Jakarta, Tuturpedia.com — Badan Gizi Nasional (BGN) mulai memasang pagar lebih ketat dalam rantai pengadaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sistem marketplace khusus bahan baku tengah disiapkan untuk mempersempit ruang kecurangan di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Marketplace tersebut dirancang bukan sekadar sebagai platform belanja, tetapi menjadi instrumen pengawasan agar proses pengadaan lebih transparan dan dapat ditelusuri.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, penggunaan sistem digital diharapkan mampu mencegah praktik yang berpotensi merugikan program, mulai dari permainan harga, kualitas bahan baku hingga dugaan pemberian kickback.
“Jadi belanjanya itu menggunakan sistem sehingga tidak ada lagi hanky-panky, tidak ada lagi minta kickback, tidak ada lagi beli kualitasnya jelek tapi diaku tinggi,” ujar Sudaryono dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, Kamis (17/9/2026).
Pemasok Tak Bisa Sembarangan Masuk
BGN akan menerapkan konsep verified seller dalam marketplace tersebut. Artinya, pemasok bahan baku harus terlebih dahulu melalui proses verifikasi melalui asosiasi.
Langkah ini diharapkan dapat memperjelas siapa yang menjadi pemasok, bahan apa yang dipasok, serta bagaimana transaksi dilakukan. Dengan begitu, rantai pengadaan diharapkan tidak lagi menjadi ruang yang sulit diawasi.
BGN juga mendorong agar pembelian bahan baku mengutamakan pemasok lokal. Misalnya, SPPG di Mojokerto akan diprioritaskan membeli telur dari pemasok yang berada di wilayah tersebut.
Pembelian dari luar daerah baru diperbolehkan apabila kebutuhan bahan baku tidak tersedia atau tidak mencukupi dari pemasok lokal.
Tujuh Komoditas Jadi Perhatian
Selain membangun marketplace, BGN tengah mengkaji mekanisme khusus untuk tujuh komoditas utama yang menjadi bagian penting dalam penyediaan makanan MBG.
Ketujuh komoditas tersebut yakni:
🍚 Beras
🛢️ Minyak goreng
🍗 Ayam
🥚 Telur
🥩 Daging
🐟 Ikan
🥛 Susu
Menurut BGN, komoditas tersebut membutuhkan penanganan khusus karena berkaitan dengan kebutuhan protein hewani dan aspek keamanan pangan.
Artinya, persoalan pengadaan bukan hanya menyangkut harga murah atau mahal. Kualitas, keamanan, asal bahan, hingga pemasok juga menjadi bagian yang perlu dikontrol.
Target Akhir September atau Awal Oktober
BGN menargetkan marketplace pengadaan bahan baku MBG tersebut mulai tersedia pada akhir September atau awal Oktober 2026. Kehadiran sistem ini menjadi langkah penting untuk memperkuat pengawasan terhadap rantai belanja MBG. Terlebih, semakin luas pelaksanaan program, semakin besar pula rantai pengadaan yang harus diawasi.
BGN kini mencoba mengubah pola tersebut dengan sistem yang lebih terdokumentasi. Setiap pembelian diharapkan memiliki jejak transaksi yang jelas, pemasok yang terverifikasi, serta standar kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pesannya tegas: anggaran MBG harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, bukan menjadi ruang bagi permainan harga, kualitas bahan baku, maupun praktik kickback.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.
