Jakarta, Tuturpedia.com – Krisis yang melanda Pabrik Gula (PG) PT Gendhis Multi Manis (GMM) di Kabupaten Blora kini menjadi perhatian serius di tingkat nasional. Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB, Rina Sa’adah, secara langsung menyampaikan persoalan tersebut kepada Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, sebagai tindak lanjut dari aspirasi Paguyuban Petani Tebu Blora. Kamis, (11/06/2026).
Penyampaian ini dilakukan usai audiensi antara perwakilan petani tebu dengan Rina Sa’adah di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, petani mengeluhkan dampak besar dari terhentinya operasional PG GMM yang selama ini menjadi tulang punggung industri gula di Blora. Rabu, (10/06).
Rina menegaskan, persoalan yang terjadi bukan lagi sekadar gangguan teknis industri, melainkan telah berkembang menjadi krisis ekonomi masyarakat. Dampaknya dirasakan luas, mulai dari petani tebu, pekerja pabrik, buruh angkut, sopir, hingga pelaku usaha kecil yang bergantung pada aktivitas pergulaan.
“Persoalan di Blora membutuhkan perhatian serius pemerintah. Dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga masyarakat luas yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini,” ujar Rina.
Ia menjelaskan, berhentinya operasional pabrik memaksa petani mengirim tebu ke luar daerah. Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat akibat ongkos transportasi yang tinggi, sekaligus menurunkan kualitas dan rendemen tebu.
Akibatnya, pendapatan petani terancam merosot. Sebagai bentuk tanggung jawab dalam fungsi pengawasan DPR RI, Rina menyatakan akan terus mengawal persoalan ini melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Kementerian Pertanian, Perum Bulog, serta pihak terkait lainnya. Ia mendorong agar solusi konkret segera diambil secara cepat, terukur, dan berpihak kepada petani.
Sementara itu, Koordinator Audiensi Petani Tebu Blora, Exi Wijaya, mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Rina dalam membawa persoalan ini ke tingkat kementerian. Menurutnya, petani kini membutuhkan kebijakan nyata, bukan sekadar perhatian.
“Yang dibutuhkan petani hari ini adalah solusi konkret agar kami tidak terus menanggung kerugian akibat persoalan yang bukan kami sebabkan,” tegas Exi.
Hal senada disampaikan Ketua Paguyuban Petani Tebu Blora, Anton Sudibyo. Ia menilai langkah Rina Sa’adah menjadi sinyal positif bahwa suara petani mulai mendapat perhatian di tingkat nasional.
“Kami berharap perhatian ini segera diwujudkan dalam langkah nyata. Jangan sampai petani menjadi pihak yang paling dirugikan,” ujarnya.
Paguyuban Petani Tebu Blora pun mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis, termasuk memastikan penyerapan hasil panen, mempercepat perbaikan operasional pabrik, serta melindungi keberlangsungan ekonomi masyarakat yang terdampak.
Krisis PG GMM Blora kini menjadi ujian bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas sektor pergulaan nasional sekaligus melindungi nasib ribuan petani yang bergantung pada industri tersebut.














