dewantara, Mohammad Natsir, R.M. Ng. Poerbatjaraka, serta M.A. Pellaupessy.

Dari forum itulah lahir berbagai usulan simbol yang kemudian ditempatkan pada perisai Garuda sebagai representasi nilai-nilai Pancasila.

Bintang: Cahaya Ketuhanan dalam Gagasan Mohammad Natsir

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, divisualisasikan melalui gambar bintang emas berlatar hitam.

Sejumlah sumber sejarah menyebut simbol bintang ini berasal dari usulan tokoh Masyumi, Mohammad Natsir. Bintang dipilih sebagai lambang cahaya yang menerangi kehidupan manusia sekaligus merepresentasikan nilai ketuhanan yang menjadi fondasi moral bangsa.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, simbol tersebut dianggap mampu menjembatani berbagai keyakinan tanpa mengutamakan satu agama tertentu. Bintang menjadi metafora bagi sumber cahaya yang menaungi seluruh warga negara.

Rantai: Ikatan Kemanusiaan dari Sultan Hamid II

Untuk sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, digunakan simbol rantai berwarna emas.

Simbol ini dikaitkan dengan gagasan Sultan Hamid II, tokoh yang juga merancang keseluruhan lambang Garuda Pancasila. Bentuk mata rantai yang tersusun dari lingkaran dan persegi melambangkan hubungan antarmanusia yang saling terhubung dan tidak terpisahkan satu sama lain.

Maknanya sederhana namun kuat: manusia hidup dalam jejaring sosial yang menuntut penghormatan terhadap martabat sesama.

Pohon Beringin: Simbol Persatuan dari Poerbatjaraka

Di sisi kanan atas perisai terdapat pohon beringin yang melambangkan sila ketiga, Persatuan Indonesia.

Simbol tersebut disebut berasal dari usulan RM. Ng. Poerbatjaraka, seorang filolog dan ahli bahasa terkemuka Indonesia. Pohon beringin dipilih karena memiliki akar yang menjalar luas dan tajuk yang rindang. Ia menjadi perlambang tempat bernaung bagi banyak orang yang berbeda latar belakang.

Di tengah keragaman suku, bahasa, dan budaya Indonesia, beringin menghadirkan pesan bahwa perbedaan tidak harus berujung pada perpecahan.

Kepala Banteng: Wajah Musyawarah Menurut Mohammad Yamin

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, diwakili oleh kepala banteng.

Menurut catatan sejarah, simbol ini diusulkan oleh Mohammad Yamin. Banteng dipilih karena dikenal sebagai hewan sosial yang hidup berkelompok. Karakter tersebut dianggap mencerminkan tradisi musyawarah yang menjadi ciri kehidupan masyarakat Indonesia.

Bukan kebetulan jika simbol ini kemudian menjadi salah satu gambar yang paling mudah dikenali masyarakat. Kepala banteng merepresentasikan gagasan bahwa keputusan terbaik lahir melalui pertemuan dan pertimbangan bersama, bukan kehendak satu orang.

Padi dan Kapas: Impian Kesejahteraan ala Ki Hajar Dewantara

Sementara itu, sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, divisualisasikan melalui padi dan kapas.

Gagasan tersebut dikaitkan dengan Ki Hajar Dewantara. Padi melambangkan kebutuhan pangan, sedangkan kapas merepresentasikan kebutuhan sandang. Keduanya menjadi simbol kemakmuran dan kesejahteraan yang seharusnya dapat dinikmati seluruh rakyat Indonesia.

Makna ini sejalan dengan pandangan Ki Hajar Dewantara yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan bangsa, bukan sekadar objek kebijakan negara.

Garuda yang Menyatukan Segalanya

Meski setiap simbol memiliki pengusul yang berbeda, keseluruhan desain lambang negara dirancang dan disusun oleh Sultan Hamid II melalui proses panjang yang melibatkan diskusi dengan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, serta anggota panitia lainnya. Rancangan itu kemudian mengalami beberapa kali penyempurnaan sebelum resmi diterima oleh pemerintah RIS pada Februari 1950.

Sejarah juga mencatat bahwa Soekarno meminta perubahan pada bagian kepala Garuda dengan menambahkan jambul agar tampil lebih menyerupai elang rajawali khas Nusantara. Beberapa elemen lain, termasuk posisi cakar dan pita semboyan Bhinneka Tunggal Ika, turut disempurnakan sebelum menjadi bentuk yang dikenal saat ini.

Lebih dari tujuh dekade setelah diresmikan, Garuda Pancasila bukan sekadar lambang negara yang terpajang di dinding. Ia adalah hasil kompromi intelektual, perjumpaan gagasan, dan ikhtiar para pendiri bangsa untuk menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam bahasa visual yang dapat dipahami seluruh rakyat Indonesia.

Di balik gambar bintang, rantai, beringin, banteng, serta padi dan kapas, tersimpan kisah tentang bagaimana Indonesia dibangun, bukan hanya oleh satu orang, melainkan oleh banyak pikiran yang bertemu dalam satu cita-cita bersama.***

Penulis: Rizal Akbar Editor: Permadani T.
Exit mobile version