Blora, Tuturpedia.com — Gelaran Haul Sunan Pojok Blora kembali menjadi magnet spiritual sekaligus ekonomi yang luar biasa. Ribuan peziarah dari berbagai daerah memadati kawasan makam untuk berdoa dan mencari berkah. Namun di balik suasana religius tersebut, tersimpan cerita manis yang tak kalah menarik: geliat para pedagang kuliner tradisional yang kebanjiran rezeki, khususnya penjual jenang Kudus.
Salah satu peziarah, Mardiah, warga Jepara, mengaku selalu menyempatkan diri datang ke Blora setiap momentum haul berlangsung. Baginya, perjalanan religi ini bukan hanya soal doa, tetapi juga tradisi yang sudah mengakar, termasuk berburu oleh-oleh khas.
“Setiap ke sini pasti beli jenang. Sudah jadi kebiasaan dari dulu. Rasanya khas, manisnya pas, dan bisa dibawa pulang untuk keluarga di rumah,” ujar Mardiah saat ditemui di sela-sela keramaian. Sabtu, (11/07/2026).
Jenang Kudus memang menjadi primadona di tengah lautan pedagang yang menjajakan berbagai jenis makanan. Teksturnya yang legit, rasa manis dari gula jawa, serta taburan wijen yang gurih menjadikannya favorit lintas generasi.
Tak heran, lapak-lapak penjual jenang hampir selalu dipadati pembeli sejak pagi hingga malam hari.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Haul Sunan Pojok tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga membentuk tradisi sosial baru. Para peziarah seolah memiliki ritual tambahan: pulang dengan membawa buah tangan.
Siti Rukmana Seorang peziarah asal Tuban juga mengungkapkan hal serupa. Ia mengaku selalu membeli jenang dalam jumlah cukup banyak untuk dibagikan kepada tetangga.
“Kalau pulang tanpa jenang rasanya kurang lengkap. Ini sudah seperti simbol kalau kita benar-benar datang ke haul,” katanya.
Di sisi lain, para pedagang mengaku momentum ini menjadi puncak penjualan mereka dalam setahun. Banyak di antara mereka yang datang dari luar daerah dan hanya berjualan saat acara besar seperti ini.
“Alhamdulillah, setiap haul pasti ramai. Jenang yang kami bawa sering habis sebelum malam. Ini rezeki tahunan yang sangat kami tunggu,” ujar salah satu pedagang, dilokasi haul Sunan Pojok.
Lonjakan pengunjung yang signifikan membuat perputaran ekonomi di sekitar lokasi makam meningkat drastis. Dari pedagang makanan, minuman, hingga penjual cendera mata, semuanya merasakan dampak positif.
Perpaduan antara wisata religi dan wisata kuliner ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi lokal mampu memberikan efek berantai yang luas. Tidak hanya memperkuat nilai spiritual masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan.
Bagi Mardiah dan Siti Rukmana ribuan peziarah lainnya, Haul Sunan Pojok bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah perjalanan batin yang selalu ditutup dengan rasa manis—baik dari doa yang dipanjatkan, maupun dari jenang yang dibawa pulang.
